Ada Empat Keringanan Bagi Orang Sakit Saat Ingin Melaksanakan Shalat

0
1355

Sholat sebagai tiang agama tentunya harus selalu dijaga dan tidak boleh ditinggalkan kapanpun dan dimanapun, karena kewajibannya selalu berada dalam setiap hidup kita disaat waktunya tiba. ia tidak mengenal, apakah kita sehat, sakit, lowong, sibuk,  dan dalam perjalanan atau tidak. Kita tetap harus selalu menjaganya tanpa alasan apapun.

Hanya saja melihat fakta yang ada entah dirumah sakit atau tidak, ternyata orang-orang yang sakit di negara kita kebanyakan tidak melaksanakan kewajiban shalat. Mereka mengganggap bahwa kewajiban shalat gugur dalam kondisi demikian bahkan mereka berkeykinan lebih baik diganti setelah sembuh nanti. Padahal kewajiban shalat dalam teks-teks keagamaan tetap berlangsung selama mereka masih kondisi berakal.

Hal diatas terjadi akibatketidak tahuan mereka terhadap konsep-konsep kemudahan yang ditawarkan oleh islam husus pada mereka yang sedang sakit. Maka dari itu, sebagai jawaban dari kondisi demikian, beberapa kemudahan dalam melaksanakan kewajiban shalat yang disuguhkan pada orang yang sedang sakit tersaji dalam beberapa poin berikut:

  1. Kemudahan dalam beban menjaga kesucian

Orang yang sakit sekiranya ia tidak mampu menggunakan air dalam bersuci dari hadats kecil atau besar ia diperbolehkan menggunakan debu sebagai pengganti dari air, sebagaimana termuat dalam firman Allah SWT. surah almaidah ayat 6. Jika masih belum mampu bertayamum maka ia diperkenankan shalat semampunya. Begitupun kesucian badan pakaian, dan tempat. Jika tidak mungkin dihilangkan dengang air atau alat lainnya maka diperkenankan melangsungkan shalat apa adanya tanpa harus meninggalkan shalat, sesuat dengan Sabda Nabi Muhammad SAW. yang berbunyi:

إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ماستطعتم  – رواه البخاري

“Jika kalian disuruh mengerjakan suatu perintah maka lakukanlah sebagaimana kemampuan kalian”

  1. Gugurnya kewajiban menghadiri shalat jumat
Baca Juga :  Tata Cara Qunut Subuh Beserta Bacaannya

Sholat Jum’at sebagai ibadah ritual-sosial tentunya berbeda dari sholat lima waktu. Kewajiban dalam melaksanakannya tidak berlaku umum. Ia hanya diwajibkan bagi laki-laki saja, tidak untuk perempuan. Bahkan kewajibannya bisa digugurkan oleh laki-laki yang sedang sakit dan musafir sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.:

قال النبي محمد صلى الله عليه وسلم : من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فعليه الجمعة يوم الجمعة إلا على مريض أومسافر أو امرأة أوصبي أو مملوك – رواه الدارقطني 2-305

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka diwajibkan atasnya melaksanakan sholat jum’at, kecuali orang sakit, musafir, perempuan,anak-anak dan budak.”

 الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا إربعة :عبد مملوك أوامرأة أو صبي أو مربض – رواه أبو داود في سننه و صححه النووي في المجموع 4-483

“Malaksanakan shalat jum’at dengan berjama’ah merupakan kewajiban orang muslim kecuali budak, perempuan, anak-anak dan orang yang sakit.”

  1. Pengurangan dan pengalihan beban rukun shalat

Orang yang sedang sakit -berkat kemudahan yang diberikan oleh islam- boleh menunaikan kewajiban sholat sekalipun tidak sempurna sesui dengan tingkat ke-sakit-annya. Jika ia tidak mampu berdiri, boleh melaksnakannya dengan cara duduk. Jika duduk tidak bisa boleh dilaksanakan dengan cara berbaring disertai gerakan yang menandakan perpindahan dari rukun kerukun sebagai mana sabda Nabi Muhamad SAW. berikut:

عن عمران بن حصين قال النبي صلى الله عليه وسلم صل قائما فإن لم تستطع فقاعدا, فإن لم تستطع فعلى جنب. – رواه البخاري 1248

“Dari ‘Imran bi Hushain Rasulullah SAW. bersabda: shalatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu maka dengan cara duduk. Jika duduk masih belum mampu maka shalatlah dengan cara berbaring.

  1. Kebolehan mengumpulkan (aljam’u) dua shalat dalam satu waktu
Baca Juga :  Tiga Perbuatan Sunah Sebelum Melaksanakan Salat Wajib

Kemudahan mengumpulkan dua shalat (al-jam’u bain as-sholatain) dalam satu waktu tidak hanya disugguhkan bagi orang yang sedang dalam perjalanan. Akan tetapi, orang yang sedang sakit juga diperbolehkan melaksanakan shalat dengan cara mengumpulkan dua shalat (al-jam’u bain as-sholatain) dalam satu waktu.

Baik berupa taqim (mengumpulkan shalat yang belum tiba waktunya pada waktu shalat yang sudah tiba waktunya) atau ta’khir (mengumpulkan shalat yang waktunya sudah tiba pada shalat yang waktunya belum tiba).

Contoh dari jama’ taqdim adalah mengumpulkan shalat Ashar pada shalat duhur dan shalat isya’ pada shalat maghrib. Sedang jika sebaliknya, mengumpulkan shalat duhur pada shalat asar dan shalat maghrib pada shalat isya’ dikatakan jama’ ta’khir.

Rasululllah SAW. bersabda:

حديث ابن عباس قا ل: جمع صلى الله عليه وسلم بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء بالمدينة في غير خوف ولامطر.  – رواه مسلم

“Rasulullah SAW. pernah mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu, yaitu antara duhur dan asar dan antar magrib dan isya’ dalam kondisi aman dan tanpa hujan”

ان عمر بن الخطاب جاء يوم الخندق بعدما غربت الشمس فجعل يسب كفار قريش, قال: يارسول الله ما كدت أصلي العصر حتى كادت الشم تغرب, قال النبي صلى الله عليه وسلم: والله ماصليتها. فقمنا إلى بطحان’ فتوضأ للصلاة وتوضأنا لها, فصلى العصر بعدما غربت الشمس ثم صلى بعدها المغرب – رواه البخاري ومسلم -596-631

“Umar bin Khattab, mengatakan pada Rasulullah bahwa ia belum melaksakan shalat asar sedangkan matahati nyaris terbenam. Rasul menjawab bahwa ia juga belum melaksanaknnya. Kemudian mereka berwudu’ dan melaksanakan shalat asar setelah matahari terbenam”



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here