Larangan Saat Ihram bagi Wanita

0
1035

BincangSyariah.Com – Pelaksanaan ibadah haji yang menjadi rukun Islam kelima memiliki aturan-aturan baku yang harus dipatuhi bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan yang sedang menjalaninya. Salah satu yang harus mereka patuhi adalah menjauhi beberapa larangan agama ketika sedang berihram haji. Hudzail Usman Mahmud Abu Khadir di dalam bukunya yang berjudul Ahkamu Hajjin Nisa’ Fil Fiqh Al Islami memberikan lima kategori larangan khususnya bagi seorang perempuan yang sedang melaksanakan ihram. Kelima kategori itu adakalanya berhubungan dengan pakaian, badan, hewan buruan, perbuatan fasik, dan perkataan yang tidak baik atau berhubungan dengan pernikahan. Berikut ini akan dibahas hal-hal yang dilarang di area badan perempuan yang sedang menjalani ihram (muhrimah).

Pertama, memotong rambut kepala. Ulama sepakat bahwa muhrim/orang yang sedang melaksanakan ihram dilarang mencukur seluruh atau sebagian rambut kepala atau menghilangkan rambut kepala dengan cara apapun. Karena Allah Swt berfirman: “Dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. (QS: Al Baqarah ayat 196). Oleh karena itu, bagi wanita muhrimah pun dilarang mencukur rambur kepalanya kecuali jika ada alasan tertentu, namun wajib baginya membayar fidyah. Sebagaimana firman Allah Swt. “ Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.” (QS: Al Baqarah ayat 196).

Dan sebagaimana hadis Ka’ab bin Ujrah ra. dari Rasulullah Saw. bahwasannya beliau bersabda: “Kamu tersiksa dengan kutu-kutumu?. Ia berkata: ia Wahai Rasulullah. “Potonglah rambut  kepalamu dan puasalah tiga hari atau memberi makan enam orang miskin atau sembelihlah satu kambing.” (HR. Al Bukhari). Adapun jika ia memotong rambut tanpa udzur, ulama sepakat bahwa ia wajib membayar fidyah dan mendapatkan dosa atas perbuatannya. Ulama Hanafiyyah mengatakan bahwa jika ia memotong sepertiga atau seperempat rambut, maka ia membayar dam dan jika ia memotong kurang dari itu maka ia wajib membayar sedekah.

Baca Juga :  Bolehkah Para Perempuan Mendirikan Salat Jamaah Sendiri?

Ulama Malikiyyah mengatakan jika ia memotong satu rambut atau beberapa helai rambut, maka ia memberi makan makanan. Jika ia memotong lebih dari itu maka ia membayar fidyah sesuai dengan pilihan (puasa tiga hari, memberi makan enam orang miskin, atau menyembelih satu kambing). Sementara itu, menurut ulama Syafiiyyah, memotong satu rambut, maka ia membayar satu mud, jika dua rambut  maka ia membayar dua mud, jika tiga rambut maka ia membayar satu dam dan jika lebih dari itu maka membayar fidyah.

Ulama Hanabilah mengatakan jika memotong seperempat rambutnya atau lebih, baik sengaja atau tidak maka ia membayar fidyah. Namun berhukum makruh bagi wanita yang sedang ihram untuk menyisir rambutnya, menggaruk kepalanya dan mencuci rambutnya.  Dan ia pun diperbolehkan memotong rambut orang yang tidak sedang ihram.

Kedua, menghilangkan rambut yang tumbuh di area badan. Bagi perempuan muhrimah pun dilarang memotong rambut yang tumbuh selain di kepala. Hal ini diqiyaskan dengan larangan memotong rambut yang ada di kepala, sebagaimana firman Allah Swt. “ Dan jangan kamu mencukur rambut kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya.(QS: Albaqarah ayat 196). Baik ia menghilangkannya dengan cara digundul, dipendekkan saja atau dicabut, dibakar dan dengan alat apapun. Jika ia melakukannya maka ia wajib membayar fidyah.

Namun Dr. Abilah Alkahlawi membolehkan menghilangkan rambut tersebut jika adanya darurat, seperti ia memiliki bau yang menyengat dan dapat mengganggu orang lain. Maka ia boleh menghilangkannya dengan niat menghilangkan bau yang tidak sedap itu, bukan rambutnya. Tetapi ia wajib membayar fidyah dan tidak berdosa. Dan menurut Hudzail lebih baik menghindarinya untuk mengikuti sunnah dan hendaknya menghilangkan rambut tersebut ketika sebelum persiapan ihram saja.

Baca Juga :  Datang Haid atau Nifas tapi Belum Salat, Apakah Wajib Meng-qadla?

Ketiga, memotong kuku. Ulama sepakat dilarang memotong kuku bagi wanita muhrimah, jika ia melakukannya dengan sengaja atau lupa maka ia wajib membayar fidyah. Adapun kewajiban membayar fidyah tersebut dirinci oleh ulama, menurut Hanafiyyah, Syafiiyyah Hanabilah, fidyah itu dibayarkan jika ia memotong 3 kuku lebih, sedangkan menurut Imam Malik dua kuku lebih sudah wajib membayar fidyah.

Keempat, memakai wangi-wangian. Ulama juga telah sepakat bahwa orang yang sedang melaksanakan ihram dilarang memakai parfum atau wangi-wangian. Hal ini sebagaimana hadis Nabi Saw. Dari Ibnu Abbas ra. bahwasanya ada seorang laki-laki yang sedang dalam keadaan ihram untanya terjatuh, ia pun meninggal dunia, Rasulullah Saw. bersabda: “Mandikan ia dengan air dan daun bidara, dan kafani ia dengan dua helai baju, jangan pakaikan ia minyak wangi dan jangan tutupi kepalanya, sungguh ia akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan sedang bertalbiyah. (HR. AlBukhari).

Jika wanita itu memakai wangi-wangian atau terkena parfum maka ia wajib membayar dam menurut ulama Hanafiyyah dan Hanabilah. Adapun menurut ulama Malikiyyah dan Syafiiyah ia wajib membayar fidyah. Adapun mencium wangi-wangian menurut ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah berhukum makruh dan mereka tidak mendapatkan denda apapun. Tapi menurut ulama Syafiiyyah dan Hanabilah mencium wangi-wangian pun haram dan ia wajib membayar fidyah dengan memilih puasa tiga hari, memberi makan enam orang miskin, atau menyembelih kurban satu kambing.

Kelima, memakai minyak. Ulama sepakat bahwa wanita yang sedang ihram haram memakai minyak yang dioleskan ke tubuh jika mengandung wangi-wangian. Tetapi jika tidak mengandung wangi-wangian, maka ulama berbeda pendapat: Menurut ulama Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Syafiiyyah  dan salah satu pendapat ulama Hanabilah haram memakai minyak tersebut di area rambut tidak di area badan. Hal ini berdasarkan hadis bahwasannya ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Saw. “Wahai Rasulullah Saw. Apa haji itu? “Orang yang kusut rambutnya dan bau badannya.” (HR. Ibnu Majah).

Baca Juga :  Belum Mandi Suci dari Haid, Bolehkah Suami Hubungan Intim dengan Istri?

Dan pendapat lainnya dari Hanabilah mengatakan boleh menggunakan minyak yang tidak wangi.  Tetapi menurut ulama Syafiiyyah minyak yang tidak wangi itu boleh dioles di badan tidak di area rambut. Dan orang yang mengatakan tidak boleh secara mutlak baik wangi atau tidak berdasarkan hadis tersebut di mana Nabi mengatakan bahwa orang yang haji itu rambutnya kusut dan badannya bau. Hudzail menarjih bahwa boleh menggunakan minyak yang tidak wangi  di badan dan rambut bagi wanita yang ihram karena dalil pelarangannya itu lemah sekali.

Keenam, memakai sabun, shampoo, dan alat kebersihan. Dianalogikan dari penggunaan minyak yang memiliki aroma wangi maka menggunakan sabun, shampoo yang wangi juga termasuk dari hal yang dilarang ketika ihram karena tujuan sabun dan shampoo adalah agar wangi. Maka bagi wanita yang sedang berihram tidak boleh menggunakannya, dimana sabun dan shampoo yang beredar dijual luas di pasar itu mayoritas mengandung unsur wangi. Adapun jika tidak terdiri dari bahan pewangi maka bagi wanita yang sedang ihram boleh mengunakannya. Dan sekarang pun ada di pasar-pasar tanah haram dijual sabun yang diberi nama sabun ihram. Wa Allahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.