Benarkah Tidak Boleh Keramas Setelah Keguguran?

0
70

BincangSyariah.Com – Di sebagian masyarakat, terdapat sebuah anggapan bahwa perempuan yang mengalami keguguran tidak boleh berkeramas. Ia baru boleh mandi setelah beberapa hari setelah keguguran, bahkan hingga 30 hari. Benarkah tidak boleh keramas setelah keguguran?

Dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa di antara sebab-sebab mandi wajib adalah melahirkan atau wiladah. Jika seorang perempuan melahirkan, meskipun janinnya masih berupa darah atau segumpal daging karena keguguran, maka perempuan itu wajib keramas setelah keguguran atau mandi wajib. (Baca: Niat Mandi Setelah Melahirkan atau Keguguran)

Ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in berikut;

ويجب الغسل أيضا بولادة ولو بلا بلل، وإلقاء علقة ومضغة

Dan wajib mandi juga karena melahirkan meskipun tanpa basah (tidak mengeluarkan darah), dan juga keguguran segumpal darah dan segumpal daging.

Juga disebutkan dalam kitab Hasyiatusy Syarqawi berikut;

ومو جبه  اى موجب الغسل ستة  جنابة – وموت – وحيض -ونفاس -ونحو الولادة  من إلقاء علقة او مضغة ولو بلا بلل لان الولد ونحوه مني منعقد – ( قوله ولو بلا بلل ) أشار إلى ان الولادة مو جبة للغسل وان لم يحصل نفاس

Artinya:

Yang mewajibkan mandi ada enam. Yaitu jenabah, mati, haid, nifas, dan sejenis melahirkan dengan keguguran segumpal darah atau segumpal daging meskipun tanpa basah. Hal ini karena anak adalah dan sejenisnya adalah mani yang sudah jadi. Perkataan mushannif ‘meskipun tidak basah’, dia memberi isyarah bahwa melahirkan tetap mewajibkan mandi meskipun tidak ada darah nifas.

Melalui penjelasan di atas, maka anggapan bahwa perempuan tidak boleh keramas setelah keguguran adalah anggapan yang keliru dan tidak benar. Sebaliknya, jika keguguran janin yang masih berupa segumpal darah atau segumpal daging, maka dia wajib segera berkeramas atau mandi wajib dari wiladah.

Baca Juga :  Lima Keutamaan Asiyah; Istri Fir'aun

Hal ini karena darah yang keluar akibat keguguran tersebut tidak disebut sebagai darah nifas, melainkan disebut sebagai darah istihadhah. Karena itu, dia tetap wajib melakukan shalat, dan untuk bisa melakukan shalat dia harus mandi wajib dari wiladah terlebih dahulu.

Jika dia keguguran janin yang sudah mulai berbentuk manusia, maka darah yang keluar disebut dengan darah nifas. Selama dia keluar nifas, maka dia tidak wajib melakukan shalat. Hanya saja, meski dia masih keluar darah nifas dan belum wajib shalat, namun dia tetap dianjurkan untuk segera berkeramas atau mandi wajib dari wiladah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here