Sejarah Sunat Perempuan Pra-Islam

0
1422

BincangSyariah.Com – Tindakan medis berupa pembuangan atau memotong sebagian atau seluruh bagian dari klitoris disebut dengan khitan perempuan. Mungkin penyebutan istilah ini berbeda-beda dalam tiap negara. Masyarakat Indonesia biasa menyebutnya dengan khitan atau sunat perempuan, masyarakat Sudan menyebutnya dengan sirkumsisi pharaonic. Namun istilah resmi yang dikenal dalam dunia internsional adalah Female Circumcision atau FGM (Female Genitale Mutilation)

Khitan pada perempuan merupakan praktek atas dasar tradisi yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia. Secara historis, menurut keteranngan Wahbah Al Zuhayli di al Fiqh al Islam wa Adilatuhu sunat perempuan sudah ada jauh sebelum kehadiran agama Islam sejak zaman Mesir kuno yang meyakininya sebagai bagian dari ritual penyucian jiwa.

Bahkan dalam Jurnal Kajian Agama dan Filsafat disebutkan bahwa salah satu bukti praktek khitan perempuan dari Mesir kuno adalah ditemukannya perempuan dengan klitoris yang terpotong pada abad 16 SM. Bukti tersebut diperkuat dengan adanya relief-relief tentang FGM (Female Genital Mutilation) di Mesir yang berasal dari tahun 2800 SM

Namun jika telisik lebih dalam lagi, rupanya praktek khitan sendiri sudah ada sebelum peradaban Mesir kuno. Yakni praktek yang dilakukan Nabi Ibarahim pada masa usianya yang kedelapan puluh tahun. Dalam kitab al Jami al Sahih karya Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail al Bukhari menyebutkan:

عن ابي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إختنن إبراهيم عليه السلام وهو إبن ثمانين سنة بالقدوم

Dari Abu Harairah berkata: bahwa Rasulullah pernah bersabda: Ibrahim As telah melakukan khitan pada usia delapan puluh tahun dengan beliung (HR Bukhari)

Dan untuk praktek khitan perempuan kala itu dilakukan oleh Hajar, istri kedua Nabi Ibrahim dan ibu Nabi Ismail. Beliau menindik kedua daun telinganya sebagai tindakan yang diyakini untuk penyucian jiwa. Itulah kemudian istri pertama Nabi Ibrahim menjadi iri sehingga terdorong untuk melakukan hal yang sama. Pemaparan sejarah tersebut tercatat rapi dalam Takhrij al Dalalat Sam’iyah karya Abu al Hasan Ali ibn Muhammad al Khaza al Talmasani.

Baca Juga :  Bolehkah Menalak Istri yang Sedang Hamil?

Berdasarkan data historis di atas, tidak salah apabila dikatakan tradisi khitan juga dijumpai di zaman Mesir kuno. Zaman itu adalah………….. selengkapnya baca di BincangMuslimah.Com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here