Sakdiyah Ma’ruf : Menggelitik Budaya Patriarki dan Konservatisme Beragama Lewat Komedi

0
74

“Kita sebagai muslim tidak boleh berkiblat ke barat,” 

“Saya pikir kalau gak menghadap barat lalu saya akan shalat hadap mana?”

“Saya dengan senang hati melihatmu di neraka,”

“Saya pikir kalau anda bisa lihat saya dibakar di neraka bukankah anda juga di neraka?”

BincangMuslimah.Com – Itu adalah cuplikan punchline yang Sakdiyah Ma’ruf masukkan dalam standup komedi yang ia bawakan. Kritikan bernada penghakiman seperti ini sering ditujukan kepada Sakdiyah Ma’ruf dengar sejak ia memutuskan berdakwah lewat komedi.

Beberapa tahun terakhir praktek beragama yang sempit, rigid dan penuh penghakiman masif terjadi. Seolah tidak ada ruang perbedaan dalam cara mengabdi pada Tuhan, seolah tidak ada dialog antar perbedaan.

“Tidak ada ruang untuk dialog antar kebenaran, saya tidak berbicara tentang A salah atau B benar. Tapi dialog antar kebenaran,” ujar Sakdiyah Ma’ruf dalam diskusi rutin bulanan yang digelar Komunitas Musisi Jakarta (KOMUJI), pada akhir bulan Oktober kemarin.

Menurut Sakdiyah yang terlahir di komunitas yang sangat konservatif di daerah Pekalongan, Jawa Tengah, sesungguhnya kekakuan dalam beragama ini adalah keseharian yang sering ditemukan di lingkungannya sejak kecil.

“Di lingkungan saya dulu ungkapan-ungkapan tersebut sebatas kepada sesama golongan, tapi di era media sosial semua komentar-komentar yang seharusnya bersifat privat tersebut berhamburan di medsos dan dibaca banyak orang sehingga menjadi hate speech,” jelas perempuan peranakan Arab yang memilih berdakwah lewat komedi tersebut.

Mungkin karena terlahir di komunitas yang mengaku keturunan Arab yang konserfatif dan patriarki, Ia merasakan bahwa restriksi terhadap perempuan, mulai dari pernikahan anak, pemisahan ruang publik antara laki-laki dan perempuan yang dibungkus tafsir yang bersifat monolotik sudah menjadi keseharian di masyarakat di mana ia dibesarkan.

Baca Juga :  Seri Wanita Istihadhah: Mubtada'ah Mumayyizah (Bagian III)

Menurut Sakdiyah, dalam sistem yang membuat masyarakat menjadi kaku, berpikiran rigid dan penuh penghakiman tersebut, perempuan adalah lapis terbawah dalam lapisan itu.

Seperti bagaimana kebolehan melakukan kekerasan terhadap perempuan menemukan pembenarannya dalam tafsir yang rigid tentang kewajiban istri yang tidak patuh, “lalu jika suami yang tidak patuh bagaimana?” ujar komika muslimah itu dalam premis yang ia lontarkan dalam komedinya.

Hidup di tengah lingkungan kontradiksi serta krisis indentitas dan banyaknya tekanan sosial terhadap perempuan, Sakdiyah tumbuh merindukan Indonesia yang katanya meski berbeda-beda tapi tetap satu jua.

“Indonesia adalah imajinasi saya tentang hidup dan masa depan,” ujarnya.

Tapi sayang, ternyata konservatifme yang ia tolak  telah menyebar secara masif pula di masyarakat Indonesia. Sehingga ia merasa tidak mendapatkan Indonesia yang dia impikan…… (Selengkapnya silakan baca di BincangMuslimah.Com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here