Hukum Makmum Perempuan Membaca Amin dengan Suara Keras dalam Shalat Berjemaah

1
164

BincangSyariah.Com – Ketika kita melaksanakan shalat berjemaah di masjid dan selesai membaca surah Al-Fatihah, umumnya yang membaca Amin dengan suara keras adalah jemaah laki-laki, sementara jemaah perempuan biasanya tidak kedengaran mengeraskan bacaan Amin. Sebenarnya, bagaimana hukum makmum perempuan membaca Amin dengan suara keras dalam shalat berjemaah, apakah dilarang?

Pada dasarnya, membaca Amin setelah membaca surah Al-Fatihah disunnahkan bagi siapa saja, laki-laki maupun perempuan, masih kecil maupun sudah mukallaf, shalat dalam keadaan berdiri maupun duduk, shalat berjemaah maupun shalat sendirian, atau lainnya.

Selain itu, menurut ulama Syafiiyah, ketika melaksanakan shalat jahriyah secara berjemaah, maka disunnahkan membaca Amin dengan suara keras. Ini berlaku baik bagi imam maupun makmum. Imam dan makmum sama-sama disunnahkan membaca Amin dengan suarah keras dalam shalat jahriyah.

Dalil yang dijdikan dasar kesunnahan membaca Amin dengan suara keras bagi imam adalah hadis yang disebutkan oleh Syaikh Abu Bakar Syatha dalam kitab I’natut Thalibin berikut;

انه صلى الله عليه وسلم كان اذا فرغ من قراءة ام القرأن رفع صوته فقال امين يمد بها صوته

Sesungguhnya Nabi Saw ketika selesai membaca surah Al-Fatihah, beliau mengeraskan suaranya dan mengucapkan ‘Amin,’ dengan memanjangkan suaranya.

Adapun dalil yang dijadikan dasar kesunnahan membaca Amin dengan suara keras bagi makmum adalah hadis riwayat Imam Ibnu Hibban, dari Atha’, dia berkata;

ادركت مائتين من الصحابة اذا قال الامام ولا الضالين رفعوا اصواتهم بأمين

Aku menjumpai sekitar dua ratus sahabat, dan ketika imam mengatakan ‘waladhdhallin’, mereka mengeraskan suaranya dengan mengucapkan Amin.

Adapun bagi makmum perempuan, maka hukumnya boleh mengeraskan suaranya ketika mengucapkan Amin jika tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Namun jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah, maka tidak boleh mengeraskan suaranya. Hal ini karena hukum asal bagi perempuan adalah mengecilkan suaranya dalam shalat, terutama jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

Baca Juga :  Kata Siapa Hukum Poligami itu Sunah?

Ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari berikut;

وكان منع النساء من التسبيح لأنها مأمورة بخفض صوتها في الصلاة مطلقا لما يخشى من الافتتان ومنع الرجال من التصفيق لأنه من شأن النساء

Perempuan tidak diperkenankan mengucapkan tasbih ketika ingin mengingatkan imam, perempuan diperintahkan untuk memelankan suaranya dalam shalat. Hal ini dikarenakan takut menimbulkan fitnah. Sedangkan laki-laki dilarang menepuk punggung telapak tangan karena hal itu bagian perempuan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here