Seharusnya Sudah Haid, Tapi Tertunda karena Konsumsi Obat Penunda Haid, Bolehkah Tetap Berpuasa?

0
934

BincangSyariah.Com – Berpuasa yang dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari di bulan Ramadhan merupakan kewajiban bagi segenap umat Islam tanpa memandang jenis kelamin. Laki-laki atau pun perempuan sama-sama dikenai kewajiban yang satu ini asalkan sudah cukup syarat dan tidak adanya halangan.

Hanya saja sebagaimana kita ketahui, perempuan yang memiliki kebiasaan datang bulan  atau menstruasi dalam setiap bulannya tidak bisa disamakan dengan laki-laki. Haid atau menstruasi yang hanya dialami perempuan menjadi titik pembeda antar keduanya dalam melaksanakan kewajiban puasa.

Perempuan yang sedang datang bulan tidak diperkenankan untuk melangsungkan kewajiban berpuasa, sementara laki-laki selalu saja dihadapkan dengan kewajiban berpuasa ini selama dalam batas kemampuan dan tidak ada halangan lain. Karena syarat wajib dan sahnya puasa bagi perempuan adalah terbebasnya dari haid atau datang bulang.

Namun sesuai dengan perkembangan zaman dunia medis menemukan obat penunda dan pengatur haid. Sehingga wanita yang ingin menyempurnakan puasanya sebagaimana laki-laki menemukan solusi untuk mengkonsumsinya guna tetap lancar menjalankan puasa pada hari-hari dibulan Ramadhan. Pertanyaanya sekarang, bagaimana hukum mengkonsumsi obat penunda dan pengatur haid bagi wanita?

Selanjutnya apakah dengan demikian tetap boleh berpuasa padahal seharusnya waktu itu sudah biasa haid?

Persoalan ini dijawab oleh Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Fatawa Mua’shirah halaman 550 hingga 551 sebagaimana berikut redaksinya:

وأنا أفضل شخصيا أن تصير الأمور على الطبيعة وعلى الفطرة، فما دام هذا الحيض أمرا طبيعيا  فطريا فليبق كما هو على الطبيعة التي جعلها الله عز وجل، ولكن إذا كان هناك نوع من الحبوب والأدوية تعاطيها بعض النساء  لتأجيل الحيض كما هو معروف من حبوب منع الحمل، وأرادت بعض النساء  أن يتناولن هذه الحبوب لتأخير العادة عن موعدها حتى لا تفطر بعض أيام رمضان، فهذا لابأس به بشرط أن تتأكد من عدم إقرارها بها، وذلك باستشارة أهل الذكر، وأهل الخبرة، والطبيب حتى لا تتضرر من تناول هذه الحبوب. فإذا تأكد لها ذلك وتناولت هذه الحبوب  وتأثرت العادة صامت، فإن صيامها مقبول إن شاء الله

Baca Juga :  Bidadari untuk Para Mujahid

“Pada dasarnya, saya pribadi tetap mengutamakan sesuatu berjalan sesuai dengan kodrat dan fitrahnya. Begitu juga dengan haid atau datang bulan, yang seharusnya tetap didasarkan pada sebuah kebiasaan yang sudah menjadi kodrat dan fitrah kaum perempuan yang dititipkan oleh Allah Swt semenjak masa baligh hingga masa monopusnya. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan, diproduksilah sebuah pil atau obat yang mana ketika dikonsumsi dapat menunda dan mengatur siklus haid bagi perempuan serta juga dapat menunda kehamilan. Bagi saya, perempuan yang mengkonsumsi obat ini dengan tujuan agar puasanya sempurna dibulan Ramadhan diperbolehkan asalkan obat ini tidak membahayakan menurut saran dokter. Selanjutnya hukum puasanya tetap dikatakan sah dan diterima oleh Allah Swt.”

Penjelasan Dr. Yusuf al-Qardhawi diatas memberikan beberapa kesimpulan mendasar untuk dijadikan sebagai pedoman bagi kaum perempuan yang terbiasa datang bulan.

Pertama, sejatinya tetap lebih baik membiarkan haid dan menstruasi datang sesuai dengan siklus atau kebiasaannya. Karena ia merupakan kodrat dan fitrah perempuan yang tentunya akan lebih selamat dan nyaman.

Kedua, menggunakan dan mengkonsumsi obat penunda atau pengatur haid bagi perempuan dengan tujuan menjaga kelancaran puasa ramadhan diperbolehkan dengan syarat tidak membahayakan.

Ketiga, pengguna tetap berkewajiban melangsungkan puasa selama tidak mengalami haid atau menstruasi. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa datangnya darah haid yang mencegah wanita untuk berpuasa. Berarti selama darah haid tidak datang maka tetap harus melanjutkan puasa, sekalipun disebabkan mengkonsumsi obat. Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here