Mengapa Wanita Haid Wajib Qadha Puasa Tapi Shalat Tidak?

0
83

BincangSyariah.Com – Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam masa haid seorang wanita tidak diwajibkan melaksanakan shalat dan juga mengqadhanya. Lantas, apa  hikmah di balik wanita haid wajib qadha puasa Ramadhan, akan tetapi shalat tidak wajib diqadha? Nah, untuk mengetahui jawabannya, mari simak ulasan berikut ini:

Sekurang-kurangnya terdapat dua hikmah di balik gugurnya kewajiban shalat bagi wanita haid yang disampaikan oleh Syekh Ahmad Ali al-Jurjawi dalam kitabnya Hikmat at-Tasyri’ wa falsafatuhu (juz 1, hal 98-99):

Pertama, sulitnya untuk bersesuci bagi wanita dalam masa haid. Hal ini dikarenakan darah sering keluar setiap saat pada saat haid. Oleh karena itu sulit untuk bersuci lantaran karakter alamiah dari seorang wanita (haid) tersebut. (Baca: Niat Lengkap Qadha Shalat yang Terlewat Disertai Latin dan Terjemahan)

Kedua, gugurnya kewajiban shalat bagi wanita saat haid merupakan kasih sayang untuknya. Hal ini dikarenakan seandainya wanita diwajibkan mengganti shalatnya saat haid maka akan terakumulasi jumlah yang sangat banyak dan hal tersebut tidak maslahat bagi wanita (memberatkan).

Imam Ibnu Daqiq al-‘Id (w. 702 H) juga menuturkan perihal hikmah gugurnya kewajiban qadha shalat bagi wanita haid. Hal ini ini beliau sampaikan dalam kitabnya Ihkam al-Ahkam Syarh ‘Umdat al-Ahkam sebagai berikut:

واللذى ذكره العلماء من المعنى في ذالك : أن الصلاة تتكرر. فإيجاب قضائها مفض إلى حرج ومشقة. فعفي عنه بخلاف الصوم فإنه غير متكرر فلا يفضي قضائها إلى حرج.

“Para ulama menyebutkan hikmah di balik gugurnya kewajiban mengqadha (mengganti) shalat bagi  wanita haid. Sesungguhnya shalat  itu dilakukan berulang kali (5 kali sehari), sehingga kewajiban mengganti shalat tersebut bisa mengantarkan kepada kesulitan (masyaqqah). Oleh karena itu, hal tersebut ditoleransi (dimaafkan) bagi wanita haid. Berbeda dengan puasa, puasa itu tidak dilakukan berulang kali (hanya setahun sekali), maka hal itu tidak menyebabkan kesulitan untuk menggantinya.”   (Ibnu Daqiq al-‘Id, Ihkam al-Ahkam Syarh ‘Umdat al-Ahkam, hal 126)

Berikut dalil yang menjadi argumen kewajiban tetap mengganti puasa Ramadhan bagi wanita haid yakni hadis dari sayyidah ‘Aisyah Ra.:

عَنْ مُعَاذَةَ قَالَتْ سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

Dari Mu’adzah ia berkata, saya pernah bertanya kepada sayyidah A’isyah Ra. aku berkata kepadanya, bagaimana orang yang haid itu harus mengganti puasa namun tidak wajib mengganti shalat. Lantas ia (‘Aisyah Ra.) bertanya kepadaku, apakah kamu orang haruriyyah (kelompok khawarij)? Lalu aku pun menjawab, aku bukan orang haruriyyah tetapi aku hanya bertanya. ‘Aisyah lantas mengatakan “bahwa hal itu (haid) kami alami kemudian kami diperintahkan untuk mengganti (qadla) puasa tetapi tidak diperintahkan untuk mengganti shalat.” (Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi, Sahih Muslim, jus 1 hal 182)

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here