BincangSyariah.Com – Idah adalah masa menunggunya/ berkabungnya perempuan selama empat bulan sepuluh hari ketika ditinggal mati suaminya atau tiga kali sucian ketika dicerai suaminya. Selama dalam masa idah, ia tidak boleh menikah lagi kecuali setelah habis masa idahnya. Lalu, selama masa idah tersebut apakah boleh baginya keluar dari rumah atau pergi untuk melaksanakan haji? Hudzail Usman Mahmud Abu Khadir di dalam bukunya yang berjudul Ahkamu Hajjin Nisa’ Fil Fiqh Al Islami mengatakan bahwa ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Pendapat pertama dari kalangan ulama Hanafiyyah mengatakan bahwa haram keluar rumah bagi perempuan yang sedang melaksanakan masa idah baik karena ditinggal wafat suaminya, atau ditalak, baik talak raj’i (talak satu atau dua dan masih bisa rujuk dengan istrinya) atau talak bain (talak tiga, dan tidak bisa rujuk dengan istri kecuali istri telah menikah dengan orang lain), dan baik dari pernikahan yang sah atau tidak. Maka perempuan tersebut menurut ulama Hanafiyyah tidak boleh keluar rumah selama masa idah, kecuali jika terdapat darurat/bahaya, seperti ia harus keluar karena takut tertimpa bangunan rumahnya yang ambruk. Adapun dasar mereka adalah firman Allah Swt. “Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.” (QS. At Talak; 1).

Pendapat kedua dari kalangan ulama Malikiyyah, dan Syafiiyyah. Mereka berpendapat bahwa perempuan yang sedang melaksanakan idah, baik karena ditinggal wafat suaminya atau sebab ditalak raj’i maupun bain boleh keluar rumah di siang hari untuk melakukan keperluannya dan ia wajib bermalam di rumahnya. Tetapi Imam Syafii mengecualikan kepada perempuan yang ditalak raj’i suaminya, yakni ia tetap harus izin mantan suaminya untuk keluar rumah, karena perempuan yang ditalak raj’i itu masih dihukumi istri (artinya bagi suami masih berhak untuk rujuk/kembali dengan istrinya ketika masa idah). Adapun dasar dari pendapat kedua ini adalah:

  1. Dari Mujahid dia berkata, “Beberapa orang sahabat pada waktu perang Uhud gugur sebagai syuhada, lalu para istri syuhada itu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami merasa kesepian pada malam hari, kami pun bermalam di rumah salah seorang dari kami, dan apabila pagi hari kami segera pulang ke rumah kami masing-masing. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bercengkramalah kalian di rumah salah seorang di antara kalian hingga ketika kalian hendak tidur, maka kembalilah ke rumah kalian masing-masing“. (HR. Albaihaqi)
  2. Dari Jabir bin Abdillah, dia berkata: “Bibikku telah dicerai sebanyak tiga kali (talak bain), kemudian ia keluar rumah untuk menebang pohon kurma miliknya, lalu seorang laki-laki bertemu dengannya dan mencegahnya. Bibikku pun datang kepada Nabi Saw.dan menceritakan kejadian yang telah dialaminya. Nabi Saw. bersabda: “Keluarlah, tebanglah pohon kurmamu itu, semoga engkau dapat bersedekah darinya, atau berbuat kebajikan lainnya.” (HR. Alhakim).
Baca Juga :  Haji Mabrur: Alternatif Jihad bagi Perempuan

Pendapat ketiga, dari salah satu pendapatnya ulama Hanabilah. Mereka mengatakan bahwa perempuan yang sedang menjalankan masa idah karena ditinggal wafat suaminya boleh keluar rumah untuk melakukan aktifitas yang diperlukannya, tetapi tidak boleh keluar bagi perempuan yang idah karena dicerai suaminya. Hujjah mereka adalah hadis riwayat Mujahid sebagaimana di atas.

Pendapat keempat, dari salah satu pendapat lainnya ulama Hanabilah. Menurut mereka perempuan yang sedang melaksanakan masa idah karena ditinggal wafat suaminya tidak boleh keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat. Dasar mereka adalah sabda Nabi Saw. kepada Furai’ah binti Malik bin Sinan: “Diamlah di rumahmu sampai selesai masa yang diwajibkan atasmu.” (HR. Abu Daud). Sedangkan bagi perempuan yang sedang menjalankan masa idah karena dicerai suaminya boleh keluar rumah, dan ia tidak wajib berada di rumahnya, seperti wanita pada umumnya. Menurut mereka tidak ada dalil yang mencegah perempuan yang telah dicerai suaminya untuk keluar rumah. Adapun bagi perempuan yang ditalak raj’i, maka ia harus izin suaminya karena ia masih dihukumi istri, yakni suami boleh merujuknya kembali ketika dalam masa idah, sebagaimana Allah telah berfirman“Dan suami-suami berhak merujuknya dalam masa menanti.” (QS. Al Baqarah: 228).

Berdasarkan perbedaan pendapat di kalangan ulama di atas, Hudzail Usman Mahmud Abu Khadir memberikan tarjihnya sekaligus kesimpulan sebagaimana berikut. Bagi perempuan yang sedang melaksanakan idah karena ditinggal wafat suaminya, maka ia berdiam diri di dalam rumahnya, dan tidak keluar rumah kecuali karena darurat. Sementara itu, bagi perempuan yang dicerai/ditalak raj’i, maka ia masih dihukumi “istri”, yakni ia tidak boleh keluar kecuali dengan izin suaminya. Adapun perempuan yang ditalak bain (talak 3), maka ia boleh keluar rumah untuk melakukan hajat/keperluannya.

Baca Juga :  Ummu Athiyyah, Sahabat Perempuan Penyedia Logistik Peperangan

Sementara terkait keluarnya perempuan yang sedang melaksanakan idah untuk ibadah haji, maka bagi perempuan yang idah karena ditalak raj’i (talak satu atau dua) suaminya, maka ia boleh keluar untuk melaksanakan ibadah haji dalam masa idahnya, baik mantan suaminya mengizinkannya atau tidak. Adapun bagi perempuan yang idahnya karena ditalak bain, maka ia juga boleh keluar untuk menunaikan haji, karena sejatinya ia boleh keluar untuk suatu keperluan, dan ibadah haji adalah termasuk darurat, maka keluarnya untuk melaksanakan ibadah haji sangat boleh. Adapun bagi perempuan yang idahnya karena ditinggal wafat suaminya, maka jika suaminya wafat sebelum keluar ibadah haji, maka hendaknya ia tidak keluar dan menetap di rumah karena ia wajib menyempurnakan masa idahnya. Dan idah tidak anggap/tidak dihitung sebab ia keluar untuk melaksanakan haji, oleh karena itu idah lebih baik baginya daripada keluar untuk ibadah haji.

Namun, menurut Hudzail Usman di zaman modern sekarang kondisinya telah berbeda, oleh karena itu ia yang berkebangsaan Palestina mengikuti Majelis Fatwa Palestina yang mengatakan boleh bagi perempuan yang sedang menjalankan masa idah karena ditinggal wafat suaminya untuk melaksanakan ibadah haji wajib. Di mana salah satu hujjahnya adalah melihat adanya darurat dan terdapat suatu kaidah fiqh yang mengatakan “falwajib la yutraku illa liwajib”, perkara wajib tidak boleh ditinggalkan kecuali untuk perkara wajib. Bahkan ibadah haji lebih wajib hukumnya, ia pun termasuk dari rukun Islam. Dan ibadah haji pula tidak menentang maksud dari esensi idah, yakni masa berkabung atas meninggalnya suami. Artinya istri tetap menjaga etika selama menunaikan ibadah haji. Wa Allahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here