Sepuluh Hari Terakhir di Bulan Ramadhan dan Cara Nabi Mengisinya

0
4637

BincangSyariah.Com – Di antara yang istimewa pasti terdapat yang teristimewa. Jika bulan Ramadan merupakan bulan istimewa di antara bulan-bulan lainnya, maka Ramadan memiliki hari-hari istimewa di antara hari-hari di dalamnya. Dan hari-hari tersebut adalah sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Secara umum keistimewaan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan terletak pada keberadaan malam Lailatul qadar “yang memiliki nilai lebih baik dari seribu bulan” pada salah satu malam dari hari-hari tersebut. Jika Rasulullah saw pada permulaan bulan Ramadan memiliki intensitas yang tinggi dalam beribadah, maka pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan, intensitas ibadah beliau meningkat berlipat-lipat. Hal itu dikarenakan keutamaan yang dimiliki oleh sepuluh hari terakhir bulan Ramadan tersebut.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ (متفق عليه)

Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwasannya “Rasulullah saw jika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, mengencangkan sarungnya, dan menghidupkan malam-malamnya, serta membangunkan keluarganya” (Muttafaq Alaih).

Sedangkan dalam riwayat lain, Aisyah ra berkata: “bahwasannya Rasulullah saw lebih intens melakukan ibadah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, jika dibandingkan dengan hari-hari lainnya” (HR. Muslim)

Secara garis besar, riwayat-riwayat dari Aisyah ra. mendeskripsikan kegigihan Rasulullah saw dalam mengisi sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dengan ibadah-ibadah kepada sang Khaliq, bahkan beliau saw juga turut mengajak keluarganya untuk menghidupkan malam-malam sepuluh hari terakhir tersebut. Semua itu, beliau lakukan karena pengetahuan beliau tentang betapa istimewanya sepuluh hari terakhir bulan Ramadan beserta malam-malamnya.

Dan, di antara ibadah-ibadah tertentu yang beliau laksanakan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan adalah ibadah iktikaf. Hal tersebut beliau lakukan sebagai usaha terbaik untuk meraih malam yang lebih baik dari seribu bulan (lailatulqadar).

Baca Juga :  Apakah Anak Hewan Kurban Termasuk Kurban?

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ..ِ (رواه مسلم)

Artinya: Diriwayatkan dari Aisyah ra, “Bahwasannya Rasulullah saw beritikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, hingga saat beliau wafat menghadap Allah Swt” (HR. Muslim)

Dalam rangka upaya meraih malam lailatulqadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk berusaha meraihnya di malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Karena dalam beberapa riwayat, dijelaskan bahwasannya lailatulqadar terdapat pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَيَقُولُ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخاري)

Artinya: Diriwayatkan oleh Aisyah ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda: “dapatilah lailatulqadar di malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan” (HR. Bukhari). Wallahu ‘Alam Bis Shawab.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here