Apa Dalil Takbiran di Hari Raya dalam Al-Qur’an dan Sunnah?

1
2506

BincangSyariah.Com – Barangkali tidak ada kemeriahan dalam merayakan hari raya Idul Fitri yang melebihi kemeriahannya di Indonesia. Di negara ini, sejak awal Ramadan, semarak menyambut hari raya sudah terasa. Semarak itu semakin kentara ketika memasuki minggu terakhir dari bulan Ramadan. Dalam hal ini adalah parade mudik yang membludak.

Gaung lebaran atau hari raya Idul Fitri baru benar-benar terasa ketika hari memasuki waktu Maghrib akhir bulan Ramadan yang akrab disebut dengan malam takbiran. Malam di mana kita sebagai umat Islam disunnahkan untuk mengagungkan Allah, dimulai sejak waktu Maghrib akhir bulan Ramadan hingga menjelang salat Idul Fitri.

Allah swt berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan puasa dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menjadi dalil disyariatkannya membaca takbir pada hari raya Idul Fitri. Allah swt menyeru umat Islam agar mengagungkan-Nya ketika telah menyempurkan bilangan puasa. Hal itu semata-mata sebagai bentuk syukur atas petunjuk yang diberikan kepada mereka.

Secara umum, takbir dibagi menjadi dua: takbir mursal (terlepas) dan takbir muqayyad (terbatas). Takbir mursal adalah takbir yang tidak hanya dibaca ketika selesai salat fardhu. Sedangkan takbir muqayyad adalah takbir yang hanya dibaca ketika selesai salat lima waktu. Takbir hari raya Idul Fitri tergolong takbir yang pertama. Karenanya, siapapun yang mendapati malam hari raya tersebut disunnahkan untuk membacanya kapanpun dan di manapun: di rumah, masjid, jalan, ataupun pasar, baik setelah salat ataupun tengah malam sekalipun.

Di Indonesia, aktifitas mengumandangkan takbir pada hari raya Idul Fitri telah menjadi tradisi. Tidak hanya dikumandangkan di masjid-masjid, tetapi masyarakat juga mengadakan apa yang diistilahkan dengan ‘takbir keliling’: semacam pawai bersama mengelilingi desa atau kota dengan mengumandangkan takbir bersama seraya diiringi tabuhan bedug.

Baca Juga :  Sahabat Nabi Ini Tetap Menyambung Silaturahmi Meski Beda Agama dengan Ibunya

Jika merujuk hadis, tampaknya cukup sulit mengidentifikasi bagaimana Nabi saw mengumandangkan takbir pada hari raya Idul Fitri. Namun terdapat banyak keterangan di mana para sahabat mengumandangkannya pada hari raya. Sebagai contoh adalah sahabat Abdullah bin Umar yang mengumandangkan takbir di Mina, sehingga warga Mina sampai di pasar-pasar ikut bergemuruh mengumandangkannya. Hal ini sebagimana dijelaskan oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam kitab al-Mughni dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari.

Apa yang dilakukan Abdullah bin Umar sangat mungkin sekali dalam rangka mengikuti jejak dan perilaku Nabi saw pada hari lebaran. Sebab, Ibnu Umar merupakan salah seorang sahabat yang paling banyak mengikuti jejak dan perilaku Nabi saw. Sampai-sampai apabila Nabi pernah berteduh di bawah suatu pohon, maka Ibnu Umar juga melakukannya. Namun, besar kemungkinan apa yang dilakukan olehnya ini terjadi pada malam hari raya Idul Adha, karena dilakukan di Mina.

Sementara itu, ada keterangan lain yang dijelaskan oleh Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm terkait dengan praktik takbir yang dikumandangkan oleh para sahabat Nabi saw. Di antaranya adalah Ibnu al-Musayyab, Urwah bin al-Zubair, Abu Salamah, dan Abu Bakar bin Abdurrahman yang mengumandangkan takbir pada malam Idul Fitri dengan mengeraskan suara. Kegiatan ini juga dilakukan oleh para sahabat yang lain hingga esok hari ketika salat Ied dilaksanakan.

Apa yang dilakukan oleh para sahabat dan umat Islam dengan mengumandangkan takbir pada malam lebaran bertujuan untuk menunjukkan syi’ar Islam dan mengingatkan umat Islam yang lain agar ikut mengumandangkannya. Tentu saja apa yang dilakukan oleh para sahabat ini berdasarkan tuntunan dan petunjuk dari Nabi saw, karena tingkah lakunya tidak lepas dari arahan beliau. Kendati tidak ada keterangan jelas yang menyebutkan apakah Nabi saw pada malam lebaran bertakbiran, tapi apa yang dilaksanakan para sahabat menunjukkan bahwa hal tersebut berasal dari Nabi, bukan mereka yang mengada-ada atau membuat-buat.

Baca Juga :  Hukum Menggunakan Jasa Penerjemah dalam Menyampaikan Khutbah Jumat

Mengenai redaksi takbir, terdapat beberapa versi takbir yang dikumandangkan oleh umat Islam, baik yang pendek maupun panjang. Yang umum dipakai adalah:

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

Semua versi takbir itu pada intinya mengikrarkan satu hal: yakni tentang kebesaran Allah swt. Bahwa hanya Allah-lah Dzat Yang Maha Besar di semesta raya ini. Tiada Tuhan selain-Nya.

Ikrar ini harus selalu diresapi dan dihidupi oleh setiap Muslim, agar ia selalu mengerti posisi dan keberadaannya sebagai seorang hamba. Ketika seseorang benar-benar berikrar atas kebesaran Allah, maka ia akan menyadari bahwa seluruh makhluk, termasuk dirinya, adalah kecil dan lemah.

Itulah esensi daripada bertakbir. Karenanya, sungguh tidak pantas ketika ada seorang Muslim yang bertakbir, namun dalam dadanya masih terdapat perasaan sombong kala itu. Sebagaimana pula tidak pantas manakala acara takbir keliling dinodai dengan konvoi kendaraan bermotor dengan mengencangkan suara sekeras-kerasnya atau perilaku-perilaku lain yang tidak layak, yang mencerminkan kesombongan atasnya. Hal semacam ini mencederai esensi dan nilai bertakbir di hari raya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here