Selesai Haid, Perhatikan Shalat yang Wajib Diqadha

0
3611

BincangSyariah.Com – Pembahasan ini termasuk pembahasan penting yang harus diketahui wanita, karena hal ini berkaitan dengan kewajiban dasar dalam Islam, yaitu shalat.

Jamak diketahui, bahwa wanita haid tidak berkewajiban melunasi (qadha) shalat yang ia tinggalkan di masa haidnya. Dan, hal itu merupakah ijmak ulama. Namun begitu, tidak semua orang tahu tentang kondisi yang dikecualikan dari hukum tersebut.

Kondisi pertama; ketika seorang wanita mengeluarkan darah haid saat waktu shalat telah masuk. Dan ia memiliki kesempatan untuk sekedar mendapatkan satu rakaat shalat sebelum darahnya keluar. Maka, ishalat yang tertinggal tersebut wajib diqadha ketika telah suci. Berikut ini penjelasannya,

Misalnya waktu shalat zuhur telah masuk, selang beberapa menit kemudian, darah haid keluar, dan shalat zuhur belum sempat dilaksanakan. Padahal andai ketika masuk waktu shalat, ia bersegera mengerjakan shalat, maka ia akan mendapatkan satu rakaat sebelum darah haid keluar. Maka dalam kondisi seperti ini, ia shalat zuhur tersebut ketika telah suci wajib diqadha.

Namun berbeda halnya bila setelah waktu shalat masuk dan ia tidak memiliki kesempatan untuk sekedar mendapatkan satu rakaat shalat. Artinya darah haid langsung keluar setelah waktu shalat masuk, maka shalat tersebut tidak wajib diqadha.

Dapat disimpulkan bahwa wajib atau tidaknya qadha shalat ini ditentukan oleh; apakah sebelum darah haid keluar, ia memiliki kesempatan untuk sekedar mendapatkan satu rakaat shalat atau tidak. Ini adalah pendapat jumhur ulama termasuk ulama Syafi’iyah.

Kondisi kedua; ketika darah haid berhenti di waktu ashar, apakah shalat zuhur tetap wajib di-qadha? Begitupun bila darah haid berhenti di waktu isya, apakah wajib mengqadha shalat maghrib? Dalam hal ini, para ahli fikih berbeda pandangan ke dalam dua pendapat.

Baca Juga :  Darah yang Keluar Saat Hamil, Haid atau Istihadah?

Pendapat pertama, menurut mayoritas ulama mazhab Syafi’i dan Hanbali, Syafi’iyah dan Hanabilah, dalam keadaan tersebut shalat zuhur dan maghrib wajib diqadha. Alasannya adalah karena shalat zuhur dan ashar ataupun shalat maghrib dan isya adalah dua shalat yang boleh dijamak ketika ada uzur. Sebagaimana ketika di perjalanan, shalat zuhur boleh dijamak ta’khir ke waktu ashar. Begitupun maghrib dapat dijamak ta’khir ke shalat isya.

Artinya, waktu shalat ashar juga merupakan waktu untuk shalat zuhur ketika dalam keadaan darurat. Begitu juga dengan waktu shalat isya merupakan waktu pelaksanaan shalat maghrib dalam kondisi yang sama. Dan, wanita haid ini dihukumi darurat saat sedang mengeluarkan darah haid.

Pendapat kedua, menurut sebagian ulama Malikiyah dan Hanafiyah, dalam kondisi seperti ini, seseorang hanya wajib melaksanakan shalat yang ia suci di waktu shalat tersebut. Misalnya darah berhenti di waktu ashar, maka yang wajib dilakukan hanya shalat ashar saja, tanpa perlu mengqadha shalat zuhur. Ini dikarenkana wanita haid dilarang untuk mengerjakan shalat. Dan ketika waktu zuhur darah haid masih keluar, maka shalat tersebut tidak wajib diqadha, karena memang bukan lagi kewajibannya.

Berdasarkan argumen yang dikemukakan masing-masing mazhab dan untuk lebih berhati-hati dalam pelaksanaan kewajiban, alangkah bijaknya bila kita memilih pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah dan Hanaabilah yang mewajibkan qadha shalat zuhur di waktu ashar dan qadha shalat maghrib di waktu isya bagi wanita yang baru suci dari haidnya. Wallahu a’lam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here