Istri Haid, Bolehkah Menceraikannya?

0
236

BincangSyariah.Com – Talak dalam Islam boleh dilakukan jika memang itu menjadi solusi untuk memperbaiki kehidupan rumah tangga, namun perbuatan itu dibenci oleh Allah. Meski begitu, seorang suami yang hendak menalak istrinya mesti mengikuti aturan yang telah ada. Salah satu aturan yang diajarkan Islam itu saat istri mengalami haid.

Imam Nawawi menjelaskan, semua ulama sepakat jika suami yang menalak istrinya ketika haid hukumnya haram, meski talaknya tetap sah. Lebih lanjut kata Imam Nawawi, mayoritas ulama dari kalangan mazhab Syafi’i, Hanafi  dan Hambali  menyatakan bahwa orang yang menceraikan istrinya pada masa haid disunahkan untuk merujuknya, baru menceraikannya pada saat telah suci. Bahkan menurut mazhab Maliki, suami yang menceraikan istrinya pada masa haid wajib merujuknya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ

“Wahai nabi, apabila kalian hendak menalak istri-istri kalian maka hendaklah kalian  ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu.” (QS at-Talak: 1)

Makna ayat ini dijelaskan Rasulullah Saw dalam hadis. Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan bahwa beliau pernah menceraikan istrinya ketika haid. Sebagai ayah yang bertanggung jawab, Umar bin Khatab menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Saw. Setelah disampaikan, Nabi Saw bersabda:

مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ لِيُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ ثُمَّ تَطْهُرَ، ثُمَّ إِنْ شَاءَ أَمْسَكَ بَعْدُ، وَإِنْ شَاءَ طَلَّقَ قَبْلَ أَنْ يَمَسَّ، فَتِلْكَ العِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ أَنْ تُطَلَّقَ لَهَا النِّسَاءُ

“Perintahkan dia untuk merujuk istrinya, kemudian tahan sampai suci, kemudian haid lagi, kemudian suci lagi. Selanjutnya jika dia mau, dia bisa pertahankan dan jika mau dia bisa menceraikannya sebelum disetubuhi. Itulah iddah yang Allah perintahkan agar talak wanita dijatuhkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Baca Juga :  Talak Zhihar dan Warisan Budaya Jahiliyah

Sementara itu, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini bahwa yang dimaksud menalak pada waktu istri mendapat ‘iddah maksudnya adalah pada saat mereka suci dari haid dan tidak dalam kondisi setelah dijima’ (digauli).

Seorang suami menjatuhkan talak, saat istrinya sedang haid, maka ia berdosa. Karena telah melakukan perbuatan yang haram.

Hikmah diharamkan menjatuhkan talak saat istri sedang haid adalah karena talak yang dijatuhkan pada masa ini akan memperpanjang masa haid bagi seorang wanita. Sebab haid yang terjadi pada saat ia diceraikan tidak dihitung dalam masa iddah.

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa menalak istri pada masa ini diharamkan. Sebab Allah memerintahkan untuk menceraikan istri dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan dharor (bahaya).

Sebagaimana telah disinggung di atas, mayoritas ulama dari empat mazhab sepakat bahwa walaupun perbuatan itu haram, namun secara hukum, talak yang dijatuhkan tetap sah. Artinya, talak suami kepada istri tetap jatuh. Karena talak itu sah, maka tidak perlu diulang-ulang. Karena talak sudah jatuh, dan hukumnya pun sah. Meski saat menjatuhkannya tidak tepat dan berdosa.

Namun sangat dianjurkan bagi suami yang terlanjur menalak istrinya dalam keadaan haid, untuk segera merujuknya. Sebagaimana Rasulullah SAW memerintahkan Ibnu Umar untuk merujuk istri yang telah diceraikannya, karena saat itu istrinya sedang haid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here