Hukum Suami Membelikan Pulsa dan Paket Internet untuk Istri

0
2043

BincangSyariah.Com – Suami berkewajiban memberikan nafkah kebutuhan pokok meliputi pakaian, makanan dan tempat tinggal untuk keluarga, sebab semua itu adalah hak bagi keluarga. Dalam hadis dijelaskan:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ هِنْدَ أُمَّ مُعَاوِيَةَ, امْرَأَةَ أَبِي سُفْيَانَ أَتَتِ النَّبِيَّ صَلى الله عَليهِ وسَلم فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ الله إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ, وَإِنَّهُ لَا يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَبَنِيَّ إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَعْلَمُ, فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ جُنَاحٌ؟ فَقَالَ: خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ.

Diriwayatkan oleh Aisyah bahwa Hindun Umu Muawiyah (istri Abi sufyan) mendatangi Nabi dan bertanya, Rasul, Abu Sufyan itu memang benar-benar pelit. Dia tidak memberikan kebutuhanku dan anakku kecuali sesuatu yang aku ambil tanpa sepengetahuanya, apakah aku berdosa? Rasul menjawab, Ambillah yang bisa mencukupimu dan anakmu dengan baik.

Di samping nafkah wajib, suami diperintahkan untuk menyenangkan istri dengan memberikan sesuatu hal yang lebih dari sekedar nafkah wajib bila memungkinkan. (Suami Tidak Memberikan Nafkah, Bolehkah Istri Menuntut ke Pengadilan)

Dalam ayat Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:

 وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan pergaulilah mereka ( para istri ) dengan baik ( Q.S.al-Nisa, ayat 19 ).

Ayat di atas memberi pesan kepada para suami untuk berbuat baik kepada para istri, baik perkataan maupun perbuatan. Dalam al-Mausuah al-Fiqhiyah (juz 8 vol.65) disebutkan:

يُسْتَحَبُّ لِلزَّوْجِ تَحْسِينُ خُلُقِهِ مَعَ زَوْجَتِهِ وَالرِّفْقُ بِهَا ، وَتَقْدِيمُ مَا يُمْكِنُ تَقْدِيمُهُ إِلَيْهَا مِمَّا يُؤَلِّفُ قَلْبَهَا ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى : وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Disunahkan bagi seorang suami berakhlak atau berbuat baik kepada istri dan lembut denganya, menyediakan segala sesuatu yang mencondongkan ( menambah rasa cinta ) pada hati sang istri, semua ini dikarenakan adanya anjuran dari ayat Wa asyiruhunna bil maruf.

Dalam hadis pun dijelaskan:

Baca Juga :  Bidadari untuk Para Mujahid

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Sebaik-baik kalian itu mereka yang paling baik terhadap keluarga, dan aku paling baik terhadap keluargaku dan ketika saudara kalian meninggal maka tinggalkan kejelekannya (HR. al-Tirmidzi dan al-Darimi).

Hadis di atas memerintahkan kepada suami untuk berbuat baik kepada keluarga dengan cara membahagiakan, berpekerti baik, menjaganya dari hal-hal yang membahayakan mereka. Dalam al-Mausuah al-fiqhiyah al-Kuwaitiyah (juz 24 vol.65) dijelaskan:

يُسْتَحَبُّ لِلزَّوْجِ َتَقْدِيمُ مَا يُمْكِنُ تَقْدِيمُهُ إِلَيْهَا مِمَّا يُؤَلِّفُ قَلْبَهَا

Bagi suami itu disunahkan menyiapkan segala hal yang membuat hati istri bertambah senang,

Berdasarkan keterangan di atas disimpulkan bahwa hukum membelikan pulsa dan paket internet pada dasarnya bukan termasuk kewajiban nafkah yang harus diberikan kepada istri. Akan tetapi dalam rangka muasyarah bil-ma’ruf atau menyenangkan istri, maka disunahkan memberikan pulsa dan paket internet selama tidak menjadi perantara yang berdampak negatif atau digunakan hal-hal yang diharamkan syariat. Sebagaimana kaidah:

الْوَسَائِلُ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ

 Perantara itu tergantung tujuannya

Artinya, jika pulsa atau internet yang digunakan istri untuk kemanfaatan, misalnya membantu perekonomian keluarga dengan cara berjualan online yang halal, itu malah bagus. Tapi sebaliknya, bila pulsa itu digunakan untuk kemaksiatan, tentu memberikannya juga haram.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here