Sebuah Renungan Tentang Istri untuk Para Suami

0
954

BincangSyariah.Com – Ketika seorang wanita menjadi istri, maka ia telah memulai babak baru kehidupannya. Setelah melalui masa hidup bersama bapak dan ibunya serta saudara-saudaranya atau hidup mandiri sendiri, kini ia harus mengarungi bahtera hidup bersama suaminya. Dan berikut adalah sebuah renungan tentang istri untuk para suami yang sangat reflektif dari Ali Amin yang pernah dimuat di dalam kolom “Fikrah”, koran Al-Akhbar, Kairo, Juli 1959.

Kalau dia diam, kita menuduhnya berakal kosong sehingga tidak ada yang dapat dia katakan. Sedang kalau dia berbicara kita memakinya dengan cerewet. Dia lupa bahwa tugas istri adalah menenangkan pikiran suami yang sudah demikian letih dengan aneka problem dan beban.

Kalau dia keluar rumah, kita menilainya tidak betah di rumah, mengabaikan urusan anak-anaknya, dan membiarkan mereka dididik oleh pembantu. Sedang kalau dia mengurung dirinya di dalam rumah kita berkata bahwa dia enggan menambah wawasannya melalui pertemuan dengan orang lain atau malas menambah pengetahuannya menyangkut apa yang terjadi di luar batas rumah.

Kalau dia tidak bertanya tentang ihwal pekerjaan suaminya, kita menilainya sebagai perempuan yang tidak memiliki arti, tidak dapat meningkat bersama suaminya menuju masa depan, dan tidak juga berusaha untuk berbagi kesulitan dengan suaminya. Sedang bila ia menanyakan ihwal pekerjaan suaminya, maka kita berkata bahwa dia ingin mencampuri segala urusan suaminya.

Kalau dia sayang ibunya dan menggunakan setiap kesempatan untuk mengunjunginya, maka menilainya masih kekanak-kanakan; berlari menuju ibu untuk minta saran buat setiap langkah yang diayunkannya. Sedang bila ia mengurangi kunjungannya kepada ibunya, ia dinilai perempuan yang angkuh yang enggan meraih manfaat dari pengalaman ibunya.

Kalau dia berbicara tentang politik, kita berkata bahwa dia ingin memamerkan pengetahuannya. Sesungguhnya kalau dia berbicara menyangkut tetangga, kita berkata bahwa dia seorang perempuan yang sempit wawasannya, yang tidak memperhatikan kecuali persoalan-persoalan yang remeh.

Baca Juga :  Suami Bekerja Keluar Kota, Ini Batas Waktunya

Kalau dia berbicara tentang cinta, ia dinilai sebagai wanita picik yang menduga bahwa dunia hanyalah cinta dan asmara.

Kalau dia mengabaikan pakaiannya, kita menilainya perempuan yang bodoh yang menduga bahwa tujuan kerapian adalah memancing suami bukan untuk mempertahankannya. Tetapi bila dia memperhatikan pakaiannya kita menuduhnya masih remaja dan bahwa dia lupa bahwa suaminya yang membeli untuknya pakaian melalui keringat, darah, dan stress yang dialaminya.

Kalau dia meminta kepada suaminya agar diajak ke pesta, kita menuduhnya sangat egois dan lupa bahwa suaminya butuh istirahat setelah bekerja keras. Sedang kalau dia mengusulkan kepada suaminya agar tetap di rumah, kita menuduhnya sebagai pencemburu yang memenjarakan suami di rumah dan menghalanginya menghirup udara segar.

Demikianlah. Tidakkah Anda sependapat bahwa kita telah menzalimi istri masa kini?

Sumber: Artikel Kasihan Para Istri, Apa yang Harus Dilakukannya? dalam buku Yang jenaka dari M. Quraish Shihab karya Prof. M. Quraish Shihab halaman 155-156

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here