Menalak Istri dalam Keadaan Mabuk, Apakah Talaknya Jatuh?

0
1377

BincangSyariah.Com – Di antara syarat talak adalah suami yang mengucapkan talak itu berakal. Ini berarti orang yang dalam keadaan tidak sadar, tidak sah talaknya. Contohnya adalah orang yang dalam keadaan mabuk. Barangkali masalah ini sudah biasa terjadi di masyarakat, ada suami yang sebelumnya memiliki masalah dengan istrinya menjatuhkan talak dalam keadaan mabuk karena memang ia pencandu miras. Sementara mabuk itu hukumnya haram. Lalu bagaimana status hukum talak dalam kondisi mabuk itu, apakah tetap jatuh talaknya?

Jika suami dalam keadaan mabuk, maka dilihat dulu, apakah mabuknya itu disengaja atau tidak. Karena mabuk itu ada dua keadaan; pertama, orang yang mabuk dalam keadaan tidak sengaja. Misalnya karena mengkonsumsi suatu makanan, kemudian mabuk padahal tidak disengaja untuk mabuk, lalu dalam keadaan seperti itu ia menalak istrinya. Misal lainnya adalah seperti mabuk dalam keadaan dipaksa. Kondisi seperti ini tidaklah jatuh talak berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama.

Kedua, orang yang mabuk dalam keadaan sengaja. Seperti seseorang yang meminum miras dalam keadaan tahu dan atas pilihannya sendiri, lalu dalam kondisi semacam itu ia menalak istrinya. Hukum talak dalam kondisi kedua ini diperselisihkan oleh para ulama. Jumhur atau mayoritas ulama mengatakan bahwa talaknya itu jatuh. Sedangkan ulama lainnya seperti pendapat lama dari Imam Asy Syafi’i, pendapat yang dipilih oleh AlMuzani (murid Imam Syafi’i), pendapat Ath Thahawi (salah seorang ulama besar Hanafiyah) dan pendapat lain dari Imam Ahmad, menyatakan bahwa talak dalam keadaan mabuk sama sekali tidaklah sah entah mabuknya disengaja ataukah tidak. Pendapat terakhir ini menjadi pendapat Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah.

Pendapat yang tepat adalah tidak sahnya talak dalam keadaan mabuk meski mabuknya dengan sengaja atas pilihan sendiri. Alasannya adalah sebagai berikut:

Berdasarkan firman Allah Swt dalam surah an-Nisa’ ayat 43:

Baca Juga :  Syarat Ibadah Haji bagi Perempuan (1)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.” (QS. anNisa: 43)

Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa perkataan orang yang mabuk tidak teranggap karena ia sendiri tidak mengetahui apa yang ia ucap. Salat dan ibadahnya tidaklah sah karena saat itu ia tidak berakal. Begitu pula dalam hal akad talak, talaknya tidak sah, karena ia sama halnya dengan orang yang tidur atau orang gila (sama-sama tidak memiliki niat).

Kemudian hadi Nabi saw:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Setiap amalan tergantung pada niatnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Orang yang mabuk tentu saja tidak memiliki niat dan tidak memiliki maksud. Padahal berbagai macam akad (termasuk talak) disyaratkan dengan adanya niat.

Selanjutnya, riwayat sahih dari ‘Utsman radhiyallahu ’anhu, ia berkata:

كُلُّ الطَّلاَقِ جَائِزٌ إِلاَّ طَلاَقُ النَّشْوَانِ وَ طَلاَقُ المجْنُوْنَ

“Setiap talak itu boleh (sah) selain talak yang dilakukan oleh orang yang mabuk atau orang yang gila.” (HR Sa’id bin Manshur, ‘Abdur Rozaq, Ibnu Abi Syaibah, Al Baihaqi. Syaikh Abu Malik mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang mabuk dalam keadaan sengaja atau tidak, talaknya tidak sah. Karena saat mabuk ia tidak memiliki akan sehingga tidak ada niat. Wallahu ‘alam!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here