Adab-Adab Bershalawat pada Nabi Saw

0
7627

BincangSyariah.Com – Sesaat setelah Allah menurunkan surah Al-ahzab ayat 56 yang berisi perintah untuk bershalawat kepada Nabi Saw., seorang sahabat bernama Ubay bin Ka’ab langsung pergi mendatangi dan bertanya kepada Nabi Saw. seberapa banyak shalawat yang harus dibacanya.

Nabi Saw. menjawab tanpa memberi jumlah hitungan pasti dan menyerahkan sepenuhnya kepada Ubay bin Ka’ab sesuai kemampuannya. Nabi Saw. hanya memberikan kepastian bahwa semakin banyak bershalawat maka semakin banyak kebaikan yang akan diberikan Allah.

Bahkan dalam sebuah hadis riwayat al-Imam Ahmad dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata: “Ada seseorang bertanya kepada Nabi Saw. Wahai Rasulullah, bagaimana seandainya saya senantiasa bershalawat kepada engakau? Nabi Saw. menjawab; jika begitu maka Allah akan mencukupkan apa yang kamu inginkan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat.”

Abu al-Laist al-Samarqandi mengatakan, “Jika kamu ingin mengetahui keutamaan bershalawat daripada ibadah-ibadah yang lain, perhatikanlah firman Allah surah Al-ahzab ayat 56. Ketika Allah mewajibkan sebuah ibadah kepada hamba-Nya, Dia sendiri tidak mengerjakan ibadah tersebut. Akan tetapi ketika Allah memberi perintah untuk bershalawat kepada Nabi Saw, sebelum malaikat dan manusia bershalawat, Allah sudah bershalawat terlebih dahulu, memberikan rahmat ta’dzim kepada Nabi saw.”

Tentu membaca shalawat dan salam ini memiliki adab dan aturan tersendiri. Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban menyebutkan beberapa adab dan aturan ini. Salah satunya ialah ketika bersahalawat kepada Nabi Saw. hendaknya juga disertai dengan membaca salam kepadanya.

Shalawat dan salam ini harus diucapkan bersamaan, salah satunya tidak boleh ditinggalkan. Misal hanya bershalawat saja atau hanya membaca salam saja. Keduanya harus dibaca bersamaan, sesuai perintah Allah dalam surah Al-ahzab ayat 56 tersebut.

Baca Juga :  Hukum Mengiringi Jenazah dengan Bacaan Shalawat

Berkaitan dengan hal ini, al-Ghazali dalam kitab al-Ihya’ memuat kisah mimpinya seorang ulama’ bertemu Nabi Saw. Dia berkisah, Saya menulis hadis dan membaca shalawat di dalamnya namun tidak membaca salam. Kemudian saya bemimpi bertemu Nabi Saw. dan beliau menegur seraya berkata, “Kenapa kamu tidak menyempurnakan bacaan shalawat dengan bacaan salam?” Sejak saat itu saya tidak menulis hadis kecuali membaca shalawat disertai salam kepada Nabi Saw.”

Sebagian adab yang lain adalah mengeraskan suara ketika membaca shalawat dan salam kepada Nabi Saw. Membaca shalawat dan salam tidak cukup dengan hati, tapi juga melalui lisan dengan suara yang agak keras sehingga dirinya dan orang lain di sekitarnya mendengar bacaan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar orang lain termotivasi untuk juga membaca shalawat dan salam kepada Nabi Saw. Satu-satunya amalan yang tetap diterima oleh Allah meskipun riya’ hanya membaca shalawat dan salam kepada Nabi Saw.

Al-Imam al-Nawawi mengatakan, “Disunahkan bagi setiap pembaca hadis atau lainnya untuk mengeraskan suara ketika membaca shalawat dan salam terutama ketika nama Nabi Saw disebut. Dalam mengeraskan suara ini jangan sampai berlebihan.”

Sebagian ulama lain yang menganjurkan mengeraskan suara ketika membaca shalawat dan salam kepada Nabi Saw adalah al-Imam al-A’dzam Abu Bakar al-Khatib al-Baghdadi dan lainnya. Dan orang yang mendengar nama Nabi Saw disebut, maka wajib bagi dirinya untuk membaca shalawat dan salam kepada Nabi Saw.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here