Ini Tiga Kewajiban Saat Mandi Suci dari Haid atau Nifas

2
15631

BincangSyariah.Com – Berhentinya darah haid atau nifas menandakan bahwa seorang wanita telah suci. Maka hal yang wajib dilakukan wanita tersebut adalah mandi suci dari haid atau nifas. Berikut adalah tiga fardunya mandi suci yang harus diketahui oleh wanita.

  1. Niat, menghilangkan hadas haid, nifas atau menghilangkan hadas besar. Niat ini dilakukan pada permulaan membasuh anggota badan yang pertama kali. Jika ia sudah membasuh badan, namun belum niat, maka ia wajib mengulang basuhan disertai dengan niat.

Adapun niatnya adalah sebagai berikut.

Niat mandi suci dari haid:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْاَكْبَرِ مِنَ الحَيْضِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari minal haidli fardhan lillahi ta’ala.

Saya niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari haid fardu karena Allah Ta’ala.

Niat mandi suci dari nifas:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْاَكْبَرِ مِنَ النِّفَاسِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla liraf’il hadatsil akbari minan nifasi fardhan lillahi ta’ala.

Saya niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari nifas fardu karena Allah Ta’ala.

  1. Menghilangkan najis, jika terdapat najis pada sebagian anggota badan, maka wajib dihilangkan terlebih dahulu kemudian dibasuh.
  2. Meratakan air ke seluruh badan bagian luar. Oleh karena itu, wajib membasuh seluruh bagian rambut (dari ujung sampai pangkal) meskipun lebat atau tebal, seluruh kulit badan, kuku dan bagian bawahnya (jika kukunya panjang), lubang telinga yang tampak dari luar, kerut-kerutannya badan, lipatan-lipatannya badan (ketiak, selangkangan dan belakang lutut), persendian-persendian badan, bagian farji yang kelihatan ketika berjongkok, dan masrubah (tempat menutupnya lubang dubur).

Oleh karena itu, hendaknya ketika membasuh perkara-perkara tersebut harus berhati-hati, bagaimana caranya agar semua bagian tubuh tersebut di atas dapat terbasuh. Misalnya dengan menekan dubur (Jawa: ngeden), memasukkan air ke dalam telinga (jika tidak dalam keadaan berpuasa), menggosok terutama bagian-bagian yang mengkerut/melekat, berjongkok sambil membasuh qubul dan dubur sampai ke dalam dan lain-lain.

Baca Juga :  Seri Wanita Istihadhah: Mubtada’ah Ghairu Mumayyizah

Jadi tidak boleh cuma berdiri, pokoknya diguyur air tanpa mengerti hal-hal di atas atau tidak berhati-hati, sehingga ada bagian yang tidak terbasuh lantaran sembrono yang akibatnya mandi menjadi tidak sah dan otomatis salatnya pun tidak sah.

Ratanya air ke seluruh anggota badan tersebut di atas harus sampai mengalir, sebab yang dinamakan ghuslun adalah mengalirnya air pada anggota, tidak boleh hanya diusap. Misalnya meratakan air ke dalam lubang telinga dilakukan dengan mengusap jari yang basah tanpa mengalirkan air, maka hukumnya tidak sah.

Demikianlah tiga fardunya mandi haid atau nifas yang harus diperhatikan para wanita dengan baik, karena jika mandinya tidak benar akan berpengaruh pada keabsahan salat. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

(Diolah dari Buku Risalah Haidl, Nifas dan Istihadloh Lengkap Wajib Dipelajari Khususnya Wanita karya KH. Muhammad Ardani bin Ahmad, hal. 27-28).

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here