Mengenal Aisyah Bintusy Syathi: Mufasir Wanita dari Mesir

0
476

BincangSyariah.Com – Wanita yang memiliki nama asli Aisyah Abdurrahman ini lahir pada tanggal 6 November 1913 M. di wilayah sebelah barat Delta Nil, tepatnya di Dumyat Mesir. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga muslim yang taat dan tergolong konservatif. Abdurrahman, ayah Bintusy Syathi adalah guru di sekolah teologi di Dumyat.

Ia berasumsi  bahwa seorang anak gadis yang telah menginjak masa remaja harus tinggal di rumah untuk belajar. Pada masa kecil, Bintusy Syathi hampir tidak memiliki waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Karena ayahnya selalu mengikutsertakan Bintusy Syathi baik di rumah maupun di kantornya di Universitas al-Bahr untuk belajar sampingan semacam “ngaji”, ketika itu ia sering mendengar Alquran yang dibaca ayahnya dan temannya. Berkat kemampuan intelektual yang dimiliki oleh Bintusy Syathi, ia mampu menghafal beberapa ayat Alquran, terutama surah-surah pendek yang ia dengar berulangkali.

Pada musim panas tahun 1918 sewaktu ia berumur lima tahun, ia mulai belajar menulis dan membaca di bawah bimbingan Syekh Murs di Shubâ Bakhûm, desa ayahnya. Di bawah bimbingan Syekh Murs inilah, ia mulai menghafal Alquran. Pelajaran Alquran ini dilanjutkan setiap musim panas hingga ia dapat menghafal Alquran secara keseluruhan. Pada musim selanjutnya, musim gugur dan musim dingin ia kembali ke kampung halamannya, Dumyat dan diajar oleh ayahnya tata bahasa Arab dan teologi, serta membimbingnya menghafal.

Pada tahun 1920, Bintusy Syathi menyatakan dengan terus terang hasratnya untuk masuk sekolah formal, akan tetapi ia sangat bersedih karena keinginan tersebut ditolak oleh ayahnya. Menurut ayahnya, tidak layak bagi putri syekh bersekolah di sekolah sekuler, dalam pandangan ayahnya seorang anak perempuan seharusnya belajar di rumahnya. Rupanya pandangan ini didasarkan pada pemahaman terhadap surah al-Ahzab QS (33): 32-34, dimana ayat tersebut mengindikasikan agar perempuan itu berada di rumah dan larangan untuk berhias serta bertingkah laku seperti orang Jahiliyyah.

Namun Ibu Bintusy Syathi, Faridah Abdussalam Muntasir, merasa kasihan terhadap anaknya yang tidak mendapat restu dari ayahnya untuk melanjutkan studi, ibunya menyampaikan hal itu kepada kakeknya, Syekh Ibrahim Damhuji. Setelah didahului pembicaraan khusus dengan kakek Bintusy Syathi, ayahnya kemudian menyetujui keputusan cucunya untuk belajar pada level yang lebih tinggi dengan syarat-syarat tertentu.

Setelah menamatkan pelajaran pada pada sekolah dasar dengan nilai istimewa. Bintusy Syathi kembali meminta kepada kakeknya agar ia berkenan mempengaruhi anaknya (ayah Bintusy Syathi) supaya ia dapat mengizinkannya untuk melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi.

Namun sangat disayangkan, ayahnya tetap menolak. Akan tetapi di saat pendaftaran masuk dimulai, kakeknya berusaha memasukannya di sekolah. Setelah menamatkan sekolah menengah pertama selama tiga tahun, Bintusy Syathi tetap berkeinginan untuk melanjutkan studi di sekolah keguruan, tetapi sungguh sangat disayangkan, karena belum ada sekolah menengah lanjutan atas pada saat itu. Di samping itu ia sudah mencapai usia 13 tahun yang berarti sudah waktunya untuk tinggal di rumah sesuai doktrin keagamaan ayahnya.

Baca Juga :  Lupa Doa Sebelum Berhubungan Intim, Apa yang Harus Dilakukan?

Sewaktu ayahnya mengadakan suatu perjalanan selama sepuluh hari, ibunya mendorong Bintusy Syathi untuk pergi ke al-Mansyûrah untuk mengikuti test masuk sekolah guru. Setelah pengumuman lulus ujian, Bintusy Syathi tidak menerima surat tanda lulus dari guru sekolah sementara semua temannya yang telah mengikuti test yang sama telah menerima surat tanda lulus.

Karena itulah, Bintusy Syathi memutuskan untuk mengirim surat kepada sekolah yang bersangkutan untuk menanyakan tentang masalahnya, kemudian dia menerima surat yang sangat mengejutkan yang memberitahukannya bahwa permohonannya telah ditarik kembali oleh ayahnya.

Ketika itu ia sangat kaget dan terganggu mendengar berita tersebut, sebagai bentuk protes atas ayahnya maka ia “mogok makan”, sehingga semua keluarga dan teman-teman ayahnya kawatir akan kesehatannya. Selanjutnya mereka menyampaikan kepada ayah Bintusy Syathi’ mengenai situasi itu sekaligus meminta kepada ayahnya agar mengirimkan kembali berkas permohonannya. Mendengar kabar tersebut, ayahnya mengirim surat (yang dikirim bukanlah surat, akan tetapi blanko kosong) ke sekolah.

Akhirnya Bintusy Syathi sangat beruntung karena mendapat persetujuan dari atasan ayahnya, Syekh Mansûr Ubayy Haykal al-Sharqâw untuk melanjut studinya. Bintusy Syathi belajar pada sekolah keguruan di Tantâ hanya satu tahun dan segera setelah tamat, ia pulang kampung dan berhenti sekolah karena kakeknya telah meninggal, dan ayahnya mengharapkannya tinggal di rumah.

Musibah tersebut membuat Bintusy Syathi dan ibunya merasa bahwa mereka kehilangan orang penting yang selalu mendukung dan membantunya untuk melanjutkan studinya. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk memenuhi ambisi-nya untuk mengejar studi lebih lanjut adalah meminjam buku yang berhubungan dengan pendidikan keguruan yang diperlukan untuk tahun yang ketiga dari temannya untuk bersiap-siap menghadapi ujian.

Setelah ia berhasil menyelesaikan studinya dari sekolah keguruan tersebut dengan kualifikasi rangking pertama dari sejumlah seratus tiga puluh peserta, ia menjadi seorang guru di al-Manshûrah. Di samping ia aktif mengajar, ia menghabiskan waktunya menelaah berbagai buku sebagai persiapan tes masuk perguruan tinggi.

Setelah dua tahun berkecimpung di dunia perguruan tinggi, Bintusy Syathi memperoleh gelar BA dan pada tahun 1939 ia mendapatkan sarjana dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab dari Universitas Fuad I di Cairo. Kemudian pada tahun 1941 ia menyelesaikan program master dalam bidang studi yang sama. Akhirnya ia dianugerahi Doktor dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab pada tahun 1950 pada perguruan tinggi yang sama.

Baca Juga :  Karamah Jumat Bersama Syekh Ali Jumah

‘Aisyah Abdurrahman yang dikenal luas dengan nama samarannya, Bintusy Syathi, pada era modern telah mengukuhkan dirinya, karena studinya mengenai sastra dan tafsir Alquran. Bintusy Syathi’ memulai meniti karirnya sebagai guru pada sekolah ibtidâiyah di al-Mansurah, sekitar tahun 1929. Kemudian pada tahun 1932, dia ditransfer ke suatu perguruan tinggi oleh penyedia pengajaran Kementerian Pendidikan untuk mengelola laboratorium bahasa Inggris dan Prancis.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1934, setelah ia memperoleh BA, ia dipromosikan untuk menjadi sekretaris pada perguruan tinggi tersebut. Selain menekuni dunia pendidikan, ia juga aktif menulis pada berbagai media massa bahkan ia pernah menjadi editor surat kabar. Karir jurnalistiknya berawal ketika ia masih belajar di sekolah menengah pertama. Pada tahun 1933, ia dinobatkan sebagai editor utama Majalah al-Nahdhah al-Nisâiyah, di samping itu ia aktif pula menulis di surat kabar terkemuka Mesir, al-Ahrâm. Kendatipun demikian, hal itu sama sekali tidak mempengaruhi karir akademiknya.

“Bint al-Syâthi” yang berarti perawan pesisir atau putri pantai sengaja dijadikan nama samarannya dalam tulisannya yang dikirim ke majalah dan surat kabar agar tidak dikenal oleh ayahnya yang masih berpikiran kolot. Ia khawatir bahwa jurnal dan surat kabar yang memuat cerpen dan artikelnya akan disebarluaskan distribusinya sehingga mungkin saja dapat menjangkau tempat kelahirannya. Ia dinikahi dosennya sendiri di Kampus yakni ustadz Amin Al Khauli pemilik Al Shalun Al Adabi wa Al Fikri yang dikenal dengan sekolah Al Amna’. Dan dikaruniai 3 orang anak.

Pada tahun 1939 Bintusy Syathi menjadi asisten dosen di Universitas Cairo. Tiga tahun kemudian, yakni pada tahun 1942, dia menjadi inspektur Bahasa dan Sastra Arab pada Kementerian Pendidikan, dan pada tahun yang sama dia dipercayakan menjadi editor pada majalah terkemuka di Mesir, al-Ahrâm.

Sejak tahun 1950-1957, dia bekerja sebagai dosen bahasa Arab di Universitas Ain Shams. Pada tahun 1957-1962, ia menjadi asisten profesor sastra Arab pada universitas yang sama, pada tahun 1962 dia menjadi professor, dan pada tahun 1967 dia dikukuhkan menjadi Profesor dalam bidang Bahasa dan Sastra Arab di Universitas Ain Shams. Sejak itulah ia menjabat Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab pada Universitas Ain Shams Mesir dan kadang-kadang menjadi Guru Besar Tamu pada Universitas Islam Umm Durman, Sudan.

Baca Juga :  Ummu Rumman: Sosok Istri Abu Bakar Al Shiddiq yang Tegar

Di samping itu ia adalah salah seorang Guru Besar Tamu Pada Universitas Qarawiyyin, Maroko. Pada setiap kesempatan dalam memberi kuliah dan konferensi pada tahun 60-an, ia telah berbicara di hadapan para sarjana di Roma, Aljazair, New Delhi, Bagadad, Kuwait, Yerussalam, Rabat, Fez, Khartoum, dan lain-lain.

Bintusy Syathi berkali kali dinobatkan sebagai pakar ilmu sastra oleh beberapa institusi, pemerintah Mesir (1978), pemerintah Kuwait (1988) dan Raja Faishal (1994). Ide-ide briliannya menarik perhatian beberapa penerbit dan media untuk menerbitkan karya-karyanya. Tema-tema yang diangkat lebih banyak berkisar tentang sastra, sejarah dan tafsir Alquran.

Tapi tidak terbatas sampai di situ, ia juga menulis tentang isu-isu yang banyak berkembang di dunia, seperti tentang posisi wanita yang telah mengalami perubahan, perjuangan orang-orang Arab memerangi imperialisme Barat dan Zionisme. Karya Bintus al-Syaṭhi’ sangat banyak, seluruh karya yang dilahirkannya menjadi saksi kehebatannya.

Ada sekitar 40 judul buku dalam bidang dirasah islamiyyah, fikih, tafsir, sastra, dan lainya telah terbit di Mesir dan beberapa negara Arab. Selain itu masih banyak lagi karya-karya yang dilahirkannya dalam berbagai macam bidang. Diantara karya karyanya yang berbentuk non fiksi adalah: al-Ghufran li Abi al-‘Ala’ al-Ma‘arri.

Adapun at-Tafsir al-Bayani lil Qur’anil Karīm merupakan magnum opus Bintusy Syathi, yang terdiri dari dua jilid. Jilid pertama dicetak pada tahun 1966 M dan 1968 M. Sedangkan jilid kedua diterbitkan pada tahun 1969 M. Meskipun karya tafsir yang ditulisnya itu hanya terdiri dari empat belas surat pendek, namun publik sangat apresiatif dengan penerbitan karya ini.

Pada hari Selasa, 1 Desember 1998, Bintusy Syathi menghembuskan nafas terakhirnya. Ia wafat dalam usia 85 tahun, karena serangan jantung mendadak. Bintusy Syathi telah meninggal dunia tapi namanya akan selalu hidup dan dikenang karena telah memberikan sumbangsih untuk kemajuan ilmu-ilmu Islam di bidang Tafsir. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

(Diolah dari artikel Aisyah Abdurrahman bint Syathi, Mufassir Wanita Zaman Kontemporer karya Fatimah Bintu Thahari dalam Dirosat Journal of Islamic Studies dan artikel Corak dan Metode Interpretasi Aisyah Abdurrahman Bint Syathi karya Wahyuddin dalam Jurnal Al Umm).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.