Apa Hukum Istinja Setelah Kentut?

1
31

BincangSyariah.Com – Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa ketika kita buang hajat dan kencing, maka kita wajib beristinja atau bersuci dengan mengunakan air atau batu. Namun bagaimana dengan istinja setelah kentut, apakah juga diwajibkan ?

Menurut para ulama empat madzhab, tidak perlu beristinja’ karena keluar kentut. Bahkan menurut ulama Hanafiyah, beristinja’ karena keluar kentut termasuk perbuatan bid’ah yang diharamkan. Begitu juga haram menurut Imam Al-Qalyubi, salah satu ulama dari kalangan Syafiiyah, karena beristinja’ sebab keluar kentut termasuk perbuatan ibadah yang rusak.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

لاَ اسْتِنْجَاءَ مِنَ الرِّيحِ صَرَّحَ بِذَلِكَ فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ الأْرْبَعَةِ فَقَال الْحَنَفِيَّةُ: هُوَ بِدْعَةٌ، وَهَذَا يَقْتَضِي أَنَّهُ عِنْدَهُمْ مُحَرَّمٌ، وَمِثْلُهُ مَا قَالَهُ الْقَلْيُوبِيُّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ، بَل يَحْرُمُ، لأِنَّهُ عِبَادَةٌ فَاسِدَةٌ

Tidak ada istinja’ karena keluar kentut. Ini ditegaskan oleh ulama fiqih empat madzhab. Ulama Hanafiyah berkata; Beristinja’ karena keluar kentut adalah perbuatan bid’ah. Ini menunjukkan bahwa menurut mereka, beristinja’ karena keluar kentut adalah haram. Begitu juga menurut Imam Al-Qalyubi dari kalangan ulama Syafiiyah, bahkan hal itu haram karena termasuk perbuatan ibadah yang rusak.

Sementara menurut ulama Malikiyah dan Syafiiyah, beristinja’ karena keluar kentut hukumnya tidak haram, namun hanya makruh. Meskipun tempat keluarnya kentut basah, menurut ulama Syafiiyah, tetap tidak perlu untuk melakukan istinja’. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

وَيُكْرَهُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ. قَال الدُّسُوقِيُّ: لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيْسَ مِنَّا مَنِ اسْتَنْجَى مِنْ رِيحٍ وَالنَّهْيُ لِلْكَرَاهَةِ. وَقَال صَاحِبُ نِهَايَةِ الْمُحْتَاجِ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ: لاَ يَجِبُ وَلاَ يُسْتَحَبُّ الاِسْتِنْجَاءُ مِنَ الرِّيحِ وَلَوْ كَانَ الْمَحَل رَطْبًا وَقَال ابْنُ حَجَرٍ الْمَكِّيُّ: يُكْرَهُ مِنَ الرِّيحِ إِلاَّ إِنْ خَرَجَتْ وَالْمَحَل رَطْبٌ

Dimakruhkan beristinja’ karena keluar kentut, menurut ulama Malikiyah dan Syafiiyah. Imam Al-Dasuqi berkata; Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw ‘Tidak termasuk bagian golongan kami orang yang beristinja’ karena keluarnya kentut. Larangan disini untuk hukum makruh. Pengarang kitab Nihayatul Muhtaj dari kalangan ulama Syafiiyah berkata; Tidak wajib dan tidak dianjurkan istinja’ karena keluar kentut meskipun tempat keluarnya basah. Ibnu Hajar Al-Makki berkata; Makruh istinja’ karena keluar kentut kecuali jika keluar dan tempatnya basah.

Berdasarkan keterangan di atas, dapat diketahui bahwa kita tidak perlu beristinja’ ketika kita kentut. Selain karena hal itu termasuk perbuatan ibadah yang rusak, juga termasuk perbuatan yang sia-sia karena istinja’ dilakukan untuk menghilangkan najis, sementara kentut tidak najis sehingga tidak perlu dibersihkan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here