Ketika Tuhan Merespons Suara Perempuan

0
995

BincangSyariah.Com – Sebelum melakukan advokasi untuk menciptakan konstruksi sosial yang setara dan berkeadilan melalui undang-undang, kebijakan negara, dan lain-lain, disarankan terlebih dahulu untuk mendengarkan dan merespons suara-suara yang terpinggirkan, yang diabaikan, dan yang tidak dihargai.

Dalam konteks kebudayaan patriarkis di mana pun, suara-suara perempuan acapkali tidak didengarkan. Pikiran mereka diabaikan dan bahkan dipinggirkan. Aktualisasi personalnya dibatasi dan dimarginalkan. Kemerdekaan mereka dirampas sedikit atau banyak. Ini semua merupakan praktik-praktik kebudayaan yang tidak adil.

Tetapi sikap dan pandangan Nabi dalam hal ini sangat berbeda. Abd al-Rahman bin Syaibah mengatakan:

سَمِعْتُ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم تَقُوْلُ: قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا لَنَا لَا نُذْكَرُ فِي الْقُرآنِ كَمَا يُذْكَرُ الرِّجَالُ؟ قَالَتْ: فَلَمْ يَرُعْنِيْ ذَاتَ يَوْمٍ ظُهْرًا إِلَّا نِدَاؤُهُ عَلَى الْمِنْبَرَ وَأَنَا أُسَرِّحُ رَأْسِيْ، فَلَفَفْتُ شَعْرِيْ ثُمَّ خَرَجْتُ إِلَى حُجْرَةٍ مِنْ حُجُرِهِنَّ، فجَعَلْتُ سَمْعِيْ عِنْدَ الْجَرِيْدِ، فَإِذًا هُوَ يَقُوْلُ عَلَى الْمِنْبَرِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللهَ يَقُوْلُ فِيْ كِتِابِهِ: إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا.

Aku mendengar Ummu Salamah, istri Nabi saw., bertanya (mempertanyakan) kepada Nabi: “Wahai Nabi, mengapa kami (kaum perempuan) tidak (amat jarang) disebut-sebut dalam Alquran, tidak seperti laki-laki.” Setelah menyampaikan pertanyaan itu, Ummu Salamah tidak melihat Nabi, kecuali mendengar suaranya di atas mimbar. “Waktu itu aku sedang menyisir rambut,” kata Ummu Salamah. “Aku segera membenahi rambutku lalu keluar menuju suatu ruangan. Dari balik jendela ruangan itu aku mendengarkan Nabi berbicara di atas mimbar masjid di hadapan para sahabatnya. Katanya, “Wahai manusia, Tuhan mengatakan, “Bahwa sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan yang beriman laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. al-Ahzab [33]: 35). (Al-Thabari, Jami’ al-Bayan).

Baca Juga :  Umur Berapa Anak Perempuan Wajib Berhijab?

Lihatlah bagaimana Tuhan dan Nabi mendengarkan dan merespons dengan begitu cepat suara-suara perempuan yang mengadukan pikiran dan suara hatinya. Ummu Salamah, istri Nabi yang cerdas, adalah representasi dari kaum perempuan.

Dia tampaknya bukan sekedar bertanya, tetapi mempertanyakan tentang hak-haknya yang dibedakan dari laki-laki. Pertanyaan itu merefleksikan sebuah pandangan kritis Ummu Salamah. Dia seakan-akan ingin mengatakan mengapa Nabi berlaku diskriminatif terhadap perempuan. Mengapa Nabi seakan-akan tidak menaruh perhatian terhadap hak-hak perempuan sebagaimana yang diberikan kepada laki-laki.

Nabi Saw. dengan segera menyampaikan klarifikasinya berdasarkan wahyu Tuhan dan menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam berbagai aspek kehidupan, baik spiritual maupun sosial, privat maupun publik.

Perhatikan pula bahwa pernyataan klarifikatif ini disampaikan Nabi kepada seluruh manusia: ayyuha al-nas, “wahai manusia!” Ini menunjukkan bahwa ajaran tentang kesetaraan laki-laki dan perempuan harus diperjuangkan di mana pun dan kapan pun.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here