Hakikat Kepribadian Seorang Muslim

BincangSyariah.Com – Bagaimana sebenarnya hakikat kepribadian seorang Muslim? Apakah sama dengan kepribadian orang-orang pada umumnya ataukah berbeda? Kalau berbeda, bagaimana penjelasannya?

Kepribadian adalah kata yang berasal dari kata “pribadi”. Kata tersebut berarti diri sendiri  atau bisa juga berarti perseorangan. Dalam bahasa Inggris ada istilah personality yang memiliki arti kumpulan kualitas jasmani, rohani, dan susila. Personality bisa membedakan seseorang dengan orang lain.

Kepribadian tidak terjadi secara begitu saja, tapi terbentuk dalam proses kehidupan yang panjang. Karena itulah ada banyak faktor yang terlibat dalam membentuk kepribadian seorang manusia. Kepribadian seseorang yang baik, buruk, kuat, lemah, sepenuhnya ditentukan oleh faktor yang memengaruhi pengalaman hidupnya.

Dalam buku Filsafat Pendidikan Islam (1992) tercantum bahwa kepribadian secara utuh hanya bisa dibentuk lewat pengaruh lingkungan, terutama dalam pendidikan. Sasaran yang dituju dalam pembentukan kepribadian tersebut adalah kepribadian berdasarkan pada akhlak yang mulia.

Mengapa hakikat kepribadian seorang Muslim adalah akhlak yang mulia? Sebab, tingkat kemuliaan akhlak berkaitan dengan tingkat keimanan. Nabi Muhammad Saw. mengemukakan bahwa “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang Mukmin yang paling baik akhlaknya.”

Seseorang yang beragama islam disebut sebagai Muslim. Muslim adalah seseorang yang menyerahkan dirinya secara sungguh-sungguh kepada Allah Swt. Maka, bisa disimpulkan bahwa wujud pribadi Muslim adalah manusia yang mengabdikan dirinya kepada Allah Swt., tunduk dan patuh serta ikhlas dalam amal perbuatannya disebabkan karena iman kepada-Nya.

Pola seseorang yang beriman kepada Allah Swt. adalah dengan melaksanakan kebajikan yang diperintahkan. Ia juga akan membentuk keselarasan dan keterpaduan antara faktor iman, Islam dan ikhsan.

Orang yang mampu melaksanakan aktivitas hidup yakni mendirikan shalat, menunaikan zakat, menepati janji, dan sabar, maka orang-orang tersebut dinamakan sebagai Muslim yang bertaqwa.

Pola taqwa adalah gambaran dari haikat kepribadian seorang Muslim. Apabila pola tersebut berhasil “mewujud” atau “mempribadi” dalam diri seseorang, maka akan nampak perbedaannya dengan orang lain.

Karena ketaqwaannya, maka seorang Muslim bisa dikatakan sebagai seseorang yang mempunyai “Kepribadian Muslim”. Demikianlah hakikat kepribadian seorang Muslim.

Abdul Mujib menjelaskan dalam Kepribadian dalam Psikologi Islam (2006) bahwa secara terminologi kepribadian Islam berarti serangkaian perilaku normatif manusia, baik sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang normanya diturunkan dari ajaran islam dan bersumber dari Al-Quran dan al-Sunnah.

Hakikat kepribadian seorang Muslim dalam konteks di atas bisa diartikan sebagai identitas yang dimiliki seseorang sebagai ciri khas bagi keseluruhan tingkah laku sebagai Muslim. Identitas tersebut mencakup tingkah laku secara lahiriyah dan sikap secara batinnya. (Baca: Kepribadian Islami: Solusi Masalah Kesehatan Mental)

Tingkah laku lahiriyah, misalnya dalam cara berkata, berjalan, makan, minum, berhadapan dengan orang tua, guru, teman sejawat, sanak famili dan lain sebagainya. Sementara itu, sikap batin bisa diwujudkan dengan sabar, ikhlas, dan sikap terpuji lain yang timbul dari dorongan batin.

Ciri khas dari tingkah laku seorang Muslim di atas bisa dipertahankan sebagai kebiasaan. Kebiasaan atau tingkah laku tersebut sama sekali tidak bisa dipengaruhi oleh sikap dan tingkah laku orang lain yang bertentangan dengan sikap yang telah dimiliki sebelumnya.

Ciri khas tersebut sangat bisa dipertahankan apabila sudah terbentuk sebagai kebiasaan dalam waktu yang lama. Sebagai seorang individu, setiap Muslim mempunyai latar belakang dan pembawaan yang berbeda-beda.

Perbedaan individu tersebut mestinya tidak akan memegaruhi perbedaan yang akan menjadi kendala. Perbedaan yang ada biasanya berpengaruh dalam pembentukan kebiasaan ciri khas kepribadian seorang Muslim.[]

Ingin Menjadi Kebanggaan Nabi Saw, Lakukan Dua Hal Ini.

BincangSyariah.Com – Kecintaan Rasulullah saw. terhadap umatnya tidak perlu diragukan lagi. Banyak pengorbanan beliau untuk kita semua. Bahkan seluruh hidup beliau memang digunakan untuk berjuang demi nasib umatnya. Sebut saja salat lima waktu, pada awalnya lima puluh waktu, namun atas saran Nabi Musa as. dan kepedulian Rasulullah saw. atas umatnya, akhirnya menjadi lima waktu.

Bahkan di saar nafas beliau sudah sampai ke dada, nama kita tetap tidak dilupakannya. “Ummati, ummati, ummati,”ucap lirih beliau. Ini pertanda bahwa beliau mencintai umatnya melebihi cintanya pada diri sendiri.

Terlepas dari itu semua, Rasulullah saw. sangat senang terhadap umatnya yang suka berderma. Beliau sangat mengapresiasi orang yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Sebut saja orang yang suka menyantuni anak yatim, beliau janjikan akan bersamanya nannti di surga. Selain itu, beliau juga memiliki kebanggaan tersendiri ketika melihat umatnya pandai bersyukur dan bersabar. Rasulullah saw. bersabda:

عجبا لامر المؤمن ان امره كله خير وليس ذاك لاحد الا للمؤمن ان اصابته سراء شكر فكانت خيرا له وان اصابته ضراء صبر فكانت خيرا له

‘Ajaban liamril mukmin inna amrohu kullahu khoirun walainsa dzaka liahadin illa lilmukmini in ashobathu sarro’u syakara fakanat khoiron lahu wain ashobathi dhorro’u shibaro fakanat khoiron lahu.

Aku kagum terhadap urusan orang mukmin, karena semua urusannya memiliki nilai baik, dan itu tidak terjadi kecuali pada orang mukmin. Bila ia mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, lalu ia berayukur, maka ia mendapatkan kebaikan, bila ia ditimpa sesuatu yang menyedihkan, lalu ia bersabar, maka ia pun mendapatkan kebaikan (HR. Muslim)

Jadi, jika ingin menjadi umat yang dibanggakan oleh Rasulullah saw., maka perbanyaklah bersyukur. Kenikmatan apa saja yang didapat senantiasa disyukuri. Sebaliknya, semua ujian yang menimpa disikapi dengan kesabaran. Dengan bersyukur saat bahagia dan bersabar saat mendapat ujian akan mendatangkan kebaikan di kemudian hari. Percuma dapat nikmat, tapi hati tidak bersyukur. Sungguh merana ketika diberi ujian malah hati tak dapat menerima. Semoga kita dijadikan hamba yang pandai bersyukur dan bersabar. Amin. Allah Ta’ala A’lam

Kisah Istri Ahli Ibadah yang Hampir Berzina

BincangSyariah.Com – Alkisah, di zaman Nabi Musa, ada seorang laki-laki ahli ibadah yang sudah berkeluarga. Satu ketika keluarganya ditimpa kelaparan. Mereka sampai tidak punya apa-apa untuk dimakan. Laki-laki itu lalu meminta istrinya untuk mencari bantuan untuk keluarga. Sampailah istrinya kepada rumah seorang pedagang kaya. Saat ingin meminta batuan kepadanya, laki-laki itu meminta syarat, “boleh, tapi izinkan aku menidurimu!” Sontak istri ahli ibadah itu terdiam mendengarnya.

Ia lalu kembali kerumah. Di rumah, ia melihat anak-anaknya menangis akibat sangat lapar. Mereka sampai berkata, “Ibu, kita akan kami mati kelaparan. Berikanlah kami apa yang bisa dimakan”. Tak tega melihat pemandangan itu, istri ahli ibadah itu pun pergi menemui pedagang itu dan menceritakan lagi kondisi keluarganya.

Pedagang itu kembali menanyakan, “apa keinginanku bisa dipenuhi?” Istri ahli ibadah itu menjawab lirih mengiyakan. Ketika mereka berdua sudah berdua di dalam kemar, istri ahli ibadah itu begitu takut seolah sendi-sendinya bergetar dan tulang serasa ingin lepas. Ia terlihat gemetar. Pedagang itu lalu bertanya, kamu kenapa ?

Istri ahli ibadah itu menjawab, “saya sedang takut sekali kepada Allah”.

Pedagang itu tersontak dengan jawaban perempuan ahli ibadah tersebut dan berkata, “engkau tetap takut kepada Allah meski dalam kondisi fakir. Semestinya aku yang harusnya takut bermaksiat denganmu.”

Pedagang itu pun tidak jadi melakukan zina. Ia justru memenuhi semua kebutuhan keluarga ahli ibadah itu, dan perempuan istri ahli ibadah itu pulang dengan membawa pasokan yang sangat cukup untuk anak-anaknya.

Allah Swt. lalu menurunkan wahyu kepada Nabi Musa, “katakan pada laki-laki itu!, dosa-dosamu sudah diampuni semua!”

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di islami.co

Ketakwaan yang Sempurna adalah Istiqamah

BincangSyariah.Com – Ada banyak pengajaran-pengajaran syariat baik terdapat dalam Alquran dan hadis yang dapat menjadi sarana kita untuk menjadi orang-orang yang bertakwa. Selain yang wajib, ada banyak sekali selama seharian kesunahan yang bisa kita lakukan. Mulai dari zikir, shalat dhuha, shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat fardhu, membaca Alquran, tahajud dan witir di akhir malam, dan masih banyak lagi. Tapi, ada kalanya dan kebanyakan kita sebenarnya masih memiliki keterbatasan untuk melakukan semuanya sekaligus. Meskipun, semuanya baik sebagai wasilah seorang hamba menjadi orang yang bertakwa.

Ada nasihat yang sangat bagus sekali dari Imam Abu al-‘Abbas Ahmad Zarrūq al-Fāsi, ulama besar Mesir abad ke-8 H asal kota Fez (sekarang masuk wilayah Maroko). Beliau menuliskan nasihat itu dalam karyanya Qawā’id al-Taṣawwuf wa Shawāhid al-Ta’arruf. Karya yang berisi sekian kaidah-kaidah untuk memahami tasawuf dan bagaimana kita mengenal Allah. Dalam nasihatya, ia mengatakan bahwa bentuk ketakwaan yang sempurna, paripurna, adalah konsistensi (istiqamah). Berikut ini pernyataannya,

من كمال التقوى وجود الإستقامة. وهي حمل النفس على أخلاق القرآن والسنة، كقوله تعالى:  خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف: ١٩٩)، وَعِبَادُ الرَّحْمنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا (الفرقان: ٦٣)، ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ (فصلت: ٣٤)،إلى غير ذلك.

Diantara bentuk kesempurnaan takwa adalah terwujudnya istiqamah. Istiqamah itu memposisikan jiwa sesuai dengan akhlak Alquran dan Sunnah. Dasarnya (diantaranya) adalah firman Allah: “maafkanlah, perintahkanlah kepada kebaikan, dan berpalingnya dari orang-orang yang tidak tahu” (al-A’rāf [7]: 199); “dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih, yang berjalan di muka bumi dengan rendah (hati)” (al-Furqan [26]: 63); tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik” (Fusshilat [41]: 34), dan ayat-ayat lainnya (Qawa’id al-Tashawwuf: h. 113)

Lebih lanjut, menurut Imam al-Zarruq (beliau dinamai al-Zarruq karena diriwayatkan kalau bola matanya berwarna biru (al-Azraq)), disinilah pentingnya kita memiliki guru/mursyid yang bisa memberikan nasihat kepada kita agar memilih wasilah-wasilah ketakwaan yang paling sesuai dengan kita. Karena boleh jadi, suatu wasilah menuju ketakwaan itu baik dilakukan oleh orang lain namun justru menjadi tidak maslahat kepada diri kita.

Model nasihat guru yang merekomendasikan kebaikan yang paling cocok buat kondisi kita, ada contohnya dari Nabi Saw. sendiri. Karena, para sahabat Nabi Saw. diberikan nasihat bentuk beribadah sunnah untuk menambah ketakwaan (selain yang wajib) juga berbeda-beda. Tentu ini tidak menegasikan bahwa ibadah-ibadah yang tidak dinasihatkan itu tidak baik. Berikut ini beberapa contohnya,

  • Abdullah bin ‘Umar Ra. dilarang oleh Nabi Saw. untuk puasa terus menerus, tapi Nabi membolehkannya untuk Hamzah bin ‘Amr al-Aslami. Diriwayatkan, Hamzah sudah sekian lama terbiasa puasa.
  • Abu Hurairah Ra. dinasihati untuk tidak tidur kecuali hanya pada waktu witir (sepertiga malam) saja
  • Abu Bakar As-Shiddiq diminta untuk membesarkan suaranya saat shalat, dan ‘Umar bin Khattab Ra. justru diminta mengecilkan suaranya.
  • Nabi Saw. mengontrol shalat malam ‘Ali dan Fatimah Az-Zahra
  • Nabi Saw. mengajarkan Mu’adz bin Jabal namun menyuruhnya untuk merahasiakannya dari yang lain amalan ini, “siapa yang membaca Laa Ilaaha Illa Allah, surga berhak baginya”. Ketika Umar mendengar Mu’adz menyampaikan ini ke orang lain, Umar “protes” kepada Nabi Saw. dengan mengatakan amalan itu bisa membuat masyarakat malas berbuat baik lainnya. AKhirnya, Nabi meminta Mu’adz tidak membicarakan hal itu.

 

Contoh-contoh diatas menunjukkan Nabi Saw. justru menekankan agar para Sahabat (dan umatnya) untuk tidak banyak-banyak mencari wasilah menuju ketakwaan, tapi tidak ada yang diamalkan secara istiqamah. Wallahu A’lam.