Apa Saja yang Dilakukan Jamaah Haji saat Wukuf di Arafah?

0
16389

BincangSyariah.Com – Wukuf di Arafah merupakan pertemuan akbar umat Islam sedunia dalam ibadah haji. Wukuf termasuk rukun haji yang tidak bisa digantikan dengan dam (denda) atau sejenisnya. Oleh karena itu jamaah haji harus benar-benar memastikan bahwa tempat yang akan dipakai wukuf adaah bagian dari Arafah. Jika di luar Arafah, maka wukufnya tidak sah.  Jubair bin Muth’im r.a. meriwayatkan dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كُلُّ عَرَفَاتٍ مَوْقِفٌ وَارْفَعُوا عَنْ بَطْنِ عُرَنَةَ

“Seluruh Arafah adalah tempat wukuf, dan jauhilah tengah lembah Uranah”.  (HR. Ahmad).

Lembah Uranah itu lembah (wadi) yang letaknya berdekatan dengan masjid Namirah dari arah Mekkah, dan lembah bukan bagian Arafah. Dari hadis tersebut terlihat jelas bahwa Rasulullah mengingatkan kita untuk memperhatikan tempat wukuf di Arafah. Biasanya batas Arafah ditandai dengan papan-papan besar dan tinggi yang sudah terlihat dari kejauhan.

Setelah bermalan di Mina, Jamaah haji disunnahkan untuk bergegas menuju Arafah ketika matahari terbit pada tangal 9 Zulhijjah. Hal ini berdasarkan penjelasan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu:

فَلَمَّا كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ تَوَجَّهُوا إِلَى مِنًى فَأَهَلُّوا بِالْحَجِّ وَرَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَصَلَّى بِهَا الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ ثُمَّ مَكَثَ قَلِيلاً حَتَّى طَلَعَتِ الشَّمْسُ

Maka pada hari Tarwiyah mereka berangkat menuju Mina bertalbiyah haji, dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaiki kendaraan lalu salat di sana Zuhur, Ashar, Magrib, Isya dan Subuh, kemudian menunggu sebentar sampai matahari terbit. (HR. Muslim).

Disunnahkan memperbanyak bacaan talbiyah dan takbir dalam perjalanan menuju Arafah tersebut.  Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat ketika berangkat ke Arafah di pagi hari. Adapun bacaan talbiyah adalah sebagai berikut:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”

Sesampainya di Arafah, jamaah haji menempati tempat mereka yang telah disediakan. Adapun waktu untuk wukuf dimulai saat tiba waktu Zuhur dan berakhir dengan terbitnya fajar pada tanggal 10 Zulhijjah. Disunnahkan menjamak dan mengqashar salatnya pada tanggal 9 Zulhijjah. Sehingga jamaah haji bisa lebih lama berdoa dan berzikir pada hari itu, karena saat itu merupakan waktu terbaik untuk berdoa.

Pada hari itu, jamaah haji sebaiknya tidak berpuasa. Seperti halnya Rasulullah yang tidak berpuasa kala itu. Harapannya adalah bisa lebih fokus dan tidak terganggu selama di Arafah. Oleh karena itu, hendaknya jamaah haji menggunakan waktu berharganya di Arafah, bisa dengan membaca talbiyah, takbir, atau doa untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Para jamaah haji hendaknya tidak keluar dari Arafah hingga terbenam matahari. Petunjuk tersebut berdasarkan hadis dari Jabir tentang sifat wukuf Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَذَهَبَتِ الصُّفْرَةُ قَلِيلاً حَتَّى غَابَ الْقُرْصُ

Beliau masih terus wukuf sampai matahari tenggelam, warna kuning sedikit pergi dan bola matahari tidak kelihatan lagi. (HR. Muslim).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here