Satu Perilaku Ini Paling Berpengaruh dalam Timbangan Amal Manusia

0
1312

BincangSyariah.Com – Imam Al Ghazali pernah menjelaskan bahwa ketika saatnya tiba, perbuatan baik seberat biji dzarrah sekalipun akan ditempatkan dalam satu timbangan. Sementara, perbuatan jahat dalam satuan yang sama akan ditempatkan di lengan timbangan lain. Manusia akan dihadapkan pada keputusan neraca (mizan), yang mana setiap manusia  akan sangat khawatir dan gelisah untuk mengetahui lengan timbangan mana yang naik dan mana yang turun.

Ketika waktu berakhir, maka tak ada satupun yang bisa menemani hingga hari perhitungan kecuali amal kebaikan. Bahkan, mereka yang kita cinta, kelak tak kenal lagi siapa sosok kita. Pada saat itu pula, hanya amal yang akan berbicara tentang siapa kita, apa yang pernah kita perbuat dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Hingga akhirnya kita dipertemukan dengan neraca timbangan (mizan), yang barangsiapa timbangan kebaikannya berat maka ia akan berada dalam kehidupan yang memuaskan.

Sedangkan yang timbangan kebaikannya ringan, maka ia akan kembali ke neraka Hawiyah, neraka yang apinya sangat panas. Begitulah peringatan Allah yang teringkas dalam QS al Qariah ayat 6-11.

Setelah sejenak mengingat hari perhitungan, tentu kita menginginkan untuk tidak berada pada titik api yang panas. Oleh karena itu kita senantiasa menabung kebaikan amal dari waktu ke waktu. Namun ada satu hal yang bisa membantu kita untuk mendapatkan timbangan amal kebaikan yang berat, yaitu akhlak yang baik. Dalam hadis Nabi disebutkan:

ما من شيئ أثقل في الميزان من حسن الخلق

Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya di atas mizan dari pada akhlak yang baik (HR Abu Daud)

Akhlak yang baik adalah tanda kebahagiaan dunia dan akhirat.  Tidaklah kebaikan-kebaikan datang atau didapatkan di dunia dan di akhirat kecuali dengan berakhlak dengan akhlak yang baik. Dan tidaklah keburukan-keburukan ditolak kecuali dengan cara berakhlak dengan akhlak yang baik. (Baca: Ini Akhlak Mulia Nabi Muhammad yang Disebutkan dalam Kitab Taurat)

Baca Juga :  Alim yang Fasik atau Bodoh yang Taat?

Begitupun dengan timbangan kebaikan yang kelak akan menjadi berat ketika kita bisa berhiaskan akhlak yang baik.  Maka kedudukan akhlak dalam agama ini sangat tinggi sekali. Bahkan Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau mengatakan takwa dan akhlak yang baik. (Baca: Inilah Doa untuk Memohon Agar Akhlak Kita Selalu Baik)

Keterangan yang demikian didapatkan  dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ  الْفَمُ وَالْفَرْجُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi).

Alhasil, akhlak yang baik semakin jelas keistimewaannya. Selain bisa mendatangkan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan dunia, akhlak yang baik juga bisa memberatkan timbangan amal kebaikan di atas mizan dan merupakan salah satu yang disebut Rasulullah sebagai sesuatu ynag paling banyak dimasukkan ke dalam surga. Masih mau berfikir panjang lagi untuk membenahi akhlak yang kurang baik? Semoga tidak dan justru sebaliknya, kita diberi kekuatan dan hidayah untuk terus bisa menghiasi diri dengan akhlak yang baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here