BincangSyariah.Com – Kurban sebagai sarana ibadah mendekatkan diri kepada Allah Swt dan mengubungkan tali silaturahim diatur dalam surah al-Kautsar [108]: ayat 2 yang memerintahkan untuk melaksanakan penyembelihan sebagai bukti syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah swt.

Atas anjuran ini, sambutan antusias masyarakat muslim mulai dari lapisan masyarakat tradisional sampai kepada masyarakat modern begitu nampak jelas. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang melaksanakan perintah kurban ini.

Sebagai bentuk rasa syukur, ibadah kurban sangat diajurkan kepada orang yang mampu, bahkan mazhab Hanafi mewajibkan ibadah kurban bagi muslim yang mampu. Rasulullah Saw pernah mengatakan “Siapa saja yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan kurban, akan tetapi dia tidak melaksanakannya, maka jangan mendekat kepada tempat salat kami” (Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ibn Majah dari Abu Hurairah).

Pelaksanaan kurban tidak bisa kita lepaskan dari kisah ketaatan Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail juga Siti Hajar sebagai istri Nabi Ibrahim dan Ibu bagi Ismail. Selama pernikahan, Nabi Ibrahim dengan Siti Hajar telah lama menantikan kehadiran anak. Setelah penantian yang cukup panjang itu, barulah Nabi Ismail lahir.

Setalah penantian panjang, Allah Swt menguji ketaatan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar dengan memerintahkan kepadanya untuk hijarah ke kota Mekah yang pada saat itu Mekah bukan daerah yang dikunjungi orang-orang karena daerah ini adalah daerah gersang yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Setelah sampai di kota Mekah, Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail. Perintah ini pada awalnya diragukan oleh Nabi Ibrahim sebab ini tidak lazim, akan tetapi setelah perenungan perintah inipun dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim dengan terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Nabi Ismail.

Baca Juga :  Apa itu Tayamum?

Setelah mendapat persetujuan dari Nabi Ismail perintah inipun langsung dilaksanakan. Atas ketaatan ini Allah Swt mengabadikannya dalam Alquran dan menjadikan penyembelihan yang telah diganti Allah swt menjadi penyembelihan hewan dan menjadikannya sebagai ibadah yang sampai sekarang ini dilakukan oleh masyarakat muslim.

Kisah di atas menggambarkan bahwa ibadah kurban tidak hanya sebatas memberikan kesempatan kepada orang yang tidak mampu untuk memakan daging atau mencukupi kebutuhan gizinya atau hanya sebatas ibadah mendekatkan diri kepada Allah swt.

Akan tetapi, ada nilai-nilai yang sedikit diperhatikan masyarakat muslim, yaitu nilai musyawarah dan kasih sayang antara suami dengan istri dan orang tua dengan anaknya. Itulah mengapa pelaksanaan ibadah kurban tidak bisa dipisahkan dari keluarga. Hal ini sebab dalam kajian fikih, mazhab Maliki mengatakan bahwa sapi atau onta yang dikongsikan 7 dan 10 orang tersebut terdiri dari kerabat.

Siti Hajar dengan ketaatan kepada Allah Swt dan kepada suaminya Ibrahim melahirkan berkah yang besar baik secara ekonomis dan non ekonomis. Kota Mekah yang awalnya tidak ditemukan air sebagai sumber kehidupan atas ketaatan, kesabaran serta kasih sayang timbullah air yang dikenal dengan air zam-zam yang sampai sekarang airnya terus mengalir dan menjadi oleh-oleh yang dinantikan setiap pulang ibadah haji atau umrah.

Ibrahim sebagai ayah dan istri juga memberikan contoh yang baik kepada istrinya dan anaknya dengan menunjukkan dan mengajarkan ketaatan kepada Allah Swt dengan rela melaksanakan perintah untuk menyembelih Ismail dengan tidak melupakan kepentingan dari anaknya dengan cara memberikan kesempatan kepada anaknya untuk menyampaikan pendapat tetang perintah Allah swt tersebut.

Ismail sebagai anak juga menujukkan hal yang sama dengan menyampaikan pendapatnya yang rela untuk disembelih apabila itu perintah Allah swt dan sabar atas semuanya. Sedangkan untuk zaman sekarang ini Allah swt telah menggantikan pengorbanan manusia dengan penyembelihan hewan kurban.

Baca Juga :  Klasifikasi Niat Puasa

Gambaran keluarga nabi Ibrahim ini memberikan kepada kita tiga pelajaran penting dalam berkeluarga. Pertama, pentingnya menciptakan keluarga yang taat kepada Allah swt dengan menanamkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap anggota keluarga sehingga embodied dan tidak dapat dilepaskan dengan iming-iming apapun.

Kedua, pentingnya menciptakan komunikasi yang baik antara istri dengan suami, orang tua dengan anak dan begitu juga sebaliknya anak dengan orang tua. Sehingga miskomunikasi dapat diminimalisir sehingga perselisihan yang timbul dari komukasi dapat dihindari.

Ketiga, pelajaran terakhir yang penting untuk kita ambil adalah menanamkan nilai kasih sayang kedalam anggota keluarga kita. Sebab, tanpa kasih sayang hubungan harmonis tidak akan tercipta. Kasih sayang pula yang akan melahirkan karakter anak yang berakhlak karimah atau kecerdasan spiritual dan kecerdasan dalam pendidikan.

Ketiga pelajaran ini tidak mungkin kita pisahkan satu sama lain, karena inilah awal dari terciptanya keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah sebagaimana digambarkan oleh Allah swt dalam Q.S. al-Rum [30]: 22, yang pada akhirnya nanti akan menentukan nasib agama dan bangsa.

Mudah-mudahan nilai-nilai kekeluargaan yang terdapat dalam ibadah kurban ini dapat diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Amiin. Wallahu’alam bi al-showab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here