Hukum Wanita Menunaikan Ibadah Haji Satu Hari dari Kematian Suami

0
1057

BincangSyariah.Com – Setiap wanita yang ditinggal mati suaminya diharuskan melakukan iddah atau bersabar menunggu kepastian bahwa rahimnya kosong dengan cara  melahirkan isi kandungan, beberapa kali suci dari haid atau menunggu empat bulan sepuluh hari dari hari kematian suami. (Iddahnya Wanita yang Ditinggal Wafat Suaminya) Sebagaimana firman Allah SWT:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadapat diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat” (Q.S.Al-Baqarah; 234).

Dalam pertengahan ayat satu surat Al-Thalaq dijelaskan:

وَلا يَخْرُجْنَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِينَ بِفاحِشَةٍ مُبَيِّنَة

“Dan janganlah mereka ( diizini ) keluar kecuali mereka mengerjakan mengerjakan perbuatan keji yang terang” (Q.S.Al-thalaq; 1)

Nabi bersabda:

اُمْكُثِيْ فِيْ بَيْتِك حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَه

“Tinggallah di rumahmu hingga selesai masa iddahmu (H.R. Abu Daud Nasai Ibnu Majah dan Darimi serta Ibnu Hiban)“

Kewajiban iddah dan larangan keluar bagi wanita yang ditinggal meninggal suaminya telah dijelaskan oleh dalil-dalil di atas. Hanya saja sejauh mana larangan tersebut ditujukan kepada wanita yang sedang beriddah. Apakah dalam berbagai aspek kehidupan atau hanya dalam lingkup sempit. Teori Usul Fiqh memaparkan:

النَّهْيُ يَقْتَضِيْ الْفَسَادَ

“Larangan membuat tidak sahnya suatu aktivitas (ibadah)

Artinya setiap bentuk larangan memberikan kesimpulan bahwa ketidaksahan pada suatu objek itu terjadi bila faktor yang ada merupakan aspek internal pada objek tersebut. Apabila faktor tersebut adalah aspek eksternal dan tidak bersifat lazim maka objek tetap menyandang hukum sah. Hal ini seperti shalat menggunakan pakaian ghasah. Larangan shalat dalam kondisi demikian disebabkan adanya perbuatan ghasab. Perbuatan ghasab ini bukan termasuk rangkaian rukun ibadah shalat sehingga shalat tetap dihukumi sah namun berdosa (haram), sebab menggunakan pakaian orang lain tanpa izin dari pemilik (ghasab).

Baca Juga :  Kisah Masyithah, Tukang Sisir Putri Fir'aun

Hal ini pun berlaku bagi wanita yang ditinggal meninggal suaminya, dan ia hendak melaksanakan haji masih dalam masa iddah. Larangan melaksanakan haji bagi wanita beriddah disebabkan karena ia memiliki kewajiban berdiam di tempat tinggalnya. Faktor ini nampak jelas bukan sebuah rukun haji sehingga dikategorikan faktor eksternal yang bersifat tidak tetap dan memberikan dua kesimpulan. Artinya, hukum haji bagi wanita yang baru iddah satu hari setelah meninggal suaminya itu tetap sah, namun wanita itu bermaksiat. Dalam pemahaman orang awam, ibadah seperti itu tidak berpahala apapun, hanya mendapatkan status sosial sebagai seorang hajah.

Dalam kitab Ittihaf al-Sadah al-Muttaqin Bi-Syarhi Ihya Ulumiddin (juz 4; vol. 293) dijelaskan:

وَقَالَ أَصْحَابُنَا شُرِطَ فى الحَجِّ المَرْأَةِ سَوَاءٌ كَانَتْ شَابَّةً أَوْ عَجُوْزًا شَيْئَانِ  إلى أن قال  وَالثَّانِ عَدَمُ العِدَّةِ مِنْ طَلَاقٍ بَائِنٍ أَوْ رَجْعِيٍّ أَوْوَفَاةٍ حَتَّى لَوْ كَانَتْ مُعْتَدَّةً عِنْدَ خُرُوجِ أَهْلِ بَلَدِهَا لَايَجِبُ عَلَيْهَا الحَجُّ وََإِنْ حَجَّتْ وَهِيَ فى العِدَّةِ جَازَ حَجُّهَا وَكَانَتْ عَاصِيَةً

“Para murid Imam Syafii berpendapat: disyaratkan bagi perempuan dalam melaksanakan haji di antaranya yang kedua adalah tidak dalam keadaan ‘iddah thalak bain atau roj’i dan iddah wafat, sehingga andaikan wanita mengalami iddah di waktu pemberangkatan di daerahnya maka dia tidak wajib melaksanakan haji dan bila memaksakan diri berhaji dalam keadaan ‘iddah maka hajinya boleh (sah) namun dia bermaksiat (mendapatkan dosa)”.

Demikian penjelasan dari para ulama dan memberikan kesimpulan bahwa wanita yang ditinggal meninggal suaminya tidak boleh keluar dari tempat tinggalnya untuk menunaikan ibadah haji, sebab terhalang oleh kewajiban iddah berdiam di tempat tinggal. Namun bila dia memaksakan diri menunaikan haji dalam kondisi tersebut maka ibadah hajinya dianggap sah dan dia mendapatkan dosa sebab keluar dari rumah meninggalkan kewajiban iddah.

Baca Juga :  Masa Iddah Bagi Wanita Menopause

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here