Anjuran Menyantuni Anak Yatim di Hari Raya Idulfiri

0
1943

BincangSyariah.Com – Salah satu yang dicontohkan oleh Rasulullah pada hari raya Idulfitri adalah menyantuni anak yatim. Kisah yang terjadi di Madinah menorehkan banyak hikmah untuk umat muslim semua. Pada suatu pagi di hari raya Idulfitri Rasulullah merayakan lebaran dengan mengunjungi rumah-rumah kaum muslim guna mendoakannya. Hal seperti itu jelas membahagiakan umatnya.

Pada hari itu semuanya merasa gembira dan bahagia, serta memakai baju lebarannya. Anak-anak bermain sambil berlari-lari kesana kemari. Namun ada satu gadis kecil yang terlihat bersedih dan tidak bermain bersama anak kecil lainnya. Rasulullah bergegas menghampirinya.

Gadis kecil tersebut tidak memakai baju lebaran seperti anak kecil lainnya. Gadis tersebut justru memakai baju tambal-tambal dan sepatu yang telah using. Gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya, lalu menangis tersedu-sedu. Rasul kemudian meletakkan tangannya dengan penuh kasih sayang di atas kepala gadis kecil tersebut, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut: “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”

Gadis kecil itu terkejut. Tanpa berani mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang bertanya, perlahan-lahan ia menjawab sambil bercerita: “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakannya bersama orang tuanya dengan berbahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah saw. Ia bertarung bersama Rasulullah saw bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?”

Baca Juga :  Kisah Rasulullah Merayakan Hari Raya Idulfitri

Setelah Rasulullah mendengar cerita itu, seketika hatinya diliputi kesedihan yang mendalam. Dengan penuh kasih sayang ia membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata:

“Anakku, hapuslah air matamu… Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukatakan kepadamu…. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? …. Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuanmu…. dan Aisyah menjadi ibumu…. Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”

Setelah mendengar kata-kata sejuk tersebut, gadis kecil itu berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang kini sedang berada tepat di depannya. Beliau adalah Rasulullah, orang nomer satu yang selalu menjadi pelipur lara banyak orang. Gadis kecl tersebut sempat belum percaya jika ia baru saja mencurahkan kesedihannya dan menumpahkan segala gundah kepadanya.

Gadis yatim kecil itu sangat tertarik pada tawaran Rasulullah , namun entah mengapa ia tidak bisa berkata sepatah kata pun. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya perlahan sebagai tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah Saw menuju ke rumah. Hatinya begitu diliputi kebahagiaan yang sulit untuk dilukiskan, karena ia diperbolehkan menggenggam tangan Rasulullah yang lembut itu.

Sesampainya di rumah Rasulullah, wajah dan kedua tangan gadis kecil itu lalu dibersihkan dan rambutnya disisir oleh beliau. Semua memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil itu lalu dipakaikan gaun yang indah dan diberikan makanan, juga uang saku untuk hari raya. Lalu ia diantar keluar, agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya.

Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya: “Gadis kecil, apa yang telah terjadi? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”

Baca Juga :  Keutamaan Berzikir kepada Allah

Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab: “Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”

Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghiasinya pada hari Kiamat. Allah SWT mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barangsiapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga.“

Dari kisah Rasulullah di atas, kita bisa mengambil pelajaran jika pada hari raya Idulfitri tidak hanya bersilaturrahim dan saling memafkan. Melainkan juga menyantuni anak yatim, memberikan kebahagian kepadanya sehingga ia tidak merasa sedih dan meratapi nasib di hari nan penuh kemenangan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here