Anjuran Menggabungkan Berkumur dan Mengisap Air ke Hidung saat Wudhu

1
5282

BincangSyariah.Com – Berkumur merupakan salah satu sunah wudhu. Kesunahan berkumur dilakukan setelah mencuci kedua tangan dan sebelum mengisap air ke hidung. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. bersabda:

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ زَيْدٍ -فِي صِفَةِ اَلْوُضُوءِ- { ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ, فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ, يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثًا } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Abdullah Ibnu Zaid Radliyallaahu ‘anhu tentang cara berwudlu: Kemudian beliau memasukkan tangannya, lalu berkumur, dan mengisap air melalui hidung dengan satu tangan. Beliau melakukannya tiga kali. Muttafaq Alaihi.

Mushthafa Dib al-Bugha dalam At-Tahdzib Fi Adillati Matn Al-Ghayah Wa At-Taqrib mengatakan bahwa berdasarkan hadis ini disunahkan untuk mengumpulkan berkumur dan istinsyaq dengan tiga cidukan air, yaitu berkumur dari setiap cidukan kemudian istinsyaq, adalah sesuatu yang lebih utama daripada memisah di antara keduanya.

Menurut Ibnu al-Qayyim Al-Jauzi dalam Zaad al-ma’ad, hadis ini adalah hadis yang paling shahih tentang berkumur dan istinsyaq saat wudhu, dan tidak ditemukan hadis yang shahih mengenai anjuran untuk memisahkan keduanya. Sehingga dengan demikian, penggabungan berkumur dan istinsyaq merupakan himbauan Nabi kepada umatnya agar berhemat saat memakai air wudhu sekaligus peringatan agar tidak berlebih-lebihan saat menggunakannya.

Lebih detailnya Abu Abdillah Muhammad bin Qasim Al-Ghazi dalam Fathul Qarib menjelaskan bahwa kesunahan berkumur sudah bisa didapat dengan memasukkan air ke dalam mulut, baik diputar-putar di dalamnya kemudian dimuntahkan atau pun tidak. Namun jika ingin mendapatkan yang paling sempurna, maka dengan cara memuntahkannya.

Usai berkumur setelah itu dilanjutkan dengan melakukan istinsyaq atau memasukkan air ke dalam hidung. Mubalaghah (mengeraskan) dianjurkan saat berkumur dan istinsyaq.

Namun sebagaimana berkumur, istinsyaq boleh tidak dilakukan dengan keras atau mubalalaghah. Menurut al-Gazi, kesunahan istinsyaq sudah bisa didapat hanya dengan memasukkan air ke dalam hidung, baik ditarik dengan nafasnya hingga ke jalur hidung lalu menyemprotkannya ataupun tidak. Jika ingin mendapatkan yang paling sempurna, maka dia harus menyemprotkannya. Hal tersebut sebagaimana dianjurkan dalam hadis berikut.

Baca Juga :  Melihat Lawan Jenis dengan Syahwat, Apakah Kita Harus Wudu?

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ { إِذَا اِسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثًا, فَإِنَّ اَلشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ } مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu bangun dari tidur maka hendaklah ia mengisap air ke dalam hidungnya tiga kali dan menghembuskannya keluar karena setan tidur di dalam rongga hidung itu.” (HR. Bukhari & Muslim)

Dalam hadis di atas Rasul Saw. tidak menggunakan kata yastansyiq yang artinya menghirup, tapi menggunakan kata yastantsir yang berarti menghembuskan air. Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, dari pemilihan diksi yang diucapkan oleh Rasul Saw. menunjukkan bahwa mengisap air dan menghembuskannya kembali lebih baik daripada sekedar mengisap saja dan membiarkan air keluar mengalir sendiri. Sebab dengan menghembuskan air, maka rongga hidung menjadi lebih bersih.

Selain itu berdasarkan hadis tadi, anjuran menghembuskan air saat istinsyaq juga bertujuan untuk membersihkan setan yang bersarang di rongga hidung. Sebab hidung seperti cerobong yang langsung tersambung ke hati, jelas Ibnu Hajar, sehingga dikhawatirkan setan akan masuk ke hati dan menyebabkan was-was saat shalat atau mencegah seseorang dari berdzikir kepada Allah.

Jadi kalau tujuannya agar tidak was-was, maka setelah bangun tidur atau tidak istinsyaq tetap sunah dilaksanakan ketika wudhu, sebagaimana kesepakatan mayoritas ulama fiqih yang mengolongkannya ke dalam sunah-sunah wudhu. Wallahu’alam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here