Apa Arti Beriman Kepada Allah? Ini Kata Syekh Nawawi al-Bantani

0
136

BincangSyariah.Com – Apa arti beriman kepada Allah ? Mungkin diantara kita masih ada yang menanyakan hal ini. Para ulama punya banyak penjelasan yang berbeda-beda tentang arti beriman kepada Allah meski muaranya sama, yaitu mengesakan Allah. Ini yang disebut tauhid dalam ajaran Islam.

Para ulama juga menulis aneka tulisan tentang keimanan ini, dari yang sangat sederhana hingga begitu rumit karena disertai dengan perdebatan terkait makna tauhid tersebut. Salah satu kutipan yang ingin kami hadirkan kali ini adalah penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani, salah seorang ulama besar Nusantara di Mekkah pada abad 19. Pernyataan beliau tentang apa arti beriman kepada Allah itu tersebut dalam kitab Qathr al-Ghayts Syarh Masaail Abi Laits, sebuah penjelasan terhadap kumpulan tanya jawab tentang persoalan akidah ulasan Abu Laits as-Samarqandi.

Ketika menjelasan tentang apa itu beriman kepada Allah, Syekh Nawawi al-Bantani mensyarahkan pertanyaan yang disusun Abu Laits, “Jika engkau ditanya, apa maksud dari beriman? Maka jawabnya, “beriman adalah wujud dari mengesakan Allah.” Kemudian Syekh Nawawi menjelaskan lebih jauh perwujudan dari mengesakan Allah tersebut,

وحدّ التوحيد عند علماء الكلام إفراد المعبود بالعبادة مع اعتقاد وحدته ذاتًا وصفات وأفعَالًا ويقال أيضا هو اعتقاد ما يجب لله ورسله وما يجوز وما يستحيل. وأما عند أهل التصوف فهو أن لا يرى إلا الله تعالى بمعنى أن كل فعل وحركة وسكون واقع ذلك في الكون فمن الله تعالى وحده لا شريك له لا يرون لغيره تعالى فعلًا أصلا وقد يراد بالإيمان علامته كقوله صلى الله عليه وسلم لقومٍ من العرب: قدموا عليه صلّى الله عليه وسلّم “أتدرون ما الإيمان بالله تعالى وحده” فقالوا: “الله ورسوله أعلم” فقال صلّى الله عليه سلّم: “شهادةً أن لا إله إلا الله وأنّ محمّدًا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وصوم رمضان وأن تعطوا من المغنم الخُمُس”

Baca Juga :  Ini Petaka bagi yang Biasa Meninggalkan Shalat Ashar

Dan definisi tauhid menurut ulama ilmu kalam adalah menunggalkan Tuhan yang disembah dengan keyakinan penuh tentang Keesaan Dzat, Sifat, dan laku-Nya. Definisi lain adalah apa yang wajib ada pada Allah dan Rasul-Nya, yang boleh dan yang mustahil. Secara definisi mengesakan Allah menurut para sufi adalah tidak melihat apapun di alam semesta ini melainkan Allah Swt. Artinya, bahwa seluruh aktivitas, gerak, dan diamnya yang terjadi di alam semesta ini seluruhnya sumbernya hanya Allah semata tidak ada yang menyeketui-Nya. Bertauhid juga berarti berpandangan bahwa tidak ada yang benar-benar berbuat di dunia ini melainkan bagian dari perbuatan Allah. Terkadang maksud iman itu (dijelaskan dengan) tanda-tandanya. Seperti sabda Nabi Saw. kepada sekelompok orang Arab yang mendatangi Nabi Saw., “kalian tahu apa maksud hanya beriman kepada Allah Swt semata?” Sekelompok orang Arab tadi berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui” Rasulullah kemudian bersabda: “(beriman itu adalah) bersaksi bahwa tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan memberikan seperlima (kepada bayt al-Mal) dari harta rampasan perang.” (h. 14)

Dari kutipan diatas, kita dapat mengambil sejumlah faidah. Diantaranya adalah, mengesakan Allah adalah berkeyakinan penuh hanya Allah yang patut disembah dan Allah itu Esa dalam makna apapun. Artinya, seperti yang disebutkan oleh para sufi, bahwa hakikat-Nya seluruh gerak dan diam di alam semesta ini seluruhnya adalah bagian dari kekuasaan Allah. Ini bukan berarti orang hanya berdiam saja lalu berkata “ini kan bagian dari kekuasaan Allah” atau orang yang bertindak banyak lalu berkata “ini murni hasil pekerjaanku tidak ada kekuasaan Allah”. Kedua ungkapan itu tidak tepat, karena meyakini keesaan Allah itu maka terus bertindak dengan keyakinan bahwa ikhtiar manusia adalah bagian dari ke Maha Kuasaan Allah, dan Kekuasaan Allah juga jelas melampaui apa yang bisa diupayakan manusia. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here