Agar Mandi Janabah Sempurna, Lakukanlah Hal Ini

0
2269

BincangSyariah.Com – Mandi janabah adalah mandi secara ritual yang bertujuan untuk bersuci (thaharah), dalam hal ini mengangkat hadats besar. Mandi janabah ini mensyaratkan niat untuk membedakan dengan mandi biasa.

Dua penyebab terjadinya junub bagi seseorang, pertama adalah keluarnya mani dan yang lainnya adalah terjadinya hubungan badan dengan masuknya alat kelamin laki-laki (masuknya ujung kepala alat kelamin laki-laki) pada alat kelamin perempuan. Mandi janabah inilah yang menjadi batas bagi seseorang yang dalam keadaan junub untuk melaksanakan shalat. dalam QS An Nisa ayat 43 disebutkan:

یا أَیهَا الَّذِینَ آمَنُوا لَا تَقْرَ‌بُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُکارَ‌یٰ حَتَّیٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِی سَبِیلٍ حَتَّیٰ تَغْتَسِلُوا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.

Adapun tatacara untuk pelaksanaan mandi janabah adalah bisa memilih dengan cara tartibi atau cara iritiasi. Dimana cara yang tartibi adalah mandi yang dimulai dari kepala dan leher, selanjutnya adalah badan bagian kanan dan dilanjutkan badan  bagian kiri. Sedangkan carayang irtimasi adalah dengan menenggelamkan seluruh badan ke dalam air secara serentak dan juga seluruh badan harus berada dalam air.

Rasulullah berpesan dalam hadisnya, bahwa kita bisa  menyempurnakan mandi janabah memulainya denga mencuci kedua tangan, membersikan kemaluan, dan berwudlu sebelum melaksanakan mandi janabah. Selanjutnya adalah mengambil air dan memasukkan jari-jari tangannya pada sela-sela rambut.

Jika dirasa telah sempurna (semua kulit kepala dan rambut telah basah), maka siramlah kepala dengan air sebanyak tiga kali. Kemudian membersihkan seluruh tubuh dengan air dan diakhiri degan mencuci kaki. Tatara cara yang diterangkan Rasulullah tersebut termaktub dalam hadis ang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim.

Baca Juga :  Mengapa Malam Jumat Identik dengan Sunah Rasul?

Selain itu, Nabi juga berpesan untuk waspada pada waktu mandi janabah, dimana yang sering terjadi permasalahan adalah ketika seseorang belum sempurna dalam membasahi kulit kepala dan seluruh rambut di kepala, dalam artian masih ada sehelai atau dua helai rambut yang tidak terjamah oleh air. Mandi janabah yang belum sempurna itulah yang akan meyebabkan seseorang mendapatkan siksa kelak di akhirat. Sebagaimana hadis yang menjadi bahasan dalam kitab Targhib wa Tarhib:

قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ ، يَقْولُ : ” مَنْتَرَكَ مَوْضِعَ شَعْرَةٍ فِي جَسَدِهِ مِنْ جَنَابَةٍ لَمْ يُصِبْهَا الْمَاءُ ، فُعِلَ بِهِ كَذَا وَكَذَا فِي النَّارِ ” , قَالَ عَلِيٌّ : فَمِنْ ثَمَّ عَادَيْتُ رَأْسِي

Ali karramallahu wajhah berkata, Rasulullah bersabda: Barangsiapa membiarkan tempat tumbuh seutas rambut dari badannya ketika janabah dan tidak membasuhinya, maka dengan rambut itu ia disiksa begini- begini (siksa yang pedih) dalam neraka. Ali berkata: maka dari itu saya bermusuhan dengan rambut kepalaku, dan Ali selalu memotong rambutnya 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here