Kisah Masyithah, Tukang Sisir Putri Fir’aun

0
777

BincangSyariah.Com – Masa kecil sebagian dari kita tentu tidak asing dengan kisah Masyithah, tukang sisir putri Fir’aun. Bahkan di daerah Jawa, ada sebuah lagu tentangnya yang selalu didendangkan sebagai pujian menunggu para jamaah datang ke masjid.

“Siti Masyithah pahlawan putri, belo agomo direwangi mati, jembar kuburane gondone ambu wangi, shalatatu was salam, paringane kanjeng Nabi”/ Siti Masyithah pahlawan putri, bela agama sampai rela mati, kuburannya luas dan baunya wangi (mayatnya), shalawat dan salam untuk junjungan Nabi.” Demikianlah sebagian teks lagunya.

Lalu siapakah Masyithah dan bagaimana kisah pembelaan Islamnya hingga kuburannya bisa tercium bau wangi?

Sebenarnya Masyithah bukanlah sebuah nama. Masyithah di dalam bahasa Arab adalah berarti perempuan yang menyisir rambut. Masyithah adalah bentuk fail/subjek dari kata masyatha yamsyuthu yang artinya menyisir. Dan di dalam kitab-kitab redaksi Arab baik sejarah maupun hadis memang disebutkan Masyithah ibnatu Fir’aun, yakni wanita yang bertugas menyisir rambut putrinya Fir’aun. Jadi itu bukanlah sebuah nama. Hanya saja di Indonesia lebih dikenal Masyithah adalah sebuah nama. Padahal nama aslinya belum diketahui.

Kisah wanita tukang sisir atau masyithah tersebut sangat terkenal sebagaimana terdapat di dalam sebuah riwayat hadis sebagai berikut.

‏عَنِ ‏‏ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما ‏‏قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ‏‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (‏ ‏لَمَّا كَانَتْ اللَّيْلَةُ الَّتِي ‏‏أُسْرِيَ ‏‏بِي فِيهَا أَتَتْ عَلَيَّ رَائِحَةٌ طَيِّبَةٌ فَقُلْتُ: يَا ‏جِبْرِيلُ‏ مَا هَذِهِ الرَّائِحَةُ الطَّيِّبَةُ؟ فَقَالَ: هَذِهِ رَائِحَةُ ‏‏مَاشِطَةِ ابْنَةِ فِرْعَوْنَ ‏‏وَأَوْلادِهَا قَالَ: قُلْتُ: وَمَا شَأْنُهَا ؟ قَالَ: بَيْنَا هِيَ تُمَشِّطُ ابْنَةَ ‏‏فِرْعَوْنَ ‏‏ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ سَقَطَتْ ‏‏الْمِدْرَى ‏‏مِنْ يَدَيْهَا فَقَالَتْ : بِسْمِ اللَّهِ فَقَالَتْ لَهَا ابْنَةُ ‏ ‏فِرْعَوْنَ‏ ‏أَبِي؟ قَالَتْ: لا وَلَكِنْ رَبِّي وَرَبُّ أَبِيكِ اللَّهُ قَالَتْ: أُخْبِرُهُ ‏‏بِذَلِكَ ! قَالَتْ : نَعَمْ فَأَخْبَرَتْهُ فَدَعَاهَا فَقَالَ: يَا فُلانَةُ ؛ وَإِنَّ لَكِ رَبًّا غَيْرِي ؟ قَالَتْ: نَعَمْ ؛ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ فَأَمَرَ بِبَقَرَةٍ مِنْ نُحَاسٍ فَأُحْمِيَتْ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا أَنْ‏ ‏تُلْقَى هِيَ وَأَوْلادُهَا فِيهَا قَالَتْ لَهُ : إِنَّ لِي إِلَيْكَ حَاجَةً قَالَ: وَمَا حَاجَتُكِ؟ قَالَتْ: أُحِبُّ أَنْ تَجْمَعَ عِظَامِي وَعِظَامَ وَلَدِي فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَتَدْفِنَنَا قَالَ : ذَلِكَ لَكِ عَلَيْنَا مِنْ الْحَقِّ قَالَ: فَأَمَرَ بِأَوْلادِهَا فَأُلْقُوا بَيْنَ يَدَيْهَا وَاحِدًا وَاحِدًا إِلَى أَنْ انْتَهَى ذَلِكَ إِلَى صَبِيٍّ لَهَا مُرْضَعٍ وَكَأَنَّهَا تَقَاعَسَتْ مِنْ أَجْلِه قَالَ: يَا ‏‏أُمَّهْ؛‏ ‏اقْتَحِمِي فَإِنَّ عَذَابَ الدُّنْيَا أَهْوَنُ مِنْ عَذَابِ الْآخِرَةِ فَاقْتَحَمَتْ). ‏‏قَالَ ‏‏ابْنُ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما: ‏تَكَلَّمَ أَرْبَعَةُ صِغَارٍ: ‏‏عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ‏‏عَلَيْهِ السَّلام‏ ‏وَصَاحِبُ ‏جُرَيْجٍ‏ ‏وَشَاهِدُ ‏‏يُوسُفَ ‏وَابْنُ ‏مَاشِطَةِ ابْنَةِ فِرْعَوْنَ . أخرجه الإمام أحمد في ” المسند ” (1/309) ، والطبراني (12280) ، وابن حبان (2903) ، والحاكم (2/496) .

Baca Juga :  Belajar dari Gus Dur

Dari Ibnu Abbas r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Ketika malam diisra’kannya saya (tiba-tiba) ada aroma wangi yang mendatangiku.” Lalu aku bertanya, “Wahai Jibril, aroma wangi apa ini?” Ia pun menjawab, “Ini adalah aroma (wangi) wanita tukang sisir putrinya Fir’aun dan anak-anaknya. “Aku bertanya.” “Apa kelakuannya?” Jibril menjawab, “Ketika suatu hari ia sedang menyisir rambut putrinya Fir’aun, tiba-tiba sisirnya jatuh dari tangannya. Lalu ia berkata, “Bismillah (dengan nama Allah).” Lalu putri Fir’aun (dengan terheran-heran yang baru pertama kali mendengar kata Allah) berkata kepadanya, “(Apakah Allah itu) ayahku?” “Tidak, tetapi Tuhanku dan Tuhan ayahmu adalah Allah.” (mendengar jawaban itu) putri Fir’aun pun berkata, “Aku akan memberitahukannya kepada ayahku.” “Silahkan” Jawabnya tenang. Lalu setelah dikabarkan kepada Fir’aun, dipanggilah wanita tukang sisir tersebut. “Wahai fulanah/wanita, apakah engkau memiliki Tuhan selain Aku?” “Iya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Lalu ia memerintahkan dibawakan sebuah patung sapi yang terbuat dari tembaga, lalu dipanaskan. Lalu Fir’aun memerintahkannya beserta anak-anaknya agar melompat ke dalamnya.” Wanita tukang sisir itu pun berkata, “Aku punya satu keperluan kepadamu.” Fir’aun berkata, “Apa keperluanmu?” “Aku ingin agar engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang anakku ke dalam satu kain, lalu engkau mengubur kita.” “Itu hakmu atas kami.” Lalu Fir’aun memerintahkan untuk melemparkan anak-anaknya di hadapan wanita tukang sisir itu satu persatu hingga tinggal anaknya yang masih menyusu. Ia amat terpukul dengan keadaan anaknya tersebut (yang harus ikut dipanggang hidup-hidup). (Tiba-tiba) anak kecil itu berkata, “Wahai ibuku tabahlah, sesungguhnya adzab dunia lebih ringan dari pada adzab akhirat.” Maka ia pun tabah. Ibnu Abbas berkata, “Ada empat anak kecil yang bisa berbicara: Isa bin Maryam, temannya Juraij, saksinya Yusuf, dan putra tukang sisir putrinya Fir’aun. (HR. Ahmad, At-Thabrani, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Baca Juga :  Hukum "Murajaah" Bacaan Alquran bagi Hafizah yang Haid

Demikianlah kisah Masyithah, tukang sisir putri Fir’aun. Ia rela dipanggang hidup-hidup bersama anak-anaknya demi mempertahankan keimanannya. Sehingga aroma kuburannya pun tercium wangi sekali, dan inilah yang disaksikan Nabi saw. dan malaikat Jibril ketika isra’ mi’raj. Adapun tentang bayinya yang dapat berbicara, kami telah menuliskan tiga di antara bayi ajaib yang bisa berbicara di dalam artikel lain (baca di sini).

Semoga kita dapat meniru keteguhan iman wanita tukang sisir atau masyithah tersebut. Aamiin. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here