Apa Saja yang Bisa Dijadikan Sutrah Pembatas Saat Shalat?

0
220

BincangSyariah.Com – Sutrah adalah pembatas shalat yang diletakkan di depan tempat sujud yang berfungsi sebagai penghalang agar tidak dilewati oleh orang atau binatang.  Menurut ulama Syafiiyah, ada empat hal yang bisa dijadikan sutrah pembatas saat shalat.

Pertama, membuat sutrah pembatas dengan dinding atau tiang. Misalnya, dinding atau tiang masjid, mushalla, dan lain sebagainya.

Kedua, membuat sutrah pembatas dengan menancapkan tongkat, kayu dan lain sebagainya.

Ketiga, membuat sutrah atau pembatas dengan menghampar alas shalat, seperti sajadah, dan lainnya.

Keempat, membuat sutrah atau pembatas dengan garis panjang. Misalnya, membuat garis panjang di depan tempat sujud. (Baca: Hukum Memasang Pembatas Antara Jemaah Laki-laki dan Perempuan dalam Shalat Berjemaah?)

Menurut ulama Syafiiyah, keempat hal ini berlaku secara tertib atau berurutan. Artinya, jika masih bisa membuat sutrah dengan dinding atau tiang, maka tidak dianjurkan membuat sutrah dengan memancangkan tongkat atau menghamparkan sajadah, dan begitu seterusnya. Ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

ذَكَرَ الشَّافِعِيَّةُ لاِتِّخَاذِ السُّتْرَةِ أَرْبَعَ مَرَاتِبَ وَقَالُوا: لَوْ عَدَل إِلَى مَرْتَبَةٍ وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى مَا قَبْلَهَا لَمْ تَحْصُل سُنَّةُ الاِسْتِتَارِ. فَيُسَنُّ عِنْدَهُمْ أَوَّلاً التَّسَتُّرُ بِجِدَارٍ أَوْ سَارِيَةٍ، ثُمَّ إِذَا عَجَزَ عَنْهَا فَإِلَى نَحْوِ عَصًا مَغْرُوزَةٍ، وَعِنْدَ عَجْزِهِ عَنْهَا يَبْسُطُ مُصَلَّى كَسَجَّادَةٍ، وَإِذَا عَجَزَ عَنْهَا يَخُطُّ قُبَالَتَهُ خَطًّا طُولاً، وَذَلِكَ أَخْذًا بِنَصِّ الْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَل تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ عَصًا فَلْيَخُطَّ خَطًّا، ثُمَّ لاَ يَضُرُّهُ مَا مَرَّ أَمَامَهُ

Artinya:

Ulama Syafiiyah menyebutkan empat urutan dalam membuat sutrah. Menurut mereka, jika membuat sutrah dengan urutan paling bawah sementara dia masih bisa membuat sutrah dengan urutan sebelumnya, maka dia tidak mendapat kesunnahan membuat sutrah.

Menurut mereka, pertama disunnahkan membuat sutrah dengan dinding atau tiang. Kemudian jika tidak tidak mampu, maka membuat sutrah dengan tongkat yang dipancangkan. Jika tidak mampu, maka menghampar alas shalat seperti sajadah. Jika tidak mampu, maka membuat garis panjang di depannya.

Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Abu Dawud, Nabi Saw bersabda; Jika salah seorang di antara kalian shalat, maka jadikanlah sesuatu berada di hadapannya. Jika tidak ada apa-apa, maka tancapkanlah tongkat. Jika tidak ada tongkat maka buatlah garis. Setelah itu apa saja yang lewat di depan dia tidak akan membatalkannya.

Baca Juga :  Salat Jenazah, Apakah Alfatihah Harus Dibaca setelah Takbir Pertama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here