Amalan Sunah bagi Orang Berpuasa yang Diajarkan Nabi

0
499

BincangSyariah.Com –Dalam setiap ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT pasti terdapat amalan sunah yang melengkapinya. Amalan sunah yang terdapat dalam suatu ibadah yang disyariatkan, selain berfungsi sebagai komplemen bagi ibadah itu sendiri, dia juga berfungsi sebagai sumber keberkahan bagi orang yang melaksanakannya, karena ia beriqtida kepada Rasulullah SAW dalam pelaksanaan amalan-amalan sunah tersebut.

Puasa Ramadan yang merupakan Ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT bagi kaum muslimin, memiliki beberapa komplemen yang bermanifestasi dalam amalan sunah yang diajarkan oleh baginda Rasulullah SAW.

Diantara amalan sunah yang diajarkan Rasulullah SAW, serta dianjurkan untuk dilaksanakan oleh orang yang akan berpuasa adalah makan sahur. Sebagai amalan sunah yang dianjurkan bagi orang yang berpuasa, makan sahur memiliki nilai tersendiri dihadapan Allah SWT. Bahkan dikatakan bahwasannya makan sahur adalah sumber keberkahan bagi orang yang hendak berpuasa pada siang harinya.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda:

عن أَنَس بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَة (رواه البخاري)

Yang artinya: Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik RA: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: laksanakanlah makan sahur, karena dalam makan sahur terdapat (banyak) keberkahan.  (HR. Bukhari).

Bahkan, karena keberkahan yang terdapat dalam makan sahur Rasulullah SAW mewanti-wanti umat-Nya, untuk tidak meninggalkan makan sahur walau hanya dengan seteguk air. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Abu Said al-Khudri, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ ، فَلاَ تَدَعُوهُ ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ. (رواه أحمد)

makan sahur merupakan suatu keberkahan maka janganlah kalian meninggalkannya, meski seseorang dari kalian hanya meneguk satu tegukan air, karena sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat, bersalawat kepada mereka yang bersahur (HR. Ahmad)

Selain keberkahan yang dijanjikan oleh Allah SWT melalui lisan Nabi-Nya, makan sahur juga berperan sebagai pembeda antara puasa yang dilaksanakan oleh kaum muslimin dan puasa yang dilaksanakan oleh para ahli kitab.

Baca Juga :  Ini Kondisi Diperbolehkan Salat Sambil Duduk

Hal ini termaktub dalam riwayat dari sahabat Amr bin al-Ash, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:

وَرُوِىَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ ». حَدَّثَنَا بِذَلِكَ قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ مُوسَى بْنِ عَلِىٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى قَيْسٍ مَوْلَى عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- بِذَلِكَ. قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ (رواه الترمذي).

Yang artinya: perbedaan antara puasa kita (umat islam) dengan puasanya para ahli kitab (kaum Nasrani dan yahudi) terdapat pada makan sahur (HR. al-Tirmidzi)

Amalan sunah lainnya, yang juga diajarkan Rasulullah SAW kepada orang yang akan berpuasa adalah mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka.

Hal ini sebagaimana keterangan dari Rasulullah SAW dalam sabda-Nya:

عَنْ أَبِي حَازِمٍ ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالاَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ. (رواه أحمد)

Yang artinya: diriwayatkan dari Abu Hazim dan Sahl bin Saad, Rasulullah SAW bersabda: bahwasannya umatku masih dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka puasa (HR. Ahmad).

Serta riwayat dari sahabat Zaid bin Tsabit yang menjelaskan dekatnya jarak waktu makan sahur mereka dengan adzan subuh:

عَنْ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَة  (رواه البخاري)

Yang artinya: diriwayatkan oleh anas RA, dari zaid bin Tsabit RA dia berkata, kami makan sahur bersama Rasulullah SAW, kemudian beliau mendirikan salat, akupun (anas) bertanya kepada (zaid bin Tsabit): berapa jarak antara adzan dan sahur, Zaid menjawab, kira-kira seukuran waktu untuk membaca lima puluh ayat Al-Qur’an. (HR. Bukhari)

Baca Juga :  Bolehkah Wudu Sebelum Istinja’?

dari keterangan yang disampaikan oleh Zaid bin Tsabit disebutkan bahwa jarak antara waktu makan sahur yang dilaksanakan Rasulullah SAW dengan terbitnya fajar shodiq adalah seukuran waktu pembacaan 50 ayat Al-Qur’an.

Hikmah di balik kesunahan mengakhirkan sahur, terdapat dalam fungsi sahur itu sendiri, yang sejatinya menjadi sumber kekuatan bagi orang yang akan berpuasa, ketika ia beraktifitas di siang harinya. Agar orang yang berpuasa tidak merasa lemas untuk melaksanakan aktifitasnya meskipun ia sedang berpuasa, sehingga puasa tak bisa dijadikan alasan sebagai ketidak-produktifannya dalam pekerjaan yang ia tekuni.

Sedangkan dalam menyegerakan berbuka, terdapat hikmah berupa pemeliharaan kondisi orang yang berpuasa, agar tubuhnya segera mendapatkan nutrisi kembali, setelah seharian melaksanakan ibadah puasa. Yang dengan hal tersebut kesehatannya akan tetap terjaga, sehingga ia dapat melanjutkan puasanya di hari berikutnya.

Amalan sunah selanjutnya, yang diajarkan Rasulullah SAW bagi orang yang berpuasa adalah memperbanyak doa ketika hendak berbuka, dan mendahului berbuka dengan kurma atau sesuatu yang manis.

Kesunahan memperbanyak doa sebelum berbuka, dilatar belakangi oleh status orang yang berpuasa, sebagai salah satu golongan manusia yang doanya dijamin tak akan ditolak oleh Allah SWT.

Hal ini sebagaimana terdapat dalam riwayat dari sahabat Abu Hurairah RA, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : ( ثلاثة لا ترد دعوتهم : الصائم حتى يفطر والإمام العدل ودعوة المظلوم ) (رواه ابن خزيمة وابن حبان)

Yang artinya: diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: tiga golongan yang doanya tak akan ditolak oleh Allah SWT, (yaitu) orang yang berpuasa hingga ia berbuka, orang yang didzalimi hingga ia terlepas dari kedzaliman yang menimpanya, dan orang yang melakukan perjalanan hingga ia kembali (HR. Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban)

Adapun hikmah di balik kesunahan berbuka dengan kurma atau sesuatu yang manis terdapat pada potensi makanan tersebut, yang mampu untuk segera mengembalikan energi yang berkurang karena seharian penuh berpuasa.

Baca Juga :  Etika Ketika Puasa Namun Diajak Makan

Dan Kesunahan berbuka dengan kurma atau sesuatu yang manis dilandasi oleh sebuah riwayat

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُطَبَاتٌ ، فَتَمَرَاتٌ ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ تَمَرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ. (رواه أحمد)

Yang artinya: dari sahabat Anas bin Malik yang menjelaskan Bahwasannya Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa kurma sebelum beliau shalat, dan jika tidak menemukan kurma, maka beliau berbuka dengan beberapa tegukan air (HR. Ahmad).

Yang perlu kita garis bawahi setiap amalan sunah yang diajarkan Rasulullah SAW dalam setiap ibadah yang disyariatkan, selain memiliki keutamaan dalam pandangan Allah SWT. Pasti memiliki manfaat tersendiri bagi orang yang melaksanakannya. Karena sejatinya Rasulullah SAW sebagai suri tauladan bagi kaum muslimin, tak akan mengajarkan mereka sesuatu, kecuali sesuatu tersebut bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri atau bagi orang-orang di sekitarnya. Wallahu ‘Alam Bisshowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here