Apa itu Bersuci?

0
10246

BincangSyariah.Com – Dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji, disebutkan bahwa thaharah secara bahasa adalah al-Nadzafah, yaitu bersih dari kotoran yang tampak maupun yang tidak tampak. Sedangkan pengertian thaharah secara syar’i adalah mengerjakan sesuatu yang dapat membolehkan melaksanakan shalat dan ibadah lainnya.

Para ulama fiqih mempunyai perhatian yang sangat besar terkait thaharah ini. Dalam kitab-kitab fiqih, pembahasan pertama hampir semuanya dimulai dari topik ini. Sebab thaharah merupakan syarat pertama dan utama dalam melakasanakan ibadah. Suatu ibadah tidak dinilai sah secara syariat apabila thaharah-nya belum terpenuhi.

Terdapat banyak dalil, baik Alquran maupun hadis, berkenaan dengan pentingnya thaharah dalam ibadah atau lainnya. Di antaranya adalah firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 222;

اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan dia mencintai orang-orang yang bersuci.”

Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abi Malik al-Harits bin ‘Ashim al-‘Asy’ari, dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda;

 الطَّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَان

Kesucian itu sebagian dari iman.”

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Umar, dia berkata; saya mendengar Nabi Saw. bersabda;

لَا يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طَهُوْرٍ وَلَا صَدَقَةً مِنْ غُلُوْلٍ

“Allah tidak menerima shalat yang tanpa bersuci, begitu pula sedekah dari hasil korupsi”.

Selanjutnya, seperti telah disebutkan di atas bahwa thaharah adalah bersih dari kotoran baik tampak atau yang tidak tampak. Dalam fiqih, kotoran yang tampak identik dengan najis, sedangkan yang tidak tampak identik dengan hadats. Sehingga dengan demikian, thaharah dibagi dua; thaharah dari najis atau dikenal dengan istilah thaharah hakiki, dan thaharah dari hadast atau dikenal dengan istilah thaharah hukmi.

Thaharah dari najis artinya bersihnya anggota badan, tempat, atau pakaian dari najis saat melaksanakan ibadah, terutama shalat. Shalat seseorang dinilai tidak sah secara syariat apabila bagian anggota badan, tempat, atau pakaian terkena najis.

Adapun maksud thaharah dari hadast adalah bersih dan suci dari hadast kecil maupun besar. Secara fisik, wujud kotoran dalam jenis thaharah dari hadast ini tidak tampak. Meski begitu belum tentu dinilai bersih dan suci secara hukum. Seseorang yang bangun tidur, boleh jadi dia tidak terkena najis di bagian anggota badannya, namun dia tidak boleh melaksanakan shalat sampai wudhu terlebih dahulu. Boleh jadi orang yang keluar mani bersih secara fisik karena sudah mencuci bersih maninya, akan tetapi dia tidak boleh melaksanakan shalat sebelum mandi janabah atau mandi besar terlebih dahulu.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here