BincangSyariah.Com –  Menstruasi atau haid adalah sesuatu yang alamiah dialami oleh kaum hawa dalam waktu-waktu tertentu. Bahkan, justru ketika wanita tidak datang bulan perlu konsultasi ke dokter, karena di khawatrikan terkena Amenorrhea. Literatur fikih klasik maupun kontemporer menyebutkan bahwa ada aktifitas yang haram di lakukan oleh wanita yang sedang menstruasi. Salah satu yang diharamkan adalah berdiam diri (al-mukts) di dalam masjid.

Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Tapi, mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum wanita menstruasi berdiam diri di masjid adalah haram, khawatir atau tidak darah menetes di masjid bukan suatu alasan bagi mereka. Alasan diharamkannya itu ta’abbudi (irrasional), karena masjid tempat suci. Perlukah kita mempertimbangkah argumen berikut ini:

1. Ada Ulama Yang Membolehkan

Saya mau menghadirkan argumen yang serius dulu, nih. Perhatikan dan baca sengan seksama!. Pendapat Daud al-Dzahiri, Ibn Hazm, Muzanni, Abu Daud, Ahmad bin Hanbal,  Ibn Hazm, Mushtafa ‘Azami, Abu Ishak al-Huwaini dan lainnya. membolehkan wanita haid beraktifitas dalam masjid, bahkan mereka juga membolehkan orang junub. Pendapat tersebut berdasarkan penilaian mereka akan daifnya hadis yang dijadikan pegangan oleh mayoritas ulama.

Hadis tersebut dinilai daif oleh sekelompok ulama di atas, mereka adalah Ada dua faktor yang menyebabkan hadis ini dha’if; (1) dua orang perawi hadis tersebut yaitu Abu al-Khitab dan Mahduj tidak diketahui identitasnya (majhul al-hal); (2) Jisrah binti Dajajah. Walaupun ada beberapa ahli hadis yang men-tsiqah-kannya, seperti al-‘Ijli, Ibn Hibban, Ibn Khuzaimh, akan tetapi al-Huwaini menganggap mereka mutasahil dalam menilai hadis.

Selain itu, terdapat hadis sahih yang menyatakan bahwa ada seorang budak perempuan hitam yang dibuatkan kemah di dalam masjid sebagai tempat tinggalnya, padahal sesuatu yang pasti terjadi bagi wanita adalah haid, akan tetapi Rasulullah diam saja, tidak melarangnya. (H.R.Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Baca Juga :  Apakah Perempuan Haid Tetap Dianjurkan Mandi Sunah Idulfitri?

2. Meringankan Beban Psikologis Wanita

Imam Sya’rani memiliki teori takhfif (diringankan hukumnya) dan tasydid (diperberat hukumnya) dalam karyanya, Al-Mizan Al-Kubra. Teori takhfif dapat diterapkan sesuai dengan pemahaman, kultur, psikologis wanita tertentu. Bagi wanita yang merasa bahwa larangan wanita haid masuk masjid itu terlalu repot, berat dan sebagainya, karena aktifitasnya selalu berinteraksi dengan masjid, maka diperbolehkan baginya beraktifitas di masjid seperlunya. Saya juga pernah survei ke istri, saudara, dan beberapa teman wanita lainnya terkait beban psikologis larangan ini ketika mereka berada atau beraktifitas dalam masjid.

3. Darah Tidak Menetes

Dalam permasalahan haid ini,  mayoritas ulama lebih cenderung pada alasan irrasional, yaitu bahwa wanita yang sedang haid tidak boleh beraktiftas dalam masjid apapun alasannya, baik darah menetes di dalam masjid, maupun enggak. Mereka yang awam atau bahkan santri sekalipun, ketika mereka sedang datang bulan dan diundang dalam suatu acara yang di selenggrakan di masjid, seperti pelantikan organisasi dan lain-lain, secara terpaksa mereka harus mendatangi masjid tersebut.

4. Melakukan Hal Positif di Masjid

Saya juga percaya bahwa masjid itu adalah tempat suci. Namun, apakah kesucian masjid lantas berdampak pada pengekangan wanita untuk beraktifitas di dalamnya. Bukankah lebih baik wanita mendengarkan ceramah, berdiskusi, melakukan hal positif lainnya, sekalipun semua itu dilakukan dalam masjid?. Nah, saya kira perlu mempertimbangkan juga argumen ini. Memang benar, ceramah, diskusi tidak mesti di dalam masjid, tapi kalau kebetulan acaranya berada di dalam masjid, pastinya wanita serba dilematis.

Selain itu, saya juga pernah mengajar fikih wanita pada teman-teman kampus saya. Saya juga melakukan survei pada satu persatu murid saya terkait permasalahan waktu haid. Ketika saya tunjukkan pendapat ulama yang membolehkan, mayoritas mereka terlihat senang dan tidak ragu lagi mengikuti ulama yang membolehkannya. Namun, dari semua pendapat di atas, saya hanya bisa mengakhiri dengan ucapan Wallahu a’lam.

1 KOMENTAR

  1. Kalau menurut saya perempuan dalam keadaan haidh tidak menyebabkan dia najis, sehingga tidak boleh masuk masjid. Larangan itu tujuannya untuk menjaga agar orang yang solat di dalamnya tetap khusus’. Hal lain yang dijaga adalah supaya lantai masjid tidak kotor.
    Mengingat teknologi pakaian dalam khususnya ketika menstruasi semakin canggih, kekhawatiran itu sudah bisa dihilangkan. Wallahu’alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here