Hukum Wanita Bekerja Tanpa Izin Suami

7
10947

BincangSyariah.Com – Di dunia yang semakin modern ini laki-laki dan wanita memiliki kesempatan yang sama baik dalam ruang politik, akses pendidikan maupun karir pekerjaan. Sehingga, banyak kita jumpai wanita yang telah menjadi istri, bahkan seorang ibu masih berkarir di luar rumah.

Padahal bagi seorang wanita telah ditanggung nafkahnya oleh suaminya. Lalu bagaimana hukumnya wanita yang bekerja di luar rumah dengan tanpa izin suaminya?
Permasalahan wanita bekerja di luar rumah dengan tanpa izin suami tersebut memiliki beberapa implikasi hukum secara rinci sebagaimana berikut:

Pertama, jika bekerjanya seorang wanita itu telah menjadi syarat sebelum terjadinya jalinan ikatan pernikahan, dan suami telah rida dengan syarat tersebut, maka suami tidak boleh melanggar syarat yang diajukan. Artinya istri tetap boleh keluar untuk bekerja dengan tanpa izin suami.

Kedua, jika pekerjaannya itu telah dilakukan lebih dahulu sebelum adanya akad nikah, dan ia masih memiliki ikatan kontrak dengan pihak kantor/tempatnya bekerja, maka ia boleh keluar rumah untuk bekerja dengan tanpa izin suami.
Dan suami tidak memiliki hak untuk melarangnya, karena sahnya akad ijarah yang dilakukan oleh istri dengan pihak kantor.

Tetapi bolehnya keluar tanpa izin suami tersebut hanya sebatas sampai habis masa kontrak dengan pihak kantor. Dan jika telah habis masa kontraknya, maka ia tetap harus meminta izin kepada suami untuk bekerja di luar rumah.

Ketiga, jika wanita tersebut ingin bekerja setelah akad nikah, dan sebelumnya belum ada persyaratan dengan suami bahwa ia akan bekerja setelah menikah, maka ia tidak boleh keluar rumah untuk bekerja kecuali dengan izin suami.

Sehingga jika suami tidak mengizinkan, maka ia harus mematuhinya. Dan jika ia membangkang, yakni tetap keluar rumah untuk bekerja dengan tanpa izin suaminya, maka hal demikian itu telah dianggap nusyuz (pembangkangan).

Baca Juga :  Nafisah: Sosok Guru Perempuan Imam Syafii

Gugurlah haknya untuk mendapatkan nafkah dari suami dan iapun dianggap berdosa, dan permasalahan ini jika tidak dapat diselesaikan secara keluarga hendaknya mereka (suami dan istri) mencari solusi kepada hakim. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

[sumber: http://dar-alifta.org]

7 KOMENTAR

  1. Jika sya ijinkan krn terpaksa bagaimana bu atau pk karena kalo sy tidak ijinkan dia akan ceraikan saya dan mertua saya sampai sekarangpun selalu membenci sy dan dia selalu membujuk istri saya untuk kembali ke suaminya yang dlu,dan mantan suaminya pun sering datang temui istri sy,minta solusi bu atau pk jln terbaik untuk mslh seperti ini

    • Jika istri saya nekad bekerja tanpa izin saya tapi tetap meminta nafkah bagaimana itu pak/ Bu. Karena selama ini dia mau pergi kemana pun bersama teman2 ya tidak pernah izin. Bahkan untuk fasilitas kendaraan yg dia gunakan pun sebenarnya adalah milik saya sebelum menikah. Saya sudah pernah mengembalikan dia ke ortunya. Tapi dia sendiri yg kembali ke rumah saya. Akhirnya saya terima kembali karena kasihan lihat anak2 saya. Tapi justru skrg malah sikapnya selalu merendahkan tidak menghargai dan sepertinya sudah membenci saya. Tapi tetap menuntut ini itu dgn alasan kebutuhan anak2. Saya sudah habis kesabaran. Dan apabila saya proses utk bercerai bagaimana cara menjelaskan ke anak2 saya karena mereka masih kecil dan belum mengerti.

  2. Saya terasa dzalimie oleh istri,mertua alias keluarga istri..2 anak cewek hsl pernikaan istri saya kini jadi korban hrs hdp dlm kebohongan yg dtanamkan mertua perempuan saya…setiap saya tanya ama anak2 masalah ibu ngak tahu dtlp ngak ama ibu nya…sial nya lg saya ngak punya nrm hp istri karna hp sering hilang , 3x nganti amak mertua ada dbilang ngak ada..adek ipar jwbnya sama ..pd hal hpr 3thn istri jd tki ngak perna saya tanya krm ama mertu,bahkan ama istri ..keperluan anak2 msh sy tangung ..lahkah apa saya tempuh utk masalah ini…

  3. Saya merasa suami mengaggap saya beban setelah saya tidak bekerja, apalagi sekarang suami wiraswasta dan penghasilan masih tdk menentu. Saya tidk tahu harus apa untuk membantu nya, apalagi umur saya sudah tidak muda lagi. Seperti nya suami membandingkan saya dengan istri istri di luar sana yang bisa membantu suami dengan berdagang online dan sukses. Seperti suami saya suka dengan istri yang aktif, sedangkan saya pasif. Apa saya salah krn saya lbh suka pekerjaan rumah tangga… Sekarang saya mencoba melamar kerja lagi, siapa tau

  4. Saya baru saja menikah, tiba-tiba orangtua saya memaksa saya untuk bekerja dan saya tidak kuasa untuk menolaknya. sedangkan suami saya dengan jelas melarang/tidak ikhlas saya bekerja. Saya maunya mengikuti kata suami, tapi orangtua tidak mau mengerti.
    Mohon pencerahannya.

  5. Saya sebenarnya tdk ingin bekerja krn suami memang tdk mengijinkan. Tp dilain sisi suami jg kurang bertanggung jawab thd kebutuhan keluarga. Dan saya harus pontang panting usaha sendiri menutupi kekurangan. Disaat kesempatan ad utk.bekerja dan saya brfikir secara realita untuk mentupi semua kekurangan tp suami ttp tdk mengijinkan, apakah saya dianggap nusyuz juga mengingat dia pum sbgai kepala.keluarga tdk bisa memenuhi tanggung jawabnya sbgai kepala keluarga. Mohon pencerahannya. Terimakasih

  6. Sekarang udah punya anak dan masi bayi. Tapi ibu sy selalu menyuruh saya utk kerja. Sedangkang suami sama sekali tidak mengizinkan. Setiap nanya boleh ngga, suami jwb boleh tpi dgn berat hati, dan sy juga ragu utk kerja keluar rumah. Kalo saya lebih nurutin suami salah gk ya ??

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here