Hukum Suami Meninggalkan Istri Tidur Sendiri

0
299

BincangSyariah.Com – Menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah pasti menjadi dambaan dan keharmonisan setiap pasangan suami istri yang menempuh bahtera pernikahan. Keharmonisan itu dapat diwujudkan di antaranya ketidakbolehan suami meninggalkan istri tidur sendiri tanpa sebab. Konsep indah tersebut tentu saja hanya akan terjadi apabila masing-masing pihak saling mengerti dan menjalankan dengan ikhlas apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Bagi istri, ia wajib untuk taat kepada suami yang menjadi imamnya, dan bagi suami, ia wajib memberikan nafkah kepada istrinya baik berupa nafkah lahir ataupun nafkah batin. Keseimbangan hak dan kewajiban suami istri tersebut tertuang misalnya dalam QS. Al-Baqarah: 228:

وَلَهُنَّ مِثْلُ ٱلَّذِى عَلَيْهِنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ

wa lahunna miṡlullażī ‘alaihinna bil-ma’rụfi

Artinya: “…Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf…

Secara harfiah, nafkah batin bisa kita pahami sebagai kebahagiaan dan pemenuhan kebutuhan biologis istri. Tentunya hal ini tidak bisa dipahami hanya sebatas sebagai aktifitas seksual saja. Hal lain seperti pemberian perhatian dan kepercayaan, perlindungan serta kehadiran juga termasuk ke dalam kategori pemenuhan kebutuhan nafkah batin ini. Contoh paling sederhana ialah tidur bersama antara suami dan istri di dalam satu kamar dan satu ranjang.

Ironisnya, seiring perkembangan waktu, biasanya aka nada muncul rasa risih atau bahkan bosan pada diri seorang suami. Awalnya biasanya karena kehadiran anak yang selalu ingin tidur bersama ibunya sehingga membuat suami istri tidur terpisah dan hanya sesekali saja mereka tidur bersama. Sebenarnya, bagaimana hukum Islam menyikapi fenomena suami yang meninggalkan istrinya tidur sendiri?

Sebagaimana telah kita sepakati di awal, bahwa tidur bersama dalam satu kamar dan satu ranjang antara suami dan istri merupakan bagian daripada nafkah batin yang mesti diberikan oleh suami kepada istri. Terkait masalah nafkah batin ini, sebagaimana nafkah lahir, hal itu merupakan hak istri sehingga pilihannya ada pada diri istri. Artinya ia berhak menuntut apabila ia meningingkannya. Namun sebaliknya, apabila ternyata sang istri tidak mempermasalahkan hal tersebut dalam arti merelakannya, maka tidak masalah.

Di masa Rasulullah pun hal ini pernah terjadi, yakni ketika istri Rasulullah yang tertua, yakni Saudah binti Zam’ah merelakan malam gilirannya diberikan untuk istri RAsulullah yang lain, yakni Aisyah binti Abu Bakar. Saling merelakan seperti ini diatur dalam firman Allah QS. An-Nisa: 128:

وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Wa inimra`atun khāfat mim ba’lihā nusyụzan au i’rāḍan fa lā junāḥa ‘alaihimā ay yuṣliḥā bainahumā ṣul-ḥā, waṣ-ṣul-ḥu khaīr, wa uḥḍiratil-anfususy-syuḥḥ, wa in tuḥsinụ wa tattaqụ fa innallāha kāna bimā ta’malụna khabīrā

Artinya: “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Menyikapi ayat di atas, para ahli tafsir sebagaimana tertera dalam kitab Tafsir Jalalain, hal. 124 berpendapat bahwa seorang wanita boleh mengizinkan suaminya untuk tidak menunaikan hanya sebagian kewajibannya saja kepada istrinya, dengan syarat, dia bisa tetap menjadi istrinya (tidak diceraikan). Bentuknya, bisa dengan cara si istri rela dengan nafkah yang sedikit, , atau (suami) mengurangi intensitas hubungan dengan dirinya.”

Kesimpulannya, hukum suami meninggalkan istri tidur sendiri itu dikembalikan kepada sang istri karena hal itu merupakan bagian dari nafkah batin yang menjadi hak istri. jika Istri tidak berkenan maka ia boleh menuntut, dan jika istri merelakannya, maka tidak ada masalah. Wallahu a’lam bi shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here