Perempuan Berhak Bekerja dan Mengelola Uangnya Sendiri

0
524

BincangSyariah.Com – Tidak semua perempuan bisa begitu saja menggantungkan seluruh hidupnya pada laki-laki. Andai pun bisa, akses tersebut belum tentu berlaku selamanya. Tak jarang mereka akan mengalami berbagai kondisi yang menuntutnya untuk bekerja dan hidup di atas kakinya sendiri.

Apabila dikerucutkan pembahasan ini bagi seorang istri saja, maka kondisi yang dimaksud ini bisa dicontohkan dengan seorang perempuan yang menjadi janda akibat ditinggal suami. Bisa juga istri dari seorang laki-laki, yang mana sang suami belum mampu mencukupi kebutuhan keluarga, karena berbagai alasan. Sehingga, sang istri pun akhirnya dituntut untuk turut berikhtiar sendiri dalam rangka mencukupi kebutuhan keluarga. (Baca: Bernarkah Muslim Tidak Boleh Bekerja pada Non-Muslim?)

Jelas ini hanya contoh, tetapi realistis saja, kondisi tersebut tentu banyak dijumpai secara nyata di lapangan. Menimbang beragai alasan tersebut, perlu rasanya bagi seorang istri untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai kenyataan dalam hidupnya.

Islam sejatinya membuka kesempatan seluas-luasnya bagi setiap pemeluknya untuk mengais karunia Tuhannya dengan jalan bekerja. Tidak ada pembatasan bagi laki-laki saja, atau bagi perempuan saja. Akan tetapi yang dijatuhi kewajiban adalah lelaki yang menjadi kepala keluarga.

Adapun batasan yang diberikan Islam ialah pada garis halal dan haram. Apabila cara yang ditempuh halal, maka yang dihasilkan pun halal. Begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kemerdekaan yang sama untuk bekerja dalam rangka menyejahterakan hidupnya sendiri dan keluarganya.

Baik karena alasan di atas atau tidak, untuk dapat meraih kehalalan itu, seorang istri memang disyaratkan untuk mengantongi izin dari suaminya terlebih dahulu. Akan tetapi istri diberikan keistimewaan, yakni memiliki legalitas penuh untuk mentasarufkan hasil jerih payahnya. Hal ini sangat adil apabila meninjau bahwa istri menjalankan kegiatan yang sejatinya hanya wajib ditanggung oleh suami.

Baca Juga :  Hukum Wanita Memakai Cadar ketika Shalat

Perlu diingat kembali, apabila seorang istri bekerja dan mampu mencukupi seluruh kebutuhan keluarga, hal ini bukan berarti dapat menggugurkan kewajiban suami untuk menafkahi keluarga. Juga bukan berarti melegalkan istri untuk berubah menjadi kepala keluarga. Karena istri yang bekerja itu statusnya membantu suami, bukan menanggung kebutuhan suami.

Terdapat sebuah kisah antara Zainab dan Abdullah Ibnu Mas’ud, terkait kebolehan seorang istri untuk bekerja dan memberikan sedekah kepada suaminya. Bersumber dari sebuah hadis yang terdapat dalam kitab Shahih Al-Bukhari nomor 1466 dan Shahih Muslim nomor 1000.

Suatu saat Zainab berkata kepada suaminya, “Engkau adalah lelaki yang berpenghasilan sedikit, sedangkan Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Maka datangi dan bertanyalah kepada beliau, bolehkah kami bersedekah kepadamu. Jika boleh, aku akan menyedekahimu, andai tidak, maka akan kuberikan pada yang lain.”

“Kamu saja yang bertanya kepada Rasulullah” jawab Abdullah. Zainab lantas berangkat untuk menghadap Rasulullah. Ketika sampai di tempat Rasulullah, Zainab bertemu dengan perempuan Anshar yang hendak bertanya kepada Rasulullah tentang permasalahan serupa.

Tidak lama berselang, keluarlah bilal menemui kedua perempuan itu. Zainab pun menitipkan pesan kepada Bilal supaya disampaikan kepada Nabi Saw., “Temuilah Rasulullah Saw., sampaikan bahwa ada dua perempuan di depan pintu yang hendak bertanya kepada beliau. Bolehkan apabila perempuan bersedekah kepada suaminya dan anak yatim yang diasuhnya? Dan jangan kau kabarkan siapa kami!”

Masuklah Bilal menemui Rasulullah Saw., kemudian menanyakan permasalahan sebagaimana yang dipesankan Zainab. Nabi Muhammad bertanya kepada Bilal, “Siapa kedua perempuan itu?”

“Zainab” jawab Bilal.

Rasulullah kembali bertanya, “Zainab yang mana?”

“Istri Abdullah” pungkas Bilal.

Rasulullah kemudian memberikan jawaban dari pertanyaan tersebut, beliau bersabda, “Bagi keduanya terdapat dua pahala, yaitu pahala karena berbuat baik kepada kerabat dan pahala sedekah.”

Berdasarkan cerita di atas, dapat dimengerti bahwasanya perempuan memiliki hak kepemilikan penuh atas harta yang dimilikinya. Baik orang tua, saudara, bahkan suaminya sekali pun, tidak memiliki hak untuk mengintervensi perempuan itu dalam mengelola hartanya. Dengan catatan, selama jalan yang ditempuh tidak bertentangan dengan syariat Islam. Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here