Inilah Keluarga Istri yang Haram Dinikahi Selamanya

0
2729

BincangSyariah.Com – Ada beberapa sebab yang menjadikan seorang menjadi mahram mu’abbad (mereka yang haram dinikahi selama-lamanya). Tidak boleh menikahi dengan alasan apapun. Yakni sebab hubungan darah/nasab atau kekerabatan (al-Qarabah), hubungan yang terjadi akibat pernikahan (mushaharah), dan hubungan persusuan (radha’ah).

Kemahraman mu’abbad yang disebabkan oleh terjadinya pernikahan disebut dengan al-mushaharah. Ketika laki-laki dan wanita telah diikat dalam pernikahan, ada konsekuensi kemahraman yang terjadi karenanya. Sebagian dari keluarga suami akan menjadi mahram mua’bbad bagi istrinya. Begitupun sebaliknya.
Kemahraman juga terjadi saat salah satu orang tua yang sedang menjanda atau menduda menikah lagi. Serta saat kita menikahkan anak laki-laki dengan seorang wanita.

Dalam surah an-Nisa ayat 22 disebutkan:

وَلاَ تَنكِحُواْ مَا نَكَحَ آبَاؤُكُم مِّنَ النِّسَاء

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu.”

Lalu di ayat berikutnya dalam surah an-Nisa ayat 23 disebutkan:

وَأُمَّهَاتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُواْ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ

“Ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu).”

Dari ayat di atas diketahui bahwa bagi seorang laki-laki, pihak-pihak yang menjadi mahram mu’abbad baginya adalah: istri ayah (ibu tiri); mertua wanita (ibu istri); anak perempuan istri (anak tiri), jika ia sudah pernah berhubungan intim dengan si istri; menantu wanita (istri dari anak)

a. Istri Ayah (Ibu Tiri)

Maksudnya adalah wanita lain yang dinikahi oleh ayahnya, selain wanita yang menjadi ibu kandungnya, sebagaimana disebut dalam an-Nisa ayat 22 di atas.
Dalam poin ini masuk juga istri kakek atau istri buyut. Yakni wanita yang dinikahi oleh ayah atau kakek. Baik itu kakek dari jalur ayah (ayahnya ayah) atau dari jalur ibu (kakeknya ibu).

Baca Juga :  Empat Hal Sehari-hari Ini Adalah Sunah Rasul, Apa Saja?

Kemahraman antara seorang laki-laki dengan istri ayahnya (ibu tiri) terjadi semata-mata karena terjadinya akad nikah antara ayah dengan wanita tersebut. Tanpa disyaratkan terjadinya jima’ di antara keduanya.

Maka, jika ayahnya menikahi seorang wanita kemudian menceraikan wanita itu sebelum sempat berhubungan intim dengannya, maka ia tetap tidak boleh menikahi wanita itu (mantan ibu tiri) selama-lamanya. Karena wanita yang pernah dinikahi oleh ayahnya (mantan ibu tiri) menjadi mahram mu’abbad baginya.

b. Ibu Mertua (Orang Tua Istri)

Pihak-pihak yang tidak boleh dinikahi dalam poin ini adalah: ibu dari istri, atau neneknya. Sebagaimana disebut dalam an-Nisa ayat 23 di atas.

Para ulama fikih dari empat mazhab besar, yakni Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Malikiyyah dan Hanabilah mengungkapkan bahwa kemahraman antara seorang laki-laki dengan ibu mertuanya bisa terjadi jika ia dan istrinya pernah berhubungan suami istri dengan sah. Artinya, mereka pernah berjima’ setelah akad nikah yang sah terjadi.

Akan tetapi, ulama fikih di atas berbeda pendapat dalam kasus di mana laki-laki itu menikahi seorang wanita dengan akad nikah yang sah, lalu tak lama kemudian menceraikan istrinya, atau istrinya meninggal sebelum mereka pernah melakukan hubungan intim. Apakah dalam hal ini laki-laki itu tetap menjadi mahram mu’abbad bagi ibu mertuanya atau tidak?

c. Anak Perempuan Istri (Anak Tiri)

Surah an-Nisa ayat 23 di atas menjelaskan secara eksplisit dan jelas bahwa kemahraman antara seorang laki-laki dengan anak perempuan istrinya (anak tiri) akan terjadi dengan satu syarat; yakni setelah pernikahan terjadi hubungan intim antara ia dengan istrinya.
Akan tetapi, jika setelah menikah dengan akad nikah yang sah ternyata mereka belum pernah berhubungan intim, kemudian setelah itu bercerai, maka laki-laki itu boleh menikahi anak perempuan dari mantan istrinya itu.

Baca Juga :  Bolehkah Bersetubuh dengan Istri yang Sedang Istihadhah?

Misalnya, Ali menikah dengan Zainab, seorang janda yang memiliki anak perempuan (Ruqayyah) dari pernikahan sebelumnya. Jika setelah menikah Ali menggauli Zainab, maka sejak saat itu terjadi kemahraman antara dia dengan Ruqayyah, anak tirinya. Kemahraman yang sifatnya selamanya (mu’abbad). Bahkan, jika suatu saat Zainab diceraikan atau ditinggal mati oleh Ali, kemahraman antara Ruqayyah dan Ali tidak akan berubah. Dan Ali tidak boleh menikahi Ruqayyah sampai kapanpun.

d. Menantu Perempuan ( Istri dari Anak)

Tidak boleh menikah pihak-pihak di sini ialah istri dari anak laki-laki atau istri dari cucu laki-laki. Seorang laki-laki menjadi mahram mu’abbad bagi menantu wanitanya.

Ulama fikih dari empat mazhab mengatakan bahwa kemahraman ini tidak mensyaratkan terjadinya hubungan suami-istri. Maka, anak lelakinya menjalani akad nikah yang sah dengan seorang wanita, maka dirinya dan istri dari anaknya (menantu) telah menjadi mahram mu’abbad. Bahkan walaupun nanti mereka tak lagi ada dalam ikatan pernikahan, sebab perceraian maupun kematian.
Misalnya A punya anak lelaki bernama B. Suatu saat B menikah dengan C, maka saat akad nikah yang sah telah terjadi, di saat itu pula terjadi kemahraman mu’abbad antara A dan C. Bahkan walaupun suatu saat nanti B dan C tak lagi menjadi suami-istri. Baik karena adanya perceraian ataupun jika kelak C menjanda karena B meninggal dunia.

Empat pihak itulah yang masuk dalam daftar mahram bagi seorang laki-laki ketika terjadi pernikahan. Baik pernikahan itu dilakukan oleh dia sendiri, orang tua, atau bahkan anaknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here