Anjuran Adzan dan Iqamat pada Telinga Bayi yang Baru Lahir

6
44637

BincangSyariah.Com – Anak merupakan anugerah dan titipan terbesar yang Allah Swt. berikan kepada sepasang suami istri. Calon ayah dan ibu anak yang masih dalam kandungan akan merasakan bahagia luar biasa saat kehadiran buah hati. Saat masih dalam kandungan, calon ayah dan ibunya sangat hati-hati menjaganya agar terlahir sempurna di muka bumi.

Saat buah hati lahir, ayah atau keluarganya dianjurkan untuk mengadzankan dan membacakan iqamat saat buah hati lahir seperti disebutkan dalam al-Adzkar karya Imam an-Nawawi. Imam an-Nawawi menyebutkan hadis anjuran adzan dan iqamat tersebut itu diriwayatkan dari Abu Rafi’ Ra.:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ (صلى الله عليه وسلم) أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَة ِرضي الله عنهم

Artinya: aku melihat Rasulullah Saw. mengadzankan seperti adzan shalat pada telinga (cucunya) Husein bin Ali ketika Fatimah Ra. melahirkan.

Dalam riwayat lain dari Husain bin Ali pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda demikian:

مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فأذَّنَ في أُذُنِهِ اليُمْنَى، وأقامَ في أُذُنِهِ اليُسْرَى لَمْ تَضُرّهُ أُمُّ الصبيان

Artinya: orang yang anaknya baru lahir, maka adzankanlah pada telinga kanannya, dan bacakanlah iqamat pada telinga kirinya. Dijamin anak itu tidak akan diganggu kuntilanak

Menurut pensyarah Sunan at-Tirmidzi dalam karyanya Tuhfatul Ahwadzi, hadis yang disebutkan pertama di atas itu daif, karena terdapat rawi bermasalah yang bernama ‘Ashim bin ‘Ubadillah. Namun demikian, bukan berarti kita tidak boleh mengamalkan anjuran ini. Hal ini karena hadis yang kedua yang diriwayatkan Imam al-Husain itu dapat menjadi penguat hadis sebelumnya. Oleh karena itu, Imam at-Tirmidzi menghukumi hadis yang pertama dengan kualitas hasan sahih.

Menurut Imam an-Nawawi, sebagian besar ulama mazhab Syafi’i menganggap sunah anjuran mengadzankan maupun membacakan iqamat pada telinga bayi saat lahir ke muka bumi. Adzan dan iqamat yang dibacakan pada telinga bayi itu sama persis saat adzan ataupun iqamat saat kita hendak shalat. Wallah a’lam.

Baca Juga :  Doa ketika Terjadi Bencana Alam

6 KOMENTAR

  1. Kalau tidak ada dalilnya apakah tidak boleh dilakukan? Misal berzakat dengan beras atau menunaikan haji dengan naik pesawat, atau azan menggunakan mikrophon?

  2. […] BincangSyariah.Com – Di kalangan masyarakat muslim Indonesia, adzan dan iqamah tidak hanya dikumandangkan untuk menandai masuknya waktu shalat wajib. Namun banyak hal-hal tertentu yang juga didahului adzan dan iqamah, di antaranya adalah ketika hendak menguburkan jenazah. Sebenarnya, bagaimana hukum mengumandangkan adzan dan iqamah ketika hendak menguburkan jenazah? (Baca: Anjuran Adzan dan Iqamat pada Telinga Bayi yang Baru Lahir) […]

  3. hadits kedua dari Husain bin ‘Ali itu malah derajatnya maudlu’, karena ada perawinya yg tertuduh pendusta dan memalsukan hadits.
    jadi tidak bisa dijadikan penguat hadits pertama dari Abu Rafi’. kesimpulan, hadits Abu Rafi’ statusnya tetap dla’if. wallaahu a’lam.

    • Siapa nama rawi yang Anda sebut maudlu’ itu? Ada di kitab apa? Kami mengikuti pendapat Imam al-Tirmidzi dalam kitab sunannya. Beliau berpendapat hasan sahih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here