Ingin Puasa Penuh Selama Ramadan, Bolehkah Perempuan Mengonsumsi Obat Penghalang Haid ?

0
987

BincangSyariah.Com – Ramadan di tahun ini memang terasa berbeda bagi banyak muslim. Akibat kebijakan PSBB atau Physical Distancing, banyak orang tidak banyak keluar rumah kecuali untuk kebutuhan yang sangat penting. Meskipun demikian, kita, setiap muslim tentu seyogyanya mengharap agar bisa beribadah seoptimal mungkin.

Namun kesempatan emas ini terkadang terhalang bagi wanita muslimah. Alasannya mayoritas dari mereka pasti akan mengalami menstruasi setiap bulannya. Dan hal ini menghalangi mereka untuk turut serta berpuasa dan menjalankan ibadah-ibadah lainnya yang haram dilakukan saat menstruasi tiba.

Demi mengejar bisa berpuasa sebulan penuh, sebagian perempuan berinisiatif mengonsumsi obat penghalang haid dengan harapan selama Ramadan ia dapat menjalani puasa penuh satu bulan dan dapat melaksanakan ibadah-ibadah lainnya. Tetapi bagaimana hukum mengonsumsi obat penghalang haid ketika Ramadan tersebut?

Menstruasi adalah suatu keniscayaan dari Allah Swt. untuk semua muslimah. Maka dari itu, hendaknya bagi muslimah untuk menerimanya dengan lapang dada. Karena banyak sekali hikmah dan manfaat dengan adanya menstruasi. Di antaranya adalah sebagai makanan bagi janin yang terdapat di dalam kandungan.

Oleh karena jika seseorang tidak dalam keadaan hamil, maka darah yang seharusnya dimakan oleh janin itulah menjadi darah menstruasi. Selain itu tentu masih banyak manfaatnya dengan rutinnya keluar darah menstruasi dari rahim wanita setiap bulannya.

Karenanya, jika ingin mengonsumsi obat penghalang darah haid di bulan Ramadan dengan tujuan yang baik, yakni agar dapat melaksanakan ibadah dengan maksimal mulai dari puasa, mengkhatamkan Alquran, maupun itikaf untuk mencari Lailatul Qadar, maka hendaknya muslimah tersebut berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter, apakah dapat membahayakan atau tidak terhadap rahim jika ia mengonsumsi obat tersebut.

Baca Juga :  Hukuman Bersetubuh Saat Istri Haid

Jika tidak membahayakan maka diperbolehkan mengonsumsinya, seperti halnya wanita muslimah yang hendak beribadah haji. Namun, jika menurut pemeriksaan dokter tidak aman, maka hendaknya jangan dipaksakan, karena Nabi Saw. bersabda “La Dharara wa la dhirara (tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain)” (HR. Ibnu Majah dan ad Daruquthni).

Hal yang semestinya patut disadari bagi wanita muslimah adalah bahwa masih banyak ibadah-ibadah lain yang bisa dilakukan meskipun ia menstruasi. Bahkan dengan patuhnya ia tidak puasa, shalat dan melakukan hal-hal yang diharamkan ketika menstruasi adalah suatu ibadah. Berupa kepatuhannya terhadap syariat yang berlaku.

Selain itu, ia juga dapat membaca zikir-zikir yang banyak sekali macam dan jenisnya. Terlebih jika di bulan Ramadan, ia juga bisa mengisi kekosongan ibadah karena menstruasi dengan melakukan amal ibadah sosial seperti mengadakan bakti sosial atau ibadah-ibadah sosial lainnya.

Ibadah yang sederhana dan mudah dilakukan bagi wanita yang sedang menstruasi adalah memberi serta menyiapkan makan sahur dan buka bagi keluarganya atau temannya. Bahkan ia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut. Sebagaimana hadis riwayat Khalid bin al Juhani, Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa yang memberi makan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Imam al Tirmidzi).

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here