Konsumsi Obat Penghalang Datang Haid ketika Ramadan

0
397

BincangSyariah.Com – Ramadan adalah bulan mulia yang telah Allah siapkan untuk hamba-Nya. Bulan di mana diturunkannya Alquran, bulan diselenggarakannya puasa dan bulan yang terdapat di dalamnya Lailatul Qadar atau malam yang lebih baik dari seribu bulan. Karena istimewanya bulan ini, maka umat Islam pun berlomba-lomba beribadah sebanyak-banyaknya di bulan suci ini.

Namun kesempatan emas ini terkadang menjadi penghalang bagi wanita muslimah. Betapa tidak, mayoritas dari mereka pasti akan mengalami menstruasi setiap bulannya. Dan hal ini menghalangi mereka untuk turut serta berpuasa dan menjalankan ibadah-ibadah lainnya yang haram dilakukan saat menstruasi tiba.

Sebagian dari mereka pun berinisiatif untuk mengonsumsi obat penghalang menstruasi dengan harapan selama Ramadan ia dapat menjalani puasa penuh satu bulan dan dapat melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Tetapi bagaimana hukum mengonsumsi obat penghalang datang bulan ketika Ramadan tersebut?

Menstruasi adalah suatu keniscayaan dari Allah Swt. untuk semua muslimah. Maka dari itu, hendaknya bagi muslimah untuk menerimanya dengan lapang dada. Karena banyak sekali hikmah dan manfaat dengan adanya menstruasi. Di antaranya adalah sebagai makanan bagi janin yang terdapat di dalam kandungan.

Oleh karena jika seseorang tidak dalam keadaan hamil, maka darah yang seharusnya dimakan oleh janin itulah menjadi darah menstruasi. Selain itu tentu masih banyak manfaatnya dengan rutinnya keluar darah menstruasi dari rahim wanita setiap bulannya.

Karenanya, jika ingin mengonsumsi obat penghalang darah haid di bulan Ramadan dengan tujuan yang baik, yakni agar dapat melaksanakan ibadah dengan maksimal mulai dari puasa, mengkhatamkan Alquran, maupun itikaf untuk mencari Lailatul Qadar, maka hendaknya muslimah tersebut berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, apakah dapat membahayakan atau tidak terhadap rahim jika ia mengonsumsi obat tersebut.

Baca Juga :  Malala, Perempuan Peraih Nobel Termuda Asal Pakistan

Jika tidak membahayakan maka diperbolehkan mengonsumsinya, seperti halnya wanita muslimah yang hendak beribadah haji. Namun, jika menurut pemeriksaan dokter tidak aman, maka hendaknya jangan dipaksakan, karena Nabi Saw. bersabda “La Dharara wa la dhirara (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain)” (HR. Ibnu Majah dan ad Daruquthni).

Hal yang semestinya patut disadari bagi wanita muslimah adalah bahwa masih banyak ibadah-ibadah lain yang bisa dilakukan meskipun ia menstruasi. Bahkan dengan patuhnya ia tidak puasa, shalat dan melakukan hal-hal yang diharamkan ketika menstruasi adalah suatu ibadah. Berupa kepatuhannya terhadap syariat yang berlaku.

Selain itu, ia juga dapat membaca zikir-zikir yang banyak sekali macam dan jenisnya. Terlebih jika di bulan Ramadan, ia juga bisa mengisi kekosongan ibadah karena menstruasi dengan melakukan amal ibadah sosial seperti mengadakan bakti sosial atau ibadah-ibadah sosial lainnya.

Ibadah yang sederhana dan mudah dilakukan bagi wanita yang sedang menstruasi adalah memberi serta menyiapkan makan sahur dan buka bagi keluarganya atau temannya. Bahkan ia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut. Sebagaimana hadis riwayat Khalid bin al Juhani, Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa yang memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Imam al Tirmidzi).

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here