Wanita Non Muslim Memakai Hijab, Gimana Pandangan Hukum Islam?

2
83

BincangSyariah.Com – Dewasa ini tidak jarang kita melihat wanita non muslim memakai hijab atau jilbab, baik itu di layar televisi maupun di dunia nyata. Lantas bagaimana pandangan hukum Islam terhadap fenomena tersebut? Yuk simak ulasannya berikut ini:

Berbicara perihal hijab bagi wanita, Syekh Muhammad Ali as-Shabuni dalam kitabnya Rawai’ al-Bayan fi Tafsiri Ayat al-Ahkam (j.2 h.315-316) menyitir sebuah ayat al-Qur’an dalam surah al-Ahzab yang menerangkan bahwa kewajiban berhijab berlaku untuk kalangan muslimah.

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ وَنِسَاۤءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْبِهِنَّۗ

Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S al-Ahzab ayat 59)

Secara dhahir ayat diatas menunjukkan bahwa hijab diwajibkan kepada wanita muslimah. Oleh karena itu Syekh as-Shabuni mengatakan :

لا يجب الحجاب على الكافرة لأنها لا تكلف بفروع الإسلام ولأن الحجاب عبادة لما فيه من امتثال أمر الله عز وجل

Tidak wajib berhijab bagi wanita non muslim. Hal ini dikarenakan mereka tidak dikenai kewajiban mematuhi aturan-aturan fikih Islam (furu’ al-Islam) dan juga hijab adalah sebuah ibadah, dimana di dalamnya mengandung kepatuhan kepada perintah Allah.”

Lebih lanjut Syekh as-Shabuni menegaskan, meskipun wanita non muslim tidak diperintahkan untuk berhijab lalu jangan lantas mengabaikan kenyamanan umum dengan berpakaian terlalu terbuka atau lebih parahnya lagi telanjang di depan para lelaki. Hal ini demi kestabilitasan dan kenyaman yang dijaga bersama.

(Muhammad Ali as-Shabuni, Rawai’ al-Bayan fi Tafsiri Ayat al-Ahkam, jus 2 hal 315-316)

Imam Rafi’i juga menambahi :

وجوب ستر العورة عند القدرة لا يختص بحالة الصلاة بل يجب في غير حالة الصلاة

 “Kewajiban menutup aurat ketika mampu tidak hanya  tertentu saat shalat melainkan juga wajib di selain shalat.” (Abdul Karim ar-Rafi’i, Fath al-Aziz Syarh al-Wajiz, jus 3 hal 32)

Redaksi di atas yang dikemukakan oleh imam Rafi’i dari mazhab Syafi’iyah menunjukkan bahwa menutup aurat diwajibkan kepada orang muslim baik di dalam ataupun di luar shalat.

Dalam Islam, Wanita Non Muslim Berhijab Apakah Berpahala?

Setelah mengetahui bahwa wanita non muslim tidak wajib memakai hijab, lalu apakah baginya mendapat pahala jika mengenakan hijab?

Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada Ummu Ma’bad yang diriwayatkan dari sahabat  Jabir Ra. :

جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ دَخَلَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى أُمِّ مَعْبَدٍ حَائِطًا فَقَالَ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ مَنْ غَرَسَ هَذَا النَّخْلَ أَمُسْلِمٌ أَمْ كَافِرٌ فَقَالَتْ بَلْ مُسْلِمٌ. قَالَ فَلاَ يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلاَ دَابَّةٌ وَلاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Sahabat Jabir bin Abdullah berkata, Nabi Saw. pernah memasuki kebun milik Ummu Ma’bad, kemudian Beliau bersabda ‘ Wahai Ummu Ma’bad, siapa yang telah menanam kurma ini, seorang muslim atau kafir?’ Ummu Ma’bad menjawab, ‘seorang muslim’. Nabi Saw. bersabda ‘Tidaklah seorang muslim menanam sebuah tanaman lalu dimakan oleh manusia, binatang atau burung melainkan hal itu merupakan sedekah untuknya sampai kelak hari kiamat.” (Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi, Sahih Muslim, jus 5 hal 28)

Hadis di atas menceritakan bahwa tanaman yang ditanam oleh orang muslim dan bermanfaat bagi mahluk hidup yang lain akan menjadi sedekah jariyah baginya. Sementara jika non muslim yang menanam, hal itu tidak akan berpengaruh kepada pahala kemudian di akhirat. Begitu juga dengan hijab atau jilbab, non muslim yang memakainya tidak akan mendapat pahala karena tidak didasarkan beribadah kepada Allah.

Perlu diketahui sebenarnya terdapat dua dimensi dalam penggunaan hijab. Dimensi ibadah dan juga muamalah (interaksi kepada sesama). Namun jika yang menggunakan hijab atau jilbab adalah non muslim, maka hijab hanya memiliki dimensi muamalah saja. Hal ini dikarenakan non muslim tidak memenuhi syarat dalam beribadah kepada Allah yaitu beragama Islam.

Kaidah Fikih dalam Bermuamalah

Nah, dalam muamalah terdapat kaidah fikih yang sangat populer yakni:

اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

 “Pada dasarnya hukum sesuatu (muamalah) adalah al-ibahah (boleh) sampai ada dalil yang mengharamkannya.” (Abdur Rahman as-Suyuti, al-Asybah wa an-Nadhair, hal 60)

Jadi, hukum asal dari memakai hijab atau jilbab adalah mubah (boleh). Oleh karena hukum menggunakan hijab atau jilbab bagi non muslim adalah mubah, boleh dikerjakan ataupun ditinggalkan, maka non muslim yang memakai hijab ataupun jilbab tidak mendapatkan pahala.

اَلْمُبَاحُ مَا لَا ثَوَابَ بِفِعْلِهِ وَلَا عِقَابَ بِتَرْكِهِ

“Mubah adalah Sesuatu yang jika dikerjakan tidak mendapat pahala dan manakala ditinggalkan tidak mendapat siksa.” (Muhammad Rawas Qala’aji, Mu’jam Lughat al-Fukaha’, hal 398)

Alhasil, non muslim tidak wajib mengenakan hijab ataupun jilbab, kendatipun ia  memakai atribut tersebut maka tetap tidak bernilai pahala di sisi Allah Swt.

Semoga bermanfaat, wallahu a’lam.

2 KOMENTAR

  1. Loh, yg make hijab atau bahkan cadar, emangnya muslimah aja? Di Israel lihat saja…orang2 Yahdui pakaiannya cadar,.. dan masih banyak lagi,.. itu kan pakainan seblum ISlam datang, coba lihat2…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here