BincangSyariah.Com – Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Kewajiban haji ini berlaku bagi setiap orang Islam yang telah mampu menunaikannya, sebagaimana termaktub di dalam Alquran Surah Ali Imran ayat 97. Allah Swt. berfirman: “Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana.” Namun, apa sajakah syarat-syarat “mampu” bagi orang yang wajib menunaikan haji tersebut? Lalu apakah ada perbedaan syarat-syarat tersebut bagi laki-laki dan perempuan?

Hudzail Usman Mahmud Abu Khadir di dalam bukunya yang berjudul Ahkamu Hajjin Nisa’ Fil Fiqh Al Islami (hukum-hukum ibadah hajinya perempuan di dalam fiqh Islam) menyebutkan

من شروط الاستطاعة ما يشترك فيه الرجال والنساء كالاستطاعة البدنية والمالية والأمنية، على اختلاف مقاييسها عند كلا الطرفين، ومنها ما تختص به النساء دون الرجال كوجود محرم أو الزوج وعدم العدة.

Berdasarkan keterangan tersebut dijelaskan bahwa syarat-syarat “mampu” untuk menunaikan ibadah haji yang berlaku baik bagi laki-laki maupun perempuan adalah mampu secara fisik, materi maupun keamanan. Adapun syarat mampu yang khusus dialamatkan bagi perempuan saja adalah adanya mahram atau suami (yang menyertainya) dan tidak dalam keadaan iddah. Sehingga syarat “mampu” untuk melaksanakan haji bagi perempuan lebih banyak dari pada laki-laki.

Selanjutnya, Hudzail Usman memberikan keterangan rinci dari masing-masing syarat-syarat “mampu” untuk menunaikan haji bagi perempuan sebagaimana berikut: (Baca: Syarat Ibadah Haji bagi Perempuan (1)

Kedua: Mampu secara materi

Syarat “mampu” untuk menunaikan ibadah haji bagi perempuan adalah ia mampu secara materi/harta. Yakni ia memiliki harta yang cukup baginya untuk biaya berangkat ke tanah suci Makkah sampai pulang ke tanah air, dan harta itu bukan termasuk harta pokok, namun harta yang lebih dari kebutuhan primer dan harta untuk menafkahi anggota keluarga yang wajib ia nafkahi.

Baca Juga :  Syarat Ibadah Haji bagi Perempuan (1)

Ulama fikih sepakat bahwa “mampu” secara materi ini adalah termasuk dari syarat-syarat wajibnya haji. Oleh karena itu, jika ia masih memiliki orang tua, atau anak-anak yang masih butuh dinafkahi olehnya, tidak ada materi lebih dari kebutuhan primer baik berupa tempat tinggal, pakaian maupun makanan dan selainnya, maka ia belum dikategorikan “mampu” secara materi, jika materi tersebut adalah miliknya.

Seandainya prempuan yang hendak pergi haji itu tidak memiliki materi, tetapi ia mendapatkan dana untuk berangkat haji dari suaminya, anaknya atau selain mereka, apakah perempuan tersebut diwajibkan menunaikan ibadah haji (dengan dana talangan tersebut)? Apakah perempuan tersebut wajib menerimanya atau tidak? Terdapat dua pendapat di kalangan ulama fikih sebagaimana disampaikan oleh Hudzail Usman Mahmud Abu Khadir di dalam bukunya yang berjudul Ahkamu Hajjin Nisa’ Fil Fiqh Al Islami sebagaimana berikut.

Pendapat pertama dari salah satu kaulnya ulama Syafiiyyah mengatakan bahwa wajib bagi perempuan tersebut menerima materi itu karena ia tidak memiliki bekal, serta materi ini dianggap sebagai syarat “mampu”nya untuk menunaikan ibadah haji secara materi. Oleh karena itu, hajinya perempuan dengan materi tersebut sudah dianggap haji wajib sesuai dengan haknya.

Pendapat kedua, dari kalangan ulama Hanafiyyah, Malikiyyah, pendapat yang rajih (unggul) dari Syafiiyyah dan ulama Hanabilah mengatakan bahwa bagi perempuan tersebut tidak wajib menerima pemberian dana talangan haji itu, dan ia tidak dianggap telah memenuhi syarat telah mampu secara materi sebab memiliki dana talangan tersebut.

Sementara Hudzail Usman Mahmud Abu Khadir setelah melihat dua pendapat tersebut, ia mengunggulkan pendapat mayoritas ulama. sehingga menurutnya seorang perempuan tidak wajib menerima dana (dari suami, anak atau lainnya untuk ibadah haji), dan jika ia menerima dana tersebut, maka ia belum dianggap mampu secara materi. Oleh karena itu, menurut Hudzail Usman “mampu” secara materi itu dianggap jika berasal dari uangnya, bukan dana dari seseorang, namun jika ia menerimanya maka hukumnya boleh. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here