Adakah Batas Minimal Jumlah Jamaah Shalat Idul Fitri di Rumah?

0
5079

BincangSyariah.Com – Hari raya idul fitri tahun ini terasa berbeda sekali dengan hari raya idul fitri pada tahun-tahun sebelumnya. Wabah COVID-19 yang tak kunjung mereda membuat beberapa tradisi  yang lumrah dilakukan saat lebaran, semisal mudik dan silaturrahmi, terpaksa tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan pelaksanaan shalat idul fitri yang harus menyesuaikan dengan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran wabah ini. Salah satunya dengan cara shalat idul fitri di rumah masing-masing. (Baca: Panduan Lengkap Shalat dan Khutbah Idul Fitri di Rumah)

Pelaksanaan shalat id, baik idul fitri maupun idul adha, sebenarnya luwes dan fleksibel. Shalat ini sunnah dilakukan oleh setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, orang merdeka maupun hamba sahaya, dewasa maupun anak-anak, orang yang mukim (sedang ada di kediaman) maupun musafir (sedang bepergian), dan bisa dilaksanakan secara berjamaah maupun sendiri. Tempat pelaksanaannya pun bisa dilakukan di tanah lapang, masjid, mushalla, rumah, maupun tempat lainnya. Keterangan ini dapat kita baca dalam  kitab al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab(5/32) karya Imam Nawawi:

أَمَّا الأَحْكَامُ فَهَلُ تُشْرَعُ صَلَاةُ العِيْدِ لِلْعَبْدِ وَالـمُسَافِرِ وَالـمَرْأَةِ وَالـمُنْفَرِدِ فِيْ بَيْتِهِ أَوْ فِيْ غَيْرِهِ؟ فِيْهِ طَرِيْقَانِ (أَصَحُّهُمَا وَأَشْهَرُهُمَا) القَطْعُ بِأَنَّهَا تُشْرَعُ لَهُمْ.

Artinya:

(Hukum-hukumnya): Apakah shalat id disyariatkan bagi hamba sahaya, musafir, perempuan, dan orang yang melaksakannya sendirian di rumah atau tempat lainnya? Di sini terdapat dua padangan. Yang paling shahih dan terkenal adalah pendapat bahwa pasti  shalat id  berlaku kepada mereka

Oleh karena itu, shalat idul fitri yang dilaksanakan di rumah dalam rangka meminimalisasi penyebaran COVID 19 dihukumi boleh dan sah. Perlu dicatat bahwa kebolehan shalat  id di rumah bukanlah dalam rangka rukhshah (keringanan), melainkan masih termasuk azimah (hukum asal) dari shalat id itu sendiri.

Baca Juga :  Khutbah Idul Fitri di Rumah: Lewat Idul Fitri, Mari Kembali Mempererat Kesatuan Bangsa

Kemudian bila seseorang memilih melaksanakan shalat idul fitri secara berjamaah bersama keluarganya, apakah ada jumlah minimal peserta jamaahnya?

Menurut imam al-Ramli, pelaksanaan shalat idul fitri tidak sama dengan pelaksanaan shalat Jumat yang mensyaratkan jumlah jamaah minimal 40 orang. Tidak ada ketentuan khusus mengenai jumlah minimal peserta jamaah shalat idul fitri. Hal ini sebagaimana beliau tegaskan dalam kitab Nihayatul Muhtaj (2/286):

(وَ) تُشْرَعُ أَيْضًا (لِلْمُنْفَرِدِ وَالعَبْدِ وَالـمَرْأَةِ وَالـمُسَافِرِ) وَالخُنْثَى وَالصَّبِيِّ  فَلَا يُعْتَبَرُ فِيْهَا شُرُوْطُ الجُمُعَةِ مِنْ جَمَاعَةٍ وَعَدَدٍ وَغَيْرِهِمَا

Artinya:

Shalat id juga disyariatkan bagi munfarid (orang yang shalat sendirian), hamba sahaya, orang yang bepergian, transpuan, dan anak-anak. Maka dalam shalat id tidak perlu memenuhi syarat-syarat yang berlaku pada shalat jum’at, seperti dilaksanakan secara berjamaah dan ketentuan bilangan peserta serta syarat lainnya”

Sekadar diketahui bahwa pendapat imam Nawawi dan imam al-Ramli di atas mengikuti qaul jadid imam Syafi’i yang “merevisi” qaul qadim yang sebelumnya, yaitu shalat idul fitri atau shalat idul adha harus mengikuti syarat-syarat shalat Jumat seperti keharusan dilaksanakan secara berjamaah serta dengan jumlah orang tertentu (Raudhatut Thalibin, 1/577). Jadi bila permasalahan ini diqiyaskan dengan jumlah minimal peserta shalat jumat yang masih terdapat khilaf di kalangan ulama, maka hal ini akan menjadi qiyas ma’a al-fariq (analogi keliru).

Sementara itu, khutbah shalat idul fitri justru mensyaratkan adanya batasan jumlah minimal peserta yang mendengarnya. Dalam kitab al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah (1/322) dijelaskan bahwa ulama mazhab Syafi’i mensyaratkan keharusan khutbah shalat idul fitri didengar oleh minimal 40 orang. Adanya ketentuan jumlah minimal 40 orang ini mengikuti ketentuan jumlah minimal peserta khutbah jum’at. Sebab khutbah idul fitri atau idul adha memiliki syarat yang sama dengan khutbah jumat kecuali beberapa syarat seperti keharusan berdiri, suci, menutup aurat, dan duduk di antara dua khutbah.

Baca Juga :  Hukum Mengqadha Shalat Orang Meninggal          

Akan tetapi terlalu riskan tentunya untuk memenuhi syarat ini di saat protokol kesehatan melarang adanya perkumpulan orang. Namun bila syarat tersebut tidak dilaksanakan, maka tentunya tidak sah untuk melaksanakan khutbah.

Solusi dari hal itu adalah mengikuti 2 qaul qadim Imam Syafi’i, yaitu bolehnya khutbah dan shalat jumat – begitu pula dengan khutbah idul fitri – dihadiri oleh 4 orang atau 12 orang saja dengan satu orang di antara mereka menjadi imam. Pendapat ini boleh diamalkan sebab telah dikuatkan oleh ulama ashab mazhab Syafii seperti Imam al-Muzanni, Imam Ibn al-Mundzir, serta Imam Sayuthi (Hasyiyah I’anatut Thalibin, 2/70).

Tampaknya Komisi Fatwa MUI memilih salah satu qaul qadim ini, yaitu sah dengan 4 orang saja, dalam fatwa terbaru Nomor 28 Tahun 2020 Tentang Panduan Kaifiat Takbir dan Shalat Idul Fitri Saat Pandemi Covid-19. Salah satu isinya adalah jumlah jamaah yang shalat idul fitri di rumah minimal 4 orang, satu orang imam dan 3 orang menjadi makmum. Bila kurang dari 4 orang atau tidak yang berkemampuan untuk khutbah, maka shalat idul fitri tetap boleh dilakukan secara berjamaah namun tanpa pelaksanaan khutbah.

Solusi lainnya adalah tetap melaksanakan shalat idul fitri berjamaah di rumah, baik sendiri maupun berjamaah, tanpa diiringi dengan khutbah sesudahnya. Sebab khutbah idul tidak menjadi syarat sah shalat id, melainkan bersifat sunnah (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah, 1/321). Hal ini selaras dengan fatwa Haiah Kibar al-Ulama bi al-Azhar (Dewan Ulama Senior Al-Azhar) yang salah satu isinya menginstruksikan pelaksanaan shalat idul fitri di rumah tanpa memakai khutbah.

Waallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here