Hukum Istri Minta Cerai Karena Tidak Bahagia

0
1494

BincangSyariah.Com – Dari berbagai kasus perceraian antara suami dan istri, banyak di antaranya karena diajukan dan permintaan dari istri. Terdapat banyak alasan seorang istri meminta dan mengajukan cerai kepada suami, di antaranya adalah karena suami tidak bertanggung jawab, tidak saling cinta, dan ada juga karena tidak bahagia. Bagaimana hukum istri minta cerai kepada suaminya dengan alasan tidak bahagia, apakah boleh? (Baca: Hukum Menceraikan Istri Saat Sedang Nifas)

Dalam Islam, tujuan utama pernikahan adalah membina rumah tangga yang sakinah, penuh mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang). Ini berdasarkan firman Allah dalam surah Al-Rum ayat 21 berikut;

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenang dan tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Berdasarkan ayat ini, maka bila salah satu pihak antara suami atau istri sudah merasa tidak nyaman dan tidak bahagia, maka suami boleh menceraikan istrinya atau istri boleh minta cerai kepada suaminya. Menurut Ibnu Qudamah, jika istri merasa tidak bahagia dengan suaminya dan dia khawatir tidak bisa memenuhi kewajiban sebagai istri, maka dia boleh minta cerai kepada suaminya.

Dalam fiqih, pemintaan cerai dari istri kepada suaminya disebut dengan khulu’. Khulu’ dibolehkan dalam Islam. Ibnu Qudamah berkata dalam kitab Al-Mughni sebagai berikut;

وجمله الأمر أن المرأة إذا كرهت زوجها لخلقه أو خلقه أو دينه أو كبره أو ضعفه أو نحو ذلك وخشيت أن لا تؤدي حق الله في طاعته جاز لها أن تخالعه بعوض تفتدي به نفسها

Kesimpulannya, jika seorang istri benci suaminya baik karena fisiknya, akhlaknya, agamanya, tuanya atau lemahnya, atau lainnya, dan dia khawatir tidak bisa melaksanakan hak Allah dalam bentuk kepada suaminya, maka dia boleh minta cerai dengan memberi harta sebagai tebusan dirinya.

Selain itu, Nabi Saw pernah mengabulkan permintaan istri Tsabit untuk bercerai dengan Tsabit, suaminya. Ini menunjukkan bahwa istri minta cerai karena alasan tidak bahagia dan khawatir tidak bisa memenuhi kewajiban sebagai istri boleh. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas, dia berkisah;

جاءتْ امرأةُ ثابتِ بنِ قيسِ بنِ شَمَّاسٍ إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فقالتْ : يا رسولَ اللهِ ، ما أَنْقمُ على ثابتٍ في دِيْنٍ ولا خُلُقٍ ، إلا أنِّي أخافُ الكُفرَ ، فقال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : تَرُدِّينَ عليه حديقتَه ؟ فقالت : نعم ، فَرَدَّتْ عليه ، وأمَرَهُ أن يُفارقَها

Istri Tsabit bin Qais bin Syimas datang kepada Rasulullah Saw seraya berkata; Wahai Rasulullah, aku tidak benci terhadap Tsabit baik dalam segi agama ataupun fisik, hanya saja aku takut kufur. Maka Rasulullah Saw bertanya; Apakah kamu ingin mengembalikan kebunnya padanya? Istri Tsabit tersebut menjawab; Iya, dan kemudian ia mengembalikan kebunnya padanya.

Baca Juga :  Manfaat Surat Maryam untuk Ibu Hamil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here