Anjuran Membaca Shalawat dalam Majelis Kebaikan

0
5030

BincangSyariah.Com – Membaca shalawat kepada Nabi Saw. secara umum dibagi dua, shalawat mutlak dan muqayyad. Shalawat mutlak ialah anjuran membaca shalawat dalam setiap kesempatan tanpa dibatasi waktu tertentu atau amal perbuatan tertentu. Shalawat jenis ini sangat dianjurkan untuk dibaca sebanyak mungkin, semakin banyak dibaca semakin banyak keutamaan yang akan didapatkan.

Bahkan Nabi Saw. menjanjikan tempat yang istimewa di sisinya pada hari kiamat, bagi seorang yang banyak dan senantiasa bershalawat kepadanya. Dalam hadis riwayat al-Tirmidzi dari Anas bin Malik, dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda:

أولَى الناسِ بِيْ يوم القيامة أكثرُهم عليَّ صلاةً

“Orang yang paling dekat dariku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.”

Sedangkan shalawat muqayyad ialah anjuran membaca shalawat dalam kesempatan tertentu, waktu tertentu atau saat melakukan amal perbuatan tertentu. Shalawat jenis ini sifatnya beragam, ada yang wajib. Misalnya membaca shalawat pada saat tasyahud akhir. Ada pula yang sunah, misalnya membaca shalawat sesaat setelah mendengarkan adzan.

Sebagian kesempatan yang dianjurkan membaca shalawat ialah pada saat berada dalam suatu majelis. Ketika seseorang berkumpul dengan orang lain, baik untuk musyawarah, arisan atau lainnya, maka jangan lupa di sela-sela berkumpul tersebut untuk membaca shalawat kepada Nabi Saw. walaupun hanya sekali.

Hal ini dimaksudkan agar majelis tersebut tidak tergolong majelis yang merugi karena tidak mendapat curahan rahmat dari Allah. Al-Imam al-Tirmidzi meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Jika ada sekelompok kaum yang duduk bersama dan tidak mengingat Allah serta tidak memberi shalawat kepada nabi mereka maka itu akan menjadi bahan penyesalan baginya. Jika Allah berkehendak, Allah akan menghukum mereka, dan jika Allah berkehendak, Dia akan mengampuni mereka.”

Dalam kitab Ma Dza Fi Sya’ban, Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki mengutip perkataan Ibn al-Jauzi dalam kitabnya al-Bustan mengenai keutamaan bershalawat kepada Nabi Saw dalam suatu majelis ini.

Baca Juga :  Lebih Baik Diam Atau Membaca Shalawat Saat Nama Nabi Disebut Ketika Khutbah?

Ibn al-Jauzi berkata,”Jika suatu majelis di mana di sana tidak dibaca shalawat atas Nabi Saw para hadirin yang bubar dari sana meninggalkan bau lebih busuk daripada bangkai, maka tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang bershalawat dalam majelisnya mereka bubar dengan meninggalkan bau lebih wangi daripada lemari penjual minyak wangi. Ini karena Nabi Saw adalah yang terwangi di antara yang wangi, yang tersuci di antara yang suci. Jika Nabi Saw bersabda maka majelis penuh dengan bau misik.

Begitu pula majelis yang di dalamnya Nabi Saw disebut, tentu akan menebar dari sana bau wangi yang menembus tujuh langit hingga sampai ke ‘Arasy dan baunya akan akan dirasakan oleh seluruh makhluk Allah selain manusia dan jin. Sebab jika mereka, manusia dan jin, merasakan bau itu maka mereka terlena dengan kelezatannya hingga melupakan penghidupannya.

Tiada malaikat atau siapapun makhluk Allah yang merasakan bau itu kecuali memohonkan ampunan untuk orang yang hadir dalam dalam majelis dan ditulis untuk mereka kebaikan sebanyak makhluk itu seluruhnya, diangkat derajat mereka sebanyak jumlah makhluk tersebut baik hanya seorang dalam majelis atau seratus ribu orang. Setiap orang mengambil pahala sebanyak bilangan makhluk itu dan di sisi Allah lebih banyak lagi”.

Ketika hendak meninggalkan suatu majelis, dianjurkan pula untuk membaca shalawat kepada Nabi Saw. Hal ini sebagaimana telah dicontohkan oleh Sufyan bin Sa’id. Dari Utsman bin Umar, beliau mengatakan:

سَمِعْتُ سُفْيَان بن سَعِيد مَا لاَ اُحْصِيْ إِذَا اَرَادَ القِيَامَ يَقُوْلُ صَلَّى اللهُ وَمَلاَئِكُتُهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَاءِ اللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ

Aku mendengar Sufyan bin Sa’id berkali-kali sampai tidak bisa kuhitung, setiap beliau hendak meninggalkan majelis, beliau membaca: “Semoga shalawat Allah dan para malaikatnya tercurah untuk Muhammad dan kepada para nabi Allah dan malaikatnya.”

Demikian sebagian anjuran ketika berkumpul dan meninggalkan suatu majelis, yaitu bershalawat kepada Nabi Saw. Dan kita jangan sampai bosan bershalawat kepada Nabi Saw, karena Allah tidak akan bosan mencurahkan rahmat-Nya sampai kita sendiri yang bosan dengan meninggalkan membaca shalawat kepada Nabi Saw.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here