Istri Sedang Haid, Begini Cara Mencumbuinya

0
1335

BincangSyariah.Com – Islam tidak menghukumi fisik wanita haid sebagai benda najis untuk dijauhi. Sebagaimana praktik yang dilakukan orang Yahudi. Meskipun seluruh ulama fikih dari empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) sepakat bahwa wanita yang sedang haid dilarang untuk berjimak atau berhubungan intim.

Anas bin Malik menceritakan:

أن اليهود كانوا إذا حاضت المرأة فيهم لم يؤاكلوها ولم يجامعوهن في البيوت فسأل الصحابة النبي صلى الله عليه وسلم فأنزل الله تعالى: ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض

“Sesungguhnya orang Yahudi, ketika istri mereka mengalami haid, mereka tidak mau makan bersama istrinya dan tidak mau tinggal bersama istrinya dalam satu rumah. Para sahabatpun bertanya kepada Nabi Saw. Kemudian Allah menurunkan ayat: “mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah bahwa haid itu kotoran, karena itu hindari wanita di bagian tempat keluarnya darah haid.”

Dengan demikian, suami masih bisa melakukan apapun ketika istri haid, selain yang Allah larang dalam al-Quran. Keharamannya ditetapkan di dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat 222:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah: “haid itu adalah kotoran.” Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS al-Baqarah: 222)

Dalil keharamannya juga disebutkan dalam hadis ketika Rasulullah Saw ditanya tentang hukum mencumbui wanita yang sedang haid maka beliau menjawab:

Baca Juga :  Berdosakah Kentut di Hadapan Istri?

وَعَنْ أَنَسٍ رضيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اليَهُودَ كَانت إِذا حَاضَتِ المَرْأَةُ فِيْهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: اصْنَعُوا كُلَّ شَىءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ

“Dari Anas RA bahwa orang Yahudi bila para wanita mereka sedang mendapat haid, mereka tidak memberikan makanan kepada para wanita itu. Rasulullah Saw bersabda: lakukan segala yang kamu mau kecuali nikah (hubungan badan).” (HR Muslim)

Mengenai batasan larangan hubungan badan yang disepakati para ulama di atas adalah apabila terjadi jima’ atau penetrasi. Mereka juga membolehkan percumbuan yang dilakukan dengan istrinya itu, yaitu anggota tubuh selain yang ada di antara pusar dan lutut istri. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA:

وَعَنْ عَائِشَةَ رضيَ اللهُ عَنْهَا قَالَت: كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُرُنِي فَأَتَّزِرُ، فَيُبَاشِرُنِي وَأَنَا حَائِضٌ

“Dari Aisyah RA beliau berkata: Rasululullah Saw menyuruhku untuk memakai sarung, kemudian beliau mencumbuiku dalam keadaan haid.” (Muttafaqun Alaih)

Walaupun ulama membolehkan percumbuan selain yang ada di antara pusar dan lutut. Namun ada beberapa yang menjadi perbedaan ulama dalam hal ini. Seperti jika tidak terjadi jimak dalam hal mencumbui selain yang ada antara pusar dan lutut maka ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

Menurut mazhab Syafi’i, ketika seorang istri dalam keadaan haid, suaminya boleh mencumbuinya itu di bagian mana saja yang diinginkan. Hanya saja, percumbuan itu harus dibatasi dengan kain penghalang, sehingga tidak ada sentuhan kulit secara langsung.

Madzhab ini juga membolehkan suami untuk melihat dan memandang bagian-bagian itu, dengan atau tanpa syahwat.

Sedangkan menurut mazhab Hanafi membolehkan seorang suami untuk mencumbui anggota tubuh istrinya yang ada di antara pusar dan lutut. Dengan syarat, percumbuan harus dilakukan dengan adanya penghalang, seperti sarung, kain, atau sejenisnya. Namun suami tidak boleh melihat bagian-bagian tersebut.

Baca Juga :  Kisah Hafshah Binti Umar yang Dilamar Rasulullah

Suami boleh memegang bagian-bagian tersebut, dengan atau tanpa syahwat, selama bagian-bagian itu ditutupi dengan penghalang. Intinya tidak terjadi sentuhan kulit secara langsung dan tidak boleh dilihat.

Sementara menurut kalangan Maliki berbeda dengan mazhab Hanafi. Fuqaha dalam mazhab ini mengatakan bahwa seorang suami dilarang memegang dan mencumbui anggota tubuh istri yang ada di antara lutut dan pusarnya. Walaupun dibatasi kain penghalang. Namun mereka membolehkannya untuk melihat bagian-bagian tersebut, walaupun dengan syahwat. Madzhab ini berpendapat bahwa suami hanya boleh melihat atau memandang tanpa boleh mencumbuinya lebih jauh.

Kemudian menurut mazhab Hambali agak berbeda dengan ketiga madzhab di atas, mazhab Hambali membolehkan suami mencumbui istrinya yang sedang haid di bagian manapun yang ia inginkan. Syaratnya tidak sampai terjadi jima’ yang sesungguhnya, yakni dukhul (penetrasi).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here