Siapakah Wali Nikah Perempuan Mualaf?

2
2344

BincangSyariah.Com – Wali nikah adalah seseorang yang berhak menikahkan seorang perempuan dengan laki-laki pilihannya yang sesuai dengan syariat Islam. Wali nikah merupakan salah satu rukun nikah yang wajib adanya ketika hendak melangsungkan pernikahan. karena ketika wali nikah itu tiada, maka pernikahan tersebut tidaklah sah.

Untuk bisa menjadi wali nikah. Seseorang tersebut harus memenuhi syarat dan ketentuan tertentu. Salah satunya adalah beragama Islam. Lantas bagaimanakah nasib pernikahan perempuan mualaf yang baru saja memeluk agama Islam? Sedangkan ayahnya adalah seorang non muslim. Kepastian yang bulat adalah tentunya yang akan menjadi wali nikah tersebut haruslah memiliki kesamaan beragama. Dengan kata lain non muslim (meskipun ayah kandung) tidak bisa menjadi wali nikah seorang muslim, dalam keadaaan apapun. Sebagaimana QS At Taubah ayat 71:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ

Mukmin lelaki dan mukmin wanita, satu sama lain menjadi wali

Urutan seseorang yang berhak menjadi wali nikah perempuan mualaf tersebut adalah ayahnya, kakek dari ayah, anak, cucu lelaki dari anak laki-laki, saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki sebapak, keponakan lelaki dari saudara lelaki sekandung atau sebapak, dan paman. Jika ada salah satu dari mereka yang muslim, maka ia berhak menjadi wali nikah perempuan mualaf tersebut.

Namun jika tidak ada satupun, maka wali nikah tersebut diwakilkan ke pemerintah muslim. Mewakilkan wali nikah ke pemerintah muslim ini terjadi jika seluruh keluarga yang berhak menjadi wali nikah tidak memenuhi syarat menjadi wali nikah, beda agama salah satunya. Dari Aisyah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ، وَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

Tidak ada nikah kecuali denga wali. Dan sultan (pemerintah) merupakan wali bagi orang yang tidak memiliki wali (HR. Ahmad)

Baca Juga :  Perempuan Lebih Baik Salat di Rumah atau di Masjid?

Jika perempuan mualaf tersebut tinggal di negeri non muslim, tidak ada keluarga muslim dan pemerintahannya non muslim juga, siapakah yang akan bisa mewakilkannya? Perempuan mualaf tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahan dengan wali nikah yang menggunakan jasa tokoh muslim yang terpercaya di daerahnya, seperti contoh imam masjid atau guru ngaji. Namun jika tidak ada pula, maka diperbolehkan memakai wali nikah seorang lelaki adil (terpercaya) atas seizin perempuan mualaf tersebut. Keterangan tersebut bersumber dari Al Mughni karya Ibnu Qudamah:

فإنْ لم يوجَدْ لِلمرأة وليٌّ ولا ذو سُلطان، فَعَنْ أحْمَد ما يدلُّ على أنَّه يزوِّجها رجلٌ عدْلٌ بِإِذْنِها

Untuk wanita yang tidak memiliki wali (di keluarganya) dan tidak pula pemerintah yang muslim, ada salah satu riwayat dari Imam Ahmad, yang menunjukkan bahwa dia dinikahkan dengan lelaki adil (terpercaya), atas izin si wanita itu.

2 KOMENTAR

  1. ORANG TUA LELAKI, BAPAK KANDUNG NON-MUSLIM MENJADI WALI NIKAH TERHADAP ANAK PEREMPUANNYA BAIK MUSLIMAH MAUPUN NON-MUSLIMAH!

    1. Ketika seorang anak perempuan atau lelaki pada awalnya dia bukan Muslimah/Muslim maka nasab dari bapaknya tidak putus jadi tetap dia masih berhak menggunakan bin atau binti nama bapaknya sendiri (QS. 33:4-5) seperti Nabi Muhammad bin Abdullah atau Ali bin Abi Thalib dsb.;

    2. Jika anak perempuan yang Muslimah itu masih tetap diakui atau berada di dalam keluarga dan pengawasan orang tua bapaknya yang non-Muslim maka si bapak itu masih bisa menjadi sebagai ‘wali’ khusus untuk akad nikah atas anak perempuannya sepanjang bapak itu mau menjadi wali akad nikah;

    3. Peran kewalian bapak kandungnya non-Muslim sifatnya khusus dalam hal akad nikah terhadap anak perempuan kandung yang Muslimah atau pun non-Muslimah ini tetapi tidaklah berlaku terhadap selain dari bapak kandungnya seperti saudara kandung atau kakek kandungnya yang semua itu non-Muslim;

    4. Berbeda halnya ketika seorang anak perempuan apa lagi lelaki yang awal mulanya Muslimah/Muslim kemudian dia menjadi murtad (bukan lagi sebagai Muslim) maka otomatis status nasab atau zuriyahnya itu putus (QS. 11:46) dan konsekuensinya tidak berhak memperoleh hak waris bapaknya;

    5. Untuk hal umum atau selain dari akad nikah, anak lelaki dan perempuan yang telah menjadi Muslim/Muslimah itu tidak layak untuk memilih atau mengambil peran kewalian atau auliya’ atau kepemimpinan walaupun calon pemimpin itu bapak atau saudara kandungnya yang non-Muslim (a.l. QS. 5:51, 57 dan 9:23). Sementara sinyal dalam QS. 5:71 memang menyebutkan sifat tolong menolong itu sebaiknya sesama Muslim tapi tidak pula ada pelarangan terhadap kedua orang tuanya yang non-Muslim tersebut;

    6. Karena di dalam peristiwa akad nikah secara Muslim tidak ada kewajiban bahwa bagi seorang wali kandungnya harus seorang Muslim dan harus mengucapkan syahadat. Tuntunan Islam bahwa seorang lelaki Muslim dilarang ‘menikahi’ perempuan non-Muslim atau Musyrik mungkin bisa disimak QS. 2:221 dan 28:27.

    7. Sebaliknya, terhadap seorang bapak yang Muslim dilarang mengawinkan anak perempuan yang Muslimah dengan orang lelaki yang non-Muslim atau Musyrik karena dia telah menjerumuskan anak kandung perempuannya ke neraka.

    Wallahu a’lam bissawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here