BincangSyariah.Com – Meminta izin kepada suami ketika hendak keluar rumah merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi bagi seorang istri. Bahkan menurut ulama’ Syafiiyyah dan Hanabilah, tidak boleh bagi seorang istri keluar untuk mengunjungi ayahnya yang sakit kecuali dengan izin suami.

Nabi Saw. bersabda: “Apabila istri kalian meminta izin kepada kalian untuk berangkat ke masjid malam hari maka izinkanlah……” (HR. Al Bukhari dan Muslim). Imam Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari memberikan penjelasan tentang hadis tersebut bahwa imam Nawawi mengatakan hadis ini dijadikan dalil wanita tidak boleh keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izinnya.

Oleh karena itu, berhukum wajib pula bagi seorang istri meminta izin kepada suami ketika hendak keluar untuk menunaikan ibadah haji. Sedangkan bagi suami disunahkan memberikan izin kepada istrinya. Bahkan di dalam kitab Fiqhun Nisa’ Fil Hajj karya Muhammad Athiyyah Khumais dikatakan

وقال الاحناف وأحمد وهو الصحيح عن الشافعي ليس للرجل منع امرأته من حجة الاسلام اي حجة الفريضة الاولى

Ulama’ Hanafi dan Ahmad serta pendapat yang shahih dari imam Syafii mengatakan bahwa seorang laki-laki tidak boleh melarang istrinya yang hendak pergi haji yang pertama. Lalu bagaimana jika seorang suami tidak mau mengizinkan istrinya untuk pergi haji?

Muhammad Athiyyah Khumais memberikan keterangan lanjutan di dalam kitabnya bahwa jika suami tidak mau memberikan izin kepada istrinya yang hendak beribadah haji, maka bagi istri boleh keluar tanpa seizin suaminya. Karena haji itu berhukum wajib, sedangkan meninggalkan perkara wajib itu adalah kemaksiatan.

Sementara itu, di dalam Islam dikenal jargon La Tha’ata li Makhluqin Fi Ma’shiatil Khalik/tidak ada ketaatan kepada makhluk (suami) di dalam hal kemasiatan kepada sang khalik (Allah). Namun dengan syarat keluarnya istri untuk haji tersebut disertai dengan mahram (meskipun pendapat madzhab Maliki dan Syafii tidak mensyaratkan adanya mahram ketika seorang wanita pergi haji), amannya perjalanan, hajinya bukan uang suaminya (yakni murni miliknya), dan suaminya sedang tidak membutuhkan (bantuan) nya.

Baca Juga :  Syarat Ibadah Haji bagi Perempuan (2)

Jika istri tidak memiliki uang untuk pergi haji, dan suami enggan memberikan nafkah untuk ongkos haji, maka ia tidak wajib menunaikan haji, karena ia statusnya tidak mampu, atau posisi suaminya sedang membutuhkan bantuannya untuk menyiapkan makanan, pakaian, tempat tinggal dan obat-obatan jika suaminya sakit atau adanya kebutuhan hidup yang bersifat primer lainnya.

Oleh karena itu, jika suami membutuhkannya semisal suami dalam kondisi sakit, atau suami memiliki keluarga yang ia tidak dapat mengurus mereka jika tidak ada istrinya, maka istri tidak wajib pergi haji sampai suaminya tidak butuh bantuannya, karena ia (istri) dianggap belum mampu menunaikan haji. Selain itu, haji adalah kewajiban yang tidak musti harus dilakukan seketika/ saat itu juga menurut mayoritas para ulama fiqh. Sehingga jika terhalang ditahun ini, maka dimungkinkan menunaikannya di tahun depan, begitu seterusnya.

Adapun jika istri pergi untuk haji yang berhukum sunnah (haji yang kedua atau seterusnya), maka bagi suami boleh mencegahnya  (tidak memberikan izin untuknya) menurut kesepakatan ulama. Namun suami tidak boleh mencegahkanya dalam haji yang dinadzari, karena haji nadzar juga berhukum wajib, seperti haji yang menjadi rukun Islam (haji pertama).

Sementara pendapat yang ashah menurut ulama Syafiiyyah, bahwa bagi suami boleh mencegah haji fardunya istri, karena melihat dari kewajiban haji yang boleh untuk ditunda. Selain itu, terdapat hadis riwayat Nafi’ dari Ibnu Umar ra. tentang seorang wanita yang memiliki suami dan ia pun memiliki harta namun suaminya tidak mengizinkannya untuk pergi haji, maka Rasulullah saw. bersabda :”

لَيْسَ لَهَا أَنْ تَنْطَلِقَ اِلاَّ بِإِذْنِ زَوْجِهَا

Tidak (boleh) baginya berangkat (haji) kecuali dengan izin suaminya. (HR. Al Daru Quthni). Namun dikatakan bahwa terdapat perawi yang meriwayatkan hadis ini bernama Muahmmad bin Mujasyi’ yang statusnya tidak diketahui. Sedangkan jumhur ulama’ menjawab bahwa hadis ini dikaitkan dengan haji yang berhukum sunnah. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

4 KOMENTAR

  1. Menurut saya mba, dipastikan dulu apakah suami mba masih mau melanjutkan pernikahan atau tidak, karena kan sudah ditinggal lebih dari dua puluh tahun.

  2. Menurut saya mba, dipastikan dulu apakah suami mba masih mau melanjutkan pernikahan atau tidak karena kan sudah ditinggal lebih dari dua puluh tahun.

  3. Saya mau bertanya,ini bukan buat saya. Melainkan buat ayah dan ibu saya. Ibu saya memiliki ibu yg sedang sakit stroke. Ibu saya sering meminta izin kepada ayah saya buat ke rumah ibunya(nenek saya). Namun ayah saya tidak mengizinkan nya,dengan alasan tidak memiliki uang. Namun tak jarang juga alasanya ayah saya yg tidak masuk di akal.
    Jadi itu gimana ya hukum nya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here